Selasa, Juni 08, 2021

Perihal Kematian yang Memukau

Penguburan tebing di wilayah Lemo, Toraja. 

Pada usiaku yang ke tiga puluh tujuh tahun, saya mengingat Jufri Buape yang beberapa tahun lalu meninggal dunia. Ketika saya jumpa dengannya, di ruangan depan rumahnya yang sederhana di wilayah Takalar. Usianya sudah renta, sebagian tubuh yang mati karena serangan stroke.

Kepalanya sudah botak di bagian depan, hingga jidatnya terlihat lebar. Dia menggunakan kemeja, dengan dua kancing bagian atasnya tak terpasang. Jufri Buape adalah sekretaris Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) organisasi sayap Partai Komunis Indonesia (PKI). Partai yang sangat sangat sangat terlarang di Indonesia. Partai yang kemudian membuat anggotanya atau simpatisannya, atau bahkan orang yang dituduh pernah berhubungan dengannnya, meregang nyawa, mati di antara rerumputan, di dalam hutan, di pinggir jalan, atau di liang-liang serampangan di hampir seluruh pelosok negeri ini.

Menggunakan satu tangannya yang bergetar hebat, Jufri berusaha membuka album fotonya. Ada beberapa foto kawannya berdiri di depan bangunan camp tahanan Moncongloe. “Dia orang baik,” katanya saat menyebut nama kawannya.

“Dia suka tertawa,”

“Kalau ini suka menulis,”

Jufri seperti mengoceh. Beberapa jam bertemu dan kemudian berbagi kabar di telefon. Dan ketika seorang kerabatnya memberi kabar, jika dia meninggal dunia. Meninggalkan harapannya, untuk melihat semua keadilan berjalan. “Entah kapan semua ini berakhir,” kata Jufri.

PADA USIAKU yang bilamana, mendapatkan umur panjang, tiga tahun selanjutnya saya akan berusia empat puluh tahun. Usia ketika  saya melakukan perjalanan ke Toraja, lalu bertemu seorang sahabat berusia empat puluh tiga tahun. Dia perempuan yang ramah, selalu mengajak makan, dan suka bercanda.

Namanya Manaek Bara’ Allo. Kak Mona, begitu saya menyapanya. Dia ibu dari dua anak lelaki. Menikah berbeda agama dengan suaminya, yang juga seorang Toraja. Jumpa dengan Kak Mona, kami selalu cerita tentang anak. Tentang menjadi orang tua. Lalu entah kenapa kami bicara tentang kematian.

Apakah ini sudah saatnya bicara tentang kematian dan amanah? Entahlah. Tapi perihal kematian, adalah perihal kehilangan yang dalam. Perihal separuh jiwa dan kenangan yang pelan-pelan tergerus menghilang.

Perihal-perihal kematian ini, pertama kali mendatangi tahun 2010, ketika nenek saya meninggal dunia. Saat keranda meninggalkan halaman rumah, itulah saat kehilangan besar yang mendekap. Rasanya seperti sesak.

Dan berjalan waktu, setiap memikirkan kematian, saya tak bisa tidur. Bagaimana rasanya menjadi jasad dan bagaimana meninggalkan orang-orang yang kita kasihi. Akal ku belum bisa menjangkaunya dan masih meraba-raba.

Di kedai kopi, Djoeng Coffee Roastery di Rantepao, saya dan Kak Mona saling berhadapan membagi kisah. Sebagai seorang muslim dia ingin dikuburkan dengan prosesi yang hikmat. Di masukkan dalam liang tanah dan memiliki nisan. Tapi suaminya, yang seorang penganut Kristen, kelak akan dimasukkan dalam Patane, tempat pemakaman orang Toraja. “Jadi itu bagaimana mi saya kasihan, pisahma sama dia,” kata Mona.

“Kan bisa dalam Patane, tidak di lantai. Kak Mona di kubur di bawah, suami di atas,”

“Tapi ada lagi bilang kalau kuburan orang islam, tidak boleh diatapi. Kenapa kah itu semua banyak sekali aturan,”

“Lah kuburan Sultan Hasanuddin dan kuburan orang islam di sekitar Arab juga diatap ji nah,”

“itu mi deh.”

Mona, lalu menatap saya. Matanya terlihat berair. Sepertinya ini sesuatu yang serius. Tapi Mona, adalah perempuan yang mampu mengelabui kesedihannya dengan beberapa candaan. Jika kelak, katanya, mereka meninggal dunia, dia mau misalkan kuburannya di dekat Patane suami. “Biar kalau Papa Karrang (Sapaan suaminya dari nama anak pertama), keluar Patane minum kopi, saya juga ada duduk-duduk di atas kuburanku,”

“Jadi masih bisa kami minum kopi sama-sama. Dan cerita-cerita,”

Kami terbahak bersama. Lalu menyeruput kopi.  

Sehari sebelum bertemu Mona. Saya jumpa dengan Yusuf. Keluarga Tino Sarungallo (orang Toraja). Tino adalah seorang filmaker. Meninggal di Jakarta karena sakit. Yusuf adalah kolega yang menemaninya ketika Tino menghembuskan nafas terakhirnya.

Tino meninggal dengan prosesi muslim. Dimandikan dan dikafani. Saat pelepasan jenasah menuju mobil, di dalam rumah dilakukan pemberkatan yang dipimpin seorang pendeta. Dalam perjalanan menuju Tanah Kusir, pusara terakhirnya, jenasah itu erhenti di masjid dan dilakukan ritual salat jenasah.

“Dia hidup dengan asyik. Dan meninggalkannya pun dengan tetap asyik,” kata Yusuf.

“Terakhir, Tino meminta saya mengambil tanah kuburan yang pertama menyentuhnya untuk dibawa ke Toraja. Sebagai ungakapan syukurnya untuk leluhur Toraja,” 

Kami sepakat dengan itu. Dan saat saya mengisahkannya kembali pada Mona, dia terharu. “Doa semua orang adalah pasti baik. Apapun agamanya,” katanya. 

Tapi bagaimana rasanya meninggal dunia? Tentu saja tak ada yang memiliki pengalaman itu. Tapi yang pasti, hadiah kehidupan, adalah kematian. Dua sisi yang berjalan saling bergadengan. Hidup dan mati, seperti kekasih yang saling merindukan.

SAYA MENULIS perihal-perihal kematian ini, saat anakku berusia enam tahun. Ketika suatu malam dia bertanya, kenapa kakek-kakek dan nenek-nenek selalu meninggal sakit. Makanya dengan itu, dia menonton Avatar dan mengidolakan Avatar Roku. Pendahulu Ang, yang berada di dunia roh.

“Avatar Roku bisa bicara dengan roh,” katanya.

“Roh itu orang sudah mati kah?,”

“Saya mau seperti Avatar Roku. Dia hebat.”

 

 

Rabu, April 28, 2021

Bom Makassar

Pastor Wilhelmus Tulak memimpin misa Minggu Palma pukul 06.00 pada minggu, 28 Maret 2021. Dia selesai menjelang pukul 08.00 dan dilanjutkan dengan misa kedua, untuk jemaah lain yang dipimpin uskup lain. “Tapi saya harus mendampingi. Jadi selesai jelang pukul 11.00,” katanya.

Ketika jemaah berangsur mulai meninggalkan ruangan, Pastor Tulak pun melangkahkan kakinya menuju rumah, tepat disamping bangunan gereja utama. Di kamarnya, di lantai satu dia membuka jubah ibadah dan hendak sedikit bersantai. Tapi, tiba-tiba sebuah ledakan menggema keras. Dia kemudian menoleh ke jendela dan melihat pecahan kaca berjatuhan dari hotel Singgasana.

Pastor Tulak bergumam. Dia mengira telah terjadi sesuatu di hotel itu, karena beberapa tahun tidak difungsikan. Tapi teriakan muncul dari depan rumah. Menggunakan celana pendek dia berlari menuruni tangga dan keluar rumah.

Dentuman itu adalah bom yang meledak tepat di depan pagar gereja yang dipimpinnya. Dia terhenyak tapi berusaha menenangkan jemaah gereja. Asap mengepul dan beberapa potongan tubuh terlihat menggeletak.

Seorang tenaga pengamanan gereja (Satpam) mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya. Telinganya bedengung. “Dia bukan satpam utama di gereja kami. Tapi dia selalu membantu jika ada perayaan dan ibadah besar. Dari bapaknya, dia sudah menjadi tenaga pengamanan hingga turun ke dia,” kata Pastor Tulak.

Bom itu meledak di pintu gerbang bagian selatan. Pintu utara yang menjadi gerbang utama memang sangat jarang terbuka, kecuali untuk beberapa tamu. Gereja Katedral memiliki empat pintu. Saat ini tiga pintu masih difungsikan; satu pintu dibagian utara yang lebih kecil, biasa digunakan untuk jemaah yang langsung masuk menggunakan mobil, karena tersambung dengan halaman rumah tetangga yang masih jemaah.

Pintu selatan tempat bom meledak itu, adalah pintu kecil untuk jemaah pada umumnya. Bagaimana peristiwa pemboman itu bermula? Pastor Tulak yang berbicara dengan Casmos (Satpam gereja) mengatakan, jika sejak awal dua orang yang berboncengan dengan menggunakan motor metic plat DD 5984 MD telah berada di depan gereja beberapa saat.

Pengendara itu memarkir motornya di bagian utara gereja, berhadapan dengan gerbang utama. Casmos merasa pengendara itu mulai mencurigakan dan mengawasinya dari balik pagar. Ketika pengendara itu menghampiri gerbang selatan, Casmos menghampiri dan memintanya untuk tidak masuk ke dalam halaman gereja.

Tapi siyalnya, pengendara itu meledak. Kepolisian menilai, dua orang pengendara yang berboncengan itu adalah pelaku bom bunuh diri yang berafiliasi dengan kelompok teror Jemaah Ansharut Daulah (JAD).

Di tempat terpisah, sekitar 100 meter dari lokasi ledakan, Yosia (29 tahun) yang bekerja di Cafe Pelangi sedang makan siang. Beberapa suapan telah masuk ke tenggorokannya, dan mendengar dentuman keras. “Pang pang, itu dua kali ledakan. Kaget sekali, pantat saya terangkat dari kursi,” katanya.

Yosia (29 tahun)

Yosi begitu sapaan akrabnya, langsung berlari keluar ruangan. Dia berlari menuju tempat ledakan, kepulan asap sudah membumbung, dan bau menyengat. “Mungkin bau dari asap bom itu, kayak asam. Tapi di sana itu amis juga, mungkin karena ada darah orang,” katanya.

Yosi, bergidik melihat dampak ledakan itu. Potongan tubuh manusia dilihatnya dengan jelas. Ada potongan kaki. Dia juga melihat paha dan beberapa daging yang seperti tercabik. Di trotoar, empat orang sedang berdarah. Satu perempuan paruh baya, duduk dengan meluruskan kakinya dengan luka di bagian kening. Tiga lainnya masih berdiri.

Dia berlari membopong perempuan itu, beberapa orang meneriakinya untuk menjauh, khawatir masih ada bom susulan.  Tapi Yosi tak peduli, saat perempuan itu diraihnya, seorang pengendara motor melintas, lalu menahan untuk mengantar ke rumah sakit. “Pengendara itu tidak mau. Saya marah sekali. Jadi ibu itu saya papah sampai depan minimarket dan meminta tolong ke orang untuk mengantarnya ke rumah sakit,” lanjutnya.

Pada saat yang sama sekitar 300 meter dari pusat ledakan, pukul 09.20 Armin Hari (42 tahun) telah usai menjalani Swab Test Anti Gen di klinik Kimia Farma jalan Hasanuddin, untuk keperluan penerbangan pukul 16.00 menuju Jakarta.

Petugas medis menyatakan, hasil swab itu akan diketahui sekitar 2 jam selanjutnya. Armin lalu memutuskan kembali ke penginapan. Di tempat parkiran, dia membakar rokok dan berbincang dengan petugas parkir kendaraan, lalu memesan ojek online. Saat sedang bercerita, tiba-tiba suara dentuman terdengar. Petugas parkir itu mengira hanya ledakan dari trafo listrik.

Pukul 09.22, ojek online sudah datang. Dia meninggalkan klinik kesehatan. Di perjalanan orang-orang mulai terlihat panik dan berucap bom. Dia meminta pengendara ojek itu, berbelok dan melihat kerumunan. Di dekat lokasi kejadian, Armin melihat rontokan gigi dan beberapa organ dalam tubuh yang terburai. “Saya kira itu hati atau paru-paru. Tapi seperti itu,” katanya.

Di tempat itu, di lokasi kejadian itu lah dia melihat Yosi bersama pegawai minimarket berusaha menolong seorang perempuan paruh baya. “Belum ada polisi yang datang. Masyarakat di sekitar lah yang saling bantu,” katanya.

Malam setelah peristiwa ledakan bom yang menewaskan dua orang – terduga pelaku – Kepala Kepolisian Indonesia (Kapolri) Listyo Sigit Prabowo menggelar pernyataan secara terbuka. “Kami juga sudah mendapatkan laporan, terkait identitas pelaku. Kita sudah mendapatkan dengan inisial L. Yang bersangkutan merupakan kelompok beberapa waktu lalu telah kita amankan. Kelompok ini, bergabung, atau terkait dengan kelompok yang pernah melaksanakan kegiatan operasi di Jolo, Filipina tahun 2018,” katanya.

Pada Januari 2021, kepolisian telah menangkap 20 orang terduga pelaku teror dari jaringan JAD di Perumahaan Villa Mutiara Biru Makassar. Dua orang ditembak mati dan lainnya digelandang ke Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia. Pihak kepolisian juga mengindentifikasi jika JAD Makassar, berperan untuk melakukan pengiriman dana ke Filipina yang menjadi simpatisan ISSIS.

“Mereka – pelaku bom Katedral Makassar -  bagian dari itu. Dan inisial serta data-datanya, sudah kita cocokan dan memang sesuai,” kata Listyo Sigit Prabowo.

Sejarah Katedral

Gereja Katedral untuk Katolik di Sulawesi Selatan dibangun tahun 1537. Ketika dua orang putra bangsawan dari kerajaan Goa memeluk ajaran Katolik. Dua orang itu kemudian diberi nama Antonio dan Muguel.

Sebelumnya tahun 1525 tiga orang misionaris dari Portugis yakni Pastor Antonio do Reis, Cosmas De Annunciacio, dan Bernardinode Marvao berkunjung ke Makassar. Hingga tahun 1548 baru kemudian seorang pastor menetap sementara yakni Vicentc Vegas.

Gereja Katolik Katedral atau gereja Kudus Yesus didirikan sekitar Tahun 1898, sebagai gelombang  ke dua kehadiran Katolik di Makassar. Awalnya gereja ini bernama Roomsch Katholiekc Kcrk. Gereja ini merupakan gereja tertua di Sulawesi Selatan, yang menjadi milik Keuskupan Agung Makassar.

Gereja ini dibangun oleh arsitek utama dari perwira zeni bernama Swartbol dengan gaya arsitektur gaya gothik. Dan pengerjaannya dilakukan oleh pemborong Cina bernama Thio A Tek. Pada tahap awal pembangunan bangunan ini memiliki 20 menara kecil dari besi sebagai assesoris dipinggir atap gereja. Kemudian pada tahun 1923 seorang dermawan bernama Mr. Scharpff menyumbangkaan tiga buah lonceng dan dipasang dimenara besi di bagian selatan gereja.

Sore hari pada pada Oktober 1943 ketika Makassar di bom dari udara oleh pasukan Jepang, salah satu bomnya jatuh menimpa bagian belakang wisma frater.





* Versi liputan ini dapat pula di baca di Aljazeera: 



Selasa, Oktober 27, 2020

Melihat LBH Makassar Bekerja



Di kelokan dan tanjakan jalan sempit yang membelah kawasan karst Taman Nasional Bantimurung itu, Said mulai ragu menginjak pedal gas mobil. Truk besar di depan berjalan lamban. “Kalau kau tidak pepet, kau nda bisa melambung itu,” kata Rido.

“Karena truk nda mau ke pinggir (menepi),”

“Kalau kau ikut begini terus di belakangnya, sampai Bone kita itu.”

Akhirnya, Said menepi lalu melepas stir mobil. Rido menggantikannya, dan wussss, mobil melaju cepat, melambung kendaraan besar di depan kami. Menikung dengan cepat, menanjak dan menurun. “Terlempar kita kak,” kata Said yang duduk di bangku depan, sembari tangannya memegang gantungan tangan dalam kendaraan.

Perjalanan itu dimulai sekitar pukul 19.00, di kawasan perumahaan Bantimurung, Maros. Kami bertiga akan menempuh perjalanan lintas kabupaten – Maros, Bone, Soppeng. Sekitar pukul 22.30 kami tiba di kampung Sewo, kabupaten Soppeng. Rumah La Natu, petani yang berusia 75 tahun. Petani yang diperkarakan Dinas Kehutanan Sulawesi Selatan, dan hendak dipenjarakan karena menebang pohon dalam kebunnya – kebun yang diklaim lembaga negara itu masuk dalam zona hutan lindung - untuk membangun rumah anak.

Esok pagi, pada Selasa 27 Oktober, akan berlangsung sidang dalam agenda mendengarkan saksi ahli. Ini sidang ke lima, yang akan dijalani petani itu. Rido dan Said menjadi kuasa hukum La Natu. Mereka membantu petani itu atas nama Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar.

Malam kedatangan kami, di rumah panggung yang sejuk itu, keluarga La Natu sudah menyiapkan makan malam. Kami makan sembari berbagi cerita. Beberapa orang bertanya ke Rido, tentang perkara itu.

Di rumah itu ada Ario Permadi anak La Natu. Seorang iparnya juga bernama Sabang ikut hadir. Tiga orang ini menjadi pesakitan, karena terlibat penebangan pohon. Cerita mulai mengendor, kantuk mulai menyerang. Selimut dan bantal sudah disiapkan. Kami berselonjoran di atas karpet di ruang utama rumah itu, lalu tidur pulas, di hembus udara yang masuk melalui sela dinding bambu.

Selasa pagi, puluhan keluarga petani berkumpul. Mereka akan mengantar La Natu, Ario Permadi, dan Sabang, menuju pengadilan negeri Watansoppeng. Jelang pukul 10.00, kerabat lainnya bernama Sudi memimpin doa di dekat tangga. Lalu kami bersama menuju kantor pengadilan. Pukul 10.15 persidangan dimulai.

Saya menyaksikannya dengan dada yang sesak.

Pekan depan, pada 3 November, agenda sidang selanjutnya adalah pemeriksaan terdakwa. Di perjalanan pulang ke rumah, saya duduk bersama La Natu di kursi belakang mobil. “Sebenarnya bukan kebun saya yang masuk dalam hutan lindung, tapi hutan lindung masuk ke kebun saya,” kata La Natu.

Saya memandangnya, dan La Natu mengulangi lagi kalimat itu. “Dulu kalau ada kehutanan, orang ditangkap saja. Di bawa ke kantor polisi. Nda ada yang melawan karena takut. Sekarang ada LBH mi yang bantu. Saya jadi tau, orang kampung sudah tau. Kalau polisi kehutanan tidak boleh semena-mena.”

LBH di Akar Rumput

Di sebuah rumah makan prasmanan, wilayah Camba, Maros, seorang perempuan muda mempersilahkan kami makan. Perempuan lainnya yang menggunakan jilbab, dengan ramah menyapa kami lalu bilang,“makan apa adanya ya nak,” katanya.

Rido memilih duduk di kursi lainnya. “Ayo makan saja,” kata Rido.

“Bapak ini sudah dikenal di sini e. Akamsi (akronim Anak Kampung Sini),” kata saya.

“Iya