Jumat, April 02, 2010

Kebijakan Pembangunan Abaikan Warga Miskin

Lima tahun terakhir, wajah Makassar berubah menjadi kota yang besar sebagai gerbang utama Kawasan Timur Indonesia. Pembangunan pun digenjot dimana-mana. Tapi, peran kaum miskin kota semakin terabaikan.

DAENG Mari (80 tahun) mempersiapkan peralatannya siang itu. Sebuah baskom kecil dan keranjang plastik. Ia akan menggunakannya untuk mencari kerang di pesisir pantai Losari. “Ya ini pekerjaan saya nak. Hidup dari sini saja,” katanya.
Sebelum pemerintah membuka jalur Jalan Metro Tanjung Bunga dan memindahkan pedagang kaki lima dipinggiran Losari, Daeng Mira tak begitu kesulitan mendapatkan kerang. Dia hanya menghabiskan waktu dari pagi hingga siang hari dan mengumpulkan sekitar lima kaleng mentega ukuran 2 kg.

Tapi sekarang, semua sudah berubah. Untuk mendapatkan setengah kaleng mentega kerang, dia harus mengumpulkan tenaga dan menahan dingin sejak pukul 07.00 hingga beduk azan magrib megumandang. Bahkan, tak jarang dia mencari kerang pada malam hari ketika air surut.

Beberapa pendapat menyatakan, berkurangnya kerang di pesisir itu, karena pembangunan dan gedung-gedung baru mulai merambah daerah pesisir. Tempat berkembang biak kerang sudah ditimbun. Pada tahun 2006 pembangunan super mall GTC di ujung jalan membuka peluang usaha. Kemudian tahun 2007 pembangunan Triple C (Celebes Convention Center) dan tahun 2009 sebuah pusat permainan dalam ruangan yang paling canggih dan terluas di Indonesia Trans Studio sudah berdiri megah. Dan saat ini pembangunan Center Point of Indonesia (CPI) yang menghabiskan anggaran milyaran rupiah sementara dalam tahap pengerjaan. Di CPI itu, rencanya akan dibangun istana kepresidenan dan museum.

Wilayah pesisir pun semakin mengecil. Meski megah, ternyata keluarga-keluarga yang bermukim di daerah pesisir itu tak menikmati hasilnya. Malah mereka semakin terpojok. Pada Sabtu pekan lalu (14/9), ketika mengunjungi rumah Daeng Mira yang kecil , dinding tripleks yang tertambal tak keruan. Sebuah televisi ukuran 14 inci dan genangan air mati yang berada di sampingnya. Dia mencoba mengingat usahanya puluhan tahun silam.

Menurut dia, bila pemerintah ingin mempercantik keindahan kota bukan berarti mereka harus tersingkir. Penghasilan mereka tak besar, paling besar nominal kerang yang mereka jual hanya Rp 15.000, bila apes tak ada yang laku. Padahal ketahanan kerang bila sudah diangkut ke darat hanya mampu dua hari. “Sudah itu semua busuk,” katanya.

Tahun lalu, surat kabar di Makassar menurunkan laporan tentang bahaya mengkonsumsi kerang di daerah itu. Menurut laporan itu, kandungan zat kimia terlalu tinggi dan akan merusak tubuh manusia bila di konsumsi secara terus menerus. Alhasil, penjual kerang pun kian tercekik. Tak ada pemasukan.

“Saya bilang, sejak kecil dan menanjak tua saya makan kerang di sini tapi tak ada yang salah. Saya tak mati, anak saya tumbuh besar, cucu, hingga cicit saya juga masih sehat,” ujar Mira.

Pencari kerang lainnya, Ramla (36) mengalami nasib sama. Beberapa tahun lalu, ketika hendak mencari kerang dia hanya berjalan sekian meter dan menuruni pesisir. Tapi, sekarang semua harus di tempuh berjalan jauh. Surga kerang yang menjadi andalan keluarga sudah dipagari plat seng berwarna biru. Pemerintah akan menimbun wilayah itu dan melarang warga sekitar mencari kerang. “Saya tak tahu akan dibangunkan apa. Tapi katanya bulan enam (Juli 2010, red) nanti sudah mulai di timbun,” katanya.

Ramla tak tahu urusan pemerintah dan tak mengerti keadaan pemerintahan sekarang. Dia hanya para pencari kerang yang mengais rejeki di wilayah pesisir tetap dibiarkan. “Segala macam aturan diberlakukan dan dipertegas untuk kaum miskin,” katanya. “Tahun lalu, kalau kita menjual kerang di pinggir jalan, maka petugas keamanan dari Mall GTC akan membongkar dan menendang jualan kami,” lanjutnya.

“Sekarang kami, hanya menjual di depan rumah seperti ini. Itu pun sembunyi-sembunyi,” ujarnya lagi.

Walikota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin, beberapa hari setelah kunjungan saya itu, mengatakan larangan mencari kerang di pesisir Losari tidak benar. Bila, lahan mencari kerang semakin kecil itu benar, “ya itulah konsekuensi pembangunan,” katanya.

Menurut Ilham, pembangunan merupakan hal yang pasti untuk menuju kota yang maju. “Saya kira pencari kerang itu, bisa mencari di tempat lain. Ingatlah, pesisir Losari itu bukan hanya di 900 meter persegi itu, tapi panjangnya mencapai 35 kilometer. Ada banyak tempat,” lanjutnya.

Ilham tak ingin berdebat panjang akan keberadaan para pencari kerang. Dia hanya menginginkan pembangunan berjalan dengan baik. Bahkan dari hasil penelitian para akademisi di Universitas Hasanuddin yang dia kutip, menytakan spesimen kerang memang berfungsi mengisap beberapa unsur racun. “Saya kira sudah benar, kalau kita tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi kerang di wilayah itu,” ujarnya.

Tak hanya itu, menurut Ilham, kurangnya populasi kerang yang ada di pesisir Losari saat ini karena tingginya sedimentasi dan polusi yang tercemar ke bibir pantai. Termasuk penumpukan sampah yang dibuang secara sengaja oleh masyarakat pesisir. “Tapi sirkulasi air di tempat itu masih bagus,” tegasnya.

Menurutnya, bila sirkulasi air sudah tak berganti itu yang patut diperhatikan. Ilham lupa, di wilayah pesisir tempat ratusan warga menggantungkan hidup dari mencari kerang sudah tidak baik. Hanya ada satu pintu kecil dari jembatan yang menghubungkan wilayah pemukiman. Warna air sudah tidak jernih lagi, tapi coklat kehitaman.

Kepala Bidang Konservasi dan pengendalian Pencemaran Balai Lingkungan Hidup Daerah Sulawesi Selatan, Andi Hasbi, mengatakan kondisi air di pesisir Losari memang sudah tercemar dalam skala berat. Dia mengatakan tingginya proses pencemaran itu karena sedimentasi dari sungai Jeneberang yang terbawa ke laut dan bertumpuk di pesisir Losari itu. Selain itu, tingginya timbal mengakibatkan air di pesisir Losari sangat tak layak. “Kandungan logamnya sangat tinggi,” katanya.

Pemerintah mulai lupa, bila yang membuat penumpukan dan sedimentasi yang tinggi di pesisir Losari itu karena tidak ada upaya pengerukan. Sepanjang tahun, kondisi pesisir semakin buruk. Bau amis dan air tergenang membuat udara semakin gerah. Pemerintah membuat rumah susun untuk warga miskin. Namun, nasib Deng Mira dan Ramla masih seperti dulu. Tinggal di sebuah gubuk.

Daeng Mira, mencari kerang sejak tahun 1965. Suaminya dahulu adalah nelayan, tapi sudah meninggal. Kini dia membuat sebuah rumah gubuk di jalan masuk rumah susun berdinding tembok yang berjarak sekian meter dari tempatnya. “Tangan saya sakit, keram dan tak meraskan apa-apa. Tapi saya harus mencari kerang. Mudah-mudahan dapat sedikit dan bisa beli kopi,” katanya.

Seperti kebanyakan masyarakat di Bugis dan Makassar kopi merupakan minuman yang dianggap selalu membuat diri merasa kuat.

Ramla sudah menyiram kerang dan kepiting yang dipajangnya di depan rumah. Dia melakukannya setiap kali melihat binatang laut itu sudah kekeringan. Namun, kepiting dan kerang itu tak didapatkannya dari pesisir Losari, melainkan dari pulau yang jauh. Dia membelinya di tempat pelelangan ikan Paotere dengan mengambil kredit, setiap hari bunganya mencapai Rp5.000. “Saya membeli kepiting itu kemarin, tapi sampai sekarang belum ada yang laku, malah sudah mati dua.”

Dia juga mendengar ketika pembangunan dan penimbunan beberapa proyek ke depan, pemerintah akan memberikan kompensasi modal Rp 1 juta per orang untuk berhenti menjual di pinggir jalan dan mencari usaha lain.

Kini ratusan pencari kerang itu hanya akan menunggu nasib mereka. Bila CPI sudah kelar maka pesisir Losari tak akan bisa lagi di tempati mencari kerang. “Kalau sudah begitu, kami berharap ada tempat mencari kerang lagi atau menyiapkan tempat menjual yang layak, karena ini hidup kami,” kata Ramla. (Eko Rusdianto)

0 comments:

Posting Komentar