![]() |
Makan Kapurung bersama keluarga di halaman rumah. Foto: Asti |
Senin, Mei 02, 2022
Senin, Februari 21, 2022
Elang, Sudah Tidur Sendiri
Sabtu, Februari 19, 2022
Bagaimana selayaknya memperkarakan hasil penelitian. Perlukah mempidanakannya?
Rabu, Februari 16, 2022
Mengenal Gua Sebagai Pintu Air di Kawasan Karst
Irwandi Maulana, adalah anggota Komunitas Pencinta Alam (Kompala) Unversitas Fajar Makassar. Dia mahasiswa jurusan Hubungan Internasional dan memiliki minat pada aktivitas penelusuran gua. Pada Senin, 16 Agustus 2021, saat tim mereka menelusuri kampung Lembang Tallasa, Kecamatan Samanggi, Kabupaten Maros, dia menjadi orang pertama menuruni sebuah gua vertikal.
Mulut gua, tak begitu lebar. Melihatnya dari permukaan, dasar gua seperti lubang hitam yang tidak menampakkan dasar. Di sekitaran mulutnya, beberapa pohon telah tumbang, dengan tanah yang cekung sebagai jalur air. Hawanya begitu sejuk. Batang-batang pohon yang berdiri di dekatnya terasa dingin saat disentuh.
Jika hujan deras, air dari permukaan akan meluncur deras memasuki lubang gua itu. Air itu akan jatuh dengan kedalaman 46 meter. Dasar guanya, dipenuhi tanah yang gembur dan kemungkinan suatu waktu akan kembali runtuh. Ini seperti pintu air menuju perut karst.
Puluhan tahun lalu, sejak anggota Asosiasi Speleologi Pyrénéene (APS),Prancis tahun 1985, menelusuri gua-gua dalam bentang alam kawasan karst maros Pangkep ini. Mereka menulis laporan lapangan dan menyatakan sebagai sebuah bentang alam yang unik dan khas dengan tower karst, koridor karst yang panjang, serta gua-gua dengan ukuran besar dan terpanjang di Asia tenggara.
Sementara itu, laporan akhir tahun 2016 Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung mencatat tidak kurang 257 gua sudah ditemukan di kawasan karst yang ada di TN Bantimurung Bulusaraung yang terdiri dari 216 gua alam dan 41 gua prasejarah. Catatan lain menyebutkan dalam luasan 50 km2 terdapat 14 gua yang memiliki kedalaman lebih dari 100 meter. Salah satunya adalah Leang Pute sebagai gua terdalam di Indonesia untuk pitch tunggal (single pitch) yang mencapai 263 meter di bawah permukaan tanah.
Dan gua terpanjang di Indonesia juga berada di kawasan ini, yakni sistem gua Salukang Kallang yang panjangnya mencapai 12.263 meter. Gua ini juga dinyatakan sebagai gua dengan tingkat keragaman hayati terbanyak di kawasan tropis dunia.
Tahun 2017 ini, Taman Nasional kembali menambahkan data gua sebanyak 193 gua gua horizontal sebanyak 160 gua dan 17 gua vertikal, serta terdapat potensi gua horizontal yang juga memiliki gua vertikal dalam satu sistem sebanyak 15 gua.
Ratusan gua ini, menjadi sangat penting sebagai bagian dari sistem penyimpanan dan penyaluran aliran air. Di bawah perut kawasan karst ini terdapat sungai bawah tanah yang, dan di tebing-tebingnya muncu beberapa mata air yang dapat digunakan sebagai sumber air penduduk sekitar serta fauna lainnya.
Kawasan karst ini mencapai 46.200 ha. Dimana 22.800 ha merupakan kawasanTaman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung. “Tidak bisa selesai. Ini gudang pengetahuan dan petualangan apalagi mengenai gua di Indonesia,” kata Irwandi Maulana.
Ekspedisi menembus kedalaman 1000 meter
Nelfan adalah Ketua Kompala Universitas Fajar. Dia juga menjad ketua tim dalam memastikan semua anggota ekspedisi menelusur dengan aman. Sebelum para penjelajah menuruni perut bumi, dia memasang tali dengan ikatan yang kuat. Memeriksa simpul dan memastikan caribiner terpasang dengan tepat.
“Ini hari ketiga dalam ekspedisi susur gua
khusus vertikal. Kami sudah mendapat 141 meter di bawah permukaan tanah.
Targetnya adalah 1000 meter,” katanya.
Untuk apa tim ini melakukan itu? “Untuk mengenalkan gua. Termasuk mengenal ekosistem gua. Selama ini, secara akses, gua horisontal lah yang mudah dijangkau. Nantinya, teman-teman atau para penelusur, akan lebih mudah memilih gua, karena kami sudah petakan,” kata Nelfan.
Peneliti Gua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr. Cahyo Rahmadi, penulusuran gua vertikal menjadi sangat penting untuk lebih mengenal keragaman hayati. “Selama ini, kita tak bisa membandingkan bagaimana biota atau keragaman hayati, antara gua horisontal dan gua vertikal. Karena penelitian untuk gua vertikal masih sangat sedikit,” katanya.
Secara khusus, gua memiliki ekosistem mikro sendiri yang sangat berguna bagi ilmu pengetahuan. Sementara dalam skala luas, gua ibarat sebagai penghubung sistem jaringan air dalam kawasan karst. “Jadi jika gua rusak, atau tertutup, maka itu akan berpengaruh pada sistem hidrologi yang menyambungkannya. Atau jika gua itu menjadi tempat kelelawar, maka secara ekologi akan sangat berdampak pada wilayah sekitar,” lanjut Cahyo.
Di kawasan wisata Rammang-rammang, desa Salenreng, Maros, terdapat gua yang dihuni kelelawar. Kotorannya (feses) yang mengendap di lantai gua menjadi sumber pupuk alami yang sangat penting bari para petani di sekitaran gua.
Di sekitaran kawasan karst Maros Pangkep, gua tidak hanya menjadi pelindung bagi beberapa spesies endemik, namun sangat erat dengan jejak kebudayaan. Gua-gua di sepanjang kawasan ini merupakan situs purbakala yang dindingnya terdapat lukisan tertua dunia pada 45.500 tahun lalu.
“Tak banyak yang menyenangi gua sebagai tempat belajar. Padahal nenek moyang kita dulu adalah penjelajah gua juga. Bukan hanya soal penjelajah laut,” kata Fardi, anggota eskspedisi lainnya.
Jumat, Februari 11, 2022
Tiga Buku Reportase
Selasa, Juni 08, 2021
Perihal Kematian yang Memukau
Penguburan tebing di wilayah Lemo, Toraja. |
Pada usiaku yang ke tiga puluh tujuh tahun, saya mengingat Jufri Buape yang beberapa tahun lalu meninggal dunia. Ketika saya jumpa dengannya, di ruangan depan rumahnya yang sederhana di wilayah Takalar. Usianya sudah renta, sebagian tubuh yang mati karena serangan stroke.
Kepalanya sudah botak di bagian depan, hingga jidatnya
terlihat lebar. Dia menggunakan kemeja, dengan dua kancing bagian atasnya tak
terpasang. Jufri Buape adalah sekretaris Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra)
organisasi sayap Partai Komunis Indonesia (PKI). Partai yang sangat sangat
sangat terlarang di Indonesia. Partai yang kemudian membuat anggotanya atau
simpatisannya, atau bahkan orang yang dituduh pernah berhubungan dengannnya,
meregang nyawa, mati di antara rerumputan, di dalam hutan, di pinggir jalan,
atau di liang-liang serampangan di hampir seluruh pelosok negeri ini.
Menggunakan satu tangannya yang bergetar hebat, Jufri
berusaha membuka album fotonya. Ada beberapa foto kawannya berdiri di depan
bangunan camp tahanan Moncongloe. “Dia orang baik,” katanya saat menyebut nama
kawannya.
“Dia suka tertawa,”
“Kalau ini suka menulis,”
Jufri seperti mengoceh. Beberapa jam bertemu dan kemudian
berbagi kabar di telefon. Dan ketika seorang kerabatnya memberi kabar, jika dia
meninggal dunia. Meninggalkan harapannya, untuk melihat semua keadilan
berjalan. “Entah kapan semua ini berakhir,” kata Jufri.
PADA USIAKU yang
bilamana, mendapatkan umur panjang, tiga tahun selanjutnya saya akan berusia
empat puluh tahun. Usia ketika saya
melakukan perjalanan ke Toraja, lalu bertemu seorang sahabat berusia empat
puluh tiga tahun. Dia perempuan yang ramah, selalu mengajak makan, dan suka
bercanda.
Namanya Manaek Bara’ Allo. Kak Mona, begitu saya menyapanya.
Dia ibu dari dua anak lelaki. Menikah berbeda agama dengan suaminya, yang juga
seorang Toraja. Jumpa dengan Kak Mona, kami selalu cerita tentang anak. Tentang
menjadi orang tua. Lalu entah kenapa kami bicara tentang kematian.
Apakah ini sudah saatnya bicara tentang kematian dan amanah?
Entahlah. Tapi perihal kematian, adalah perihal kehilangan yang dalam. Perihal
separuh jiwa dan kenangan yang pelan-pelan tergerus menghilang.
Perihal-perihal kematian ini, pertama kali mendatangi tahun
2010, ketika nenek saya meninggal dunia. Saat keranda meninggalkan halaman
rumah, itulah saat kehilangan besar yang mendekap. Rasanya seperti sesak.
Dan berjalan waktu, setiap memikirkan kematian, saya tak
bisa tidur. Bagaimana rasanya menjadi jasad dan bagaimana meninggalkan
orang-orang yang kita kasihi. Akal ku belum bisa menjangkaunya dan masih
meraba-raba.
Di kedai kopi, Djoeng Coffee Roastery di Rantepao, saya dan
Kak Mona saling berhadapan membagi kisah. Sebagai seorang muslim dia ingin
dikuburkan dengan prosesi yang hikmat. Di masukkan dalam liang tanah dan memiliki
nisan. Tapi suaminya, yang seorang penganut Kristen, kelak akan dimasukkan
dalam Patane, tempat pemakaman orang Toraja. “Jadi itu bagaimana mi saya
kasihan, pisahma sama dia,” kata Mona.
“Kan bisa dalam Patane, tidak di lantai. Kak Mona di kubur
di bawah, suami di atas,”
“Tapi ada lagi bilang kalau kuburan orang islam, tidak boleh
diatapi. Kenapa kah itu semua banyak sekali aturan,”
“Lah kuburan Sultan Hasanuddin dan kuburan orang islam di sekitar
Arab juga diatap ji nah,”
“itu mi deh.”
Mona, lalu menatap saya. Matanya terlihat berair. Sepertinya
ini sesuatu yang serius. Tapi Mona, adalah perempuan yang mampu mengelabui
kesedihannya dengan beberapa candaan. Jika kelak, katanya, mereka meninggal
dunia, dia mau misalkan kuburannya di dekat Patane suami. “Biar kalau Papa
Karrang (Sapaan suaminya dari nama anak pertama), keluar Patane minum kopi, saya juga ada duduk-duduk di atas
kuburanku,”
“Jadi masih bisa kami minum kopi sama-sama. Dan
cerita-cerita,”
Kami terbahak bersama. Lalu menyeruput kopi.
Sehari sebelum bertemu Mona. Saya jumpa dengan Yusuf.
Keluarga Tino Sarungallo (orang Toraja). Tino adalah seorang filmaker.
Meninggal di Jakarta karena sakit. Yusuf adalah kolega yang menemaninya ketika
Tino menghembuskan nafas terakhirnya.
Tino meninggal dengan prosesi muslim. Dimandikan dan
dikafani. Saat pelepasan jenasah menuju mobil, di dalam rumah dilakukan
pemberkatan yang dipimpin seorang pendeta. Dalam perjalanan menuju Tanah Kusir,
pusara terakhirnya, jenasah itu erhenti di masjid dan dilakukan ritual salat
jenasah.
“Dia hidup dengan asyik. Dan meninggalkannya pun dengan
tetap asyik,” kata Yusuf.
“Terakhir, Tino meminta saya mengambil tanah kuburan yang
pertama menyentuhnya untuk dibawa ke Toraja. Sebagai ungakapan syukurnya untuk
leluhur Toraja,”
Kami sepakat dengan itu. Dan saat saya mengisahkannya
kembali pada Mona, dia terharu. “Doa semua orang adalah pasti baik. Apapun
agamanya,” katanya.
Tapi bagaimana rasanya meninggal dunia? Tentu saja tak ada
yang memiliki pengalaman itu. Tapi yang pasti, hadiah kehidupan, adalah
kematian. Dua sisi yang berjalan saling bergadengan. Hidup dan mati, seperti
kekasih yang saling merindukan.
SAYA MENULIS
perihal-perihal kematian ini, saat anakku berusia enam tahun. Ketika
suatu malam dia bertanya, kenapa kakek-kakek dan nenek-nenek selalu meninggal
sakit. Makanya dengan itu, dia menonton Avatar dan mengidolakan Avatar Roku.
Pendahulu Ang, yang berada di dunia roh.
“Avatar Roku bisa bicara dengan roh,” katanya.
“Roh itu orang sudah mati kah?,”
“Saya mau seperti Avatar Roku. Dia hebat.”
Rabu, April 28, 2021
Bom Makassar
Pastor Wilhelmus Tulak memimpin misa Minggu Palma pukul 06.00 pada minggu, 28 Maret 2021. Dia selesai menjelang pukul 08.00 dan dilanjutkan dengan misa kedua, untuk jemaah lain yang dipimpin uskup lain. “Tapi saya harus mendampingi. Jadi selesai jelang pukul 11.00,” katanya.
Ketika jemaah berangsur mulai meninggalkan ruangan, Pastor
Tulak pun melangkahkan kakinya menuju rumah, tepat disamping bangunan gereja
utama. Di kamarnya, di lantai satu dia membuka jubah ibadah dan hendak sedikit
bersantai. Tapi, tiba-tiba sebuah ledakan menggema keras. Dia kemudian menoleh
ke jendela dan melihat pecahan kaca berjatuhan dari hotel Singgasana.
Pastor Tulak bergumam. Dia mengira telah terjadi sesuatu di
hotel itu, karena beberapa tahun tidak difungsikan. Tapi teriakan muncul dari
depan rumah. Menggunakan celana pendek dia berlari menuruni tangga dan keluar
rumah.
Dentuman itu adalah bom yang meledak tepat di depan pagar
gereja yang dipimpinnya. Dia terhenyak tapi berusaha menenangkan jemaah gereja.
Asap mengepul dan beberapa potongan tubuh terlihat menggeletak.
Seorang tenaga pengamanan gereja (Satpam) mengalami luka di
beberapa bagian tubuhnya. Telinganya bedengung. “Dia bukan satpam utama di
gereja kami. Tapi dia selalu membantu jika ada perayaan dan ibadah besar. Dari
bapaknya, dia sudah menjadi tenaga pengamanan hingga turun ke dia,” kata Pastor
Tulak.
Bom itu meledak di pintu gerbang bagian selatan. Pintu utara
yang menjadi gerbang utama memang sangat jarang terbuka, kecuali untuk beberapa
tamu. Gereja Katedral memiliki empat pintu. Saat ini tiga pintu masih
difungsikan; satu pintu dibagian utara yang lebih kecil, biasa digunakan untuk
jemaah yang langsung masuk menggunakan mobil, karena tersambung dengan halaman
rumah tetangga yang masih jemaah.
Pintu selatan tempat bom meledak itu, adalah pintu kecil
untuk jemaah pada umumnya. Bagaimana peristiwa pemboman itu bermula? Pastor
Tulak yang berbicara dengan Casmos (Satpam gereja) mengatakan, jika sejak awal
dua orang yang berboncengan dengan menggunakan motor metic plat DD 5984 MD
telah berada di depan gereja beberapa saat.
Pengendara itu memarkir motornya di bagian utara gereja,
berhadapan dengan gerbang utama. Casmos merasa pengendara itu mulai
mencurigakan dan mengawasinya dari balik pagar. Ketika pengendara itu
menghampiri gerbang selatan, Casmos menghampiri dan memintanya untuk tidak
masuk ke dalam halaman gereja.
Tapi siyalnya, pengendara itu meledak. Kepolisian menilai,
dua orang pengendara yang berboncengan itu adalah pelaku bom bunuh diri yang
berafiliasi dengan kelompok teror Jemaah Ansharut Daulah (JAD).
Di tempat terpisah, sekitar 100 meter dari lokasi ledakan, Yosia (29 tahun) yang bekerja di Cafe Pelangi sedang makan siang. Beberapa suapan telah masuk ke tenggorokannya, dan mendengar dentuman keras. “Pang pang, itu dua kali ledakan. Kaget sekali, pantat saya terangkat dari kursi,” katanya.
![]() |
Yosia (29 tahun) |
Yosi begitu sapaan akrabnya, langsung berlari keluar
ruangan. Dia berlari menuju tempat ledakan, kepulan asap sudah membumbung, dan
bau menyengat. “Mungkin bau dari asap bom itu, kayak asam. Tapi di sana itu
amis juga, mungkin karena ada darah orang,” katanya.
Yosi, bergidik melihat dampak ledakan itu. Potongan tubuh
manusia dilihatnya dengan jelas. Ada potongan kaki. Dia juga melihat paha dan
beberapa daging yang seperti tercabik. Di trotoar, empat orang sedang berdarah.
Satu perempuan paruh baya, duduk dengan meluruskan kakinya dengan luka di
bagian kening. Tiga lainnya masih berdiri.
Dia berlari membopong perempuan itu, beberapa orang
meneriakinya untuk menjauh, khawatir masih ada bom susulan. Tapi Yosi tak peduli, saat perempuan itu
diraihnya, seorang pengendara motor melintas, lalu menahan untuk mengantar ke
rumah sakit. “Pengendara itu tidak mau. Saya marah sekali. Jadi ibu itu saya
papah sampai depan minimarket dan meminta tolong ke orang untuk mengantarnya ke
rumah sakit,” lanjutnya.
Pada saat yang sama sekitar 300 meter dari pusat ledakan,
pukul 09.20 Armin Hari (42 tahun) telah usai menjalani Swab Test Anti Gen di
klinik Kimia Farma jalan Hasanuddin, untuk keperluan penerbangan pukul 16.00
menuju Jakarta.
Petugas medis menyatakan, hasil swab itu akan diketahui
sekitar 2 jam selanjutnya. Armin lalu memutuskan kembali ke penginapan. Di
tempat parkiran, dia membakar rokok dan berbincang dengan petugas parkir kendaraan,
lalu memesan ojek online. Saat sedang bercerita, tiba-tiba suara dentuman
terdengar. Petugas parkir itu mengira hanya ledakan dari trafo listrik.
Pukul 09.22, ojek online sudah datang. Dia meninggalkan
klinik kesehatan. Di perjalanan orang-orang mulai terlihat panik dan berucap
bom. Dia meminta pengendara ojek itu, berbelok dan melihat kerumunan. Di dekat
lokasi kejadian, Armin melihat rontokan gigi dan beberapa organ dalam tubuh
yang terburai. “Saya kira itu hati atau paru-paru. Tapi seperti itu,” katanya.
Di tempat itu, di lokasi kejadian itu lah dia melihat Yosi
bersama pegawai minimarket berusaha menolong seorang perempuan paruh baya.
“Belum ada polisi yang datang. Masyarakat di sekitar lah yang saling bantu,”
katanya.
Malam setelah peristiwa ledakan bom yang menewaskan dua
orang – terduga pelaku – Kepala Kepolisian Indonesia (Kapolri) Listyo Sigit
Prabowo menggelar pernyataan secara terbuka. “Kami juga sudah mendapatkan
laporan, terkait identitas pelaku. Kita sudah mendapatkan dengan inisial L.
Yang bersangkutan merupakan kelompok beberapa waktu lalu telah kita amankan.
Kelompok ini, bergabung, atau terkait dengan kelompok yang pernah melaksanakan
kegiatan operasi di Jolo, Filipina tahun 2018,” katanya.
Pada Januari 2021, kepolisian telah menangkap 20 orang
terduga pelaku teror dari jaringan JAD di Perumahaan Villa Mutiara Biru
Makassar. Dua orang ditembak mati dan lainnya digelandang ke Markas Besar
Kepolisian Republik Indonesia. Pihak kepolisian juga mengindentifikasi jika JAD
Makassar, berperan untuk melakukan pengiriman dana ke Filipina yang menjadi
simpatisan ISSIS.
“Mereka – pelaku bom Katedral Makassar - bagian dari itu. Dan inisial serta
data-datanya, sudah kita cocokan dan memang sesuai,” kata Listyo Sigit Prabowo.
Sejarah Katedral
Gereja Katedral untuk Katolik di Sulawesi Selatan dibangun
tahun 1537. Ketika dua orang putra bangsawan dari kerajaan Goa memeluk ajaran
Katolik. Dua orang itu kemudian diberi nama Antonio dan Muguel.
Sebelumnya tahun 1525 tiga orang misionaris dari Portugis
yakni Pastor Antonio do Reis, Cosmas De Annunciacio, dan Bernardinode Marvao
berkunjung ke Makassar. Hingga tahun 1548 baru kemudian seorang pastor menetap
sementara yakni Vicentc Vegas.
Gereja Katolik Katedral atau gereja Kudus Yesus didirikan
sekitar Tahun 1898, sebagai gelombang ke
dua kehadiran Katolik di Makassar. Awalnya gereja ini bernama Roomsch Katholiekc Kcrk. Gereja ini merupakan
gereja tertua di Sulawesi Selatan, yang menjadi milik Keuskupan Agung Makassar.
Gereja ini dibangun oleh arsitek utama dari perwira zeni
bernama Swartbol dengan gaya arsitektur gaya gothik. Dan pengerjaannya dilakukan
oleh pemborong Cina bernama Thio A Tek. Pada tahap awal pembangunan bangunan
ini memiliki 20 menara kecil dari besi sebagai assesoris dipinggir atap gereja.
Kemudian pada tahun 1923 seorang dermawan bernama Mr. Scharpff menyumbangkaan
tiga buah lonceng dan dipasang dimenara besi di bagian selatan gereja.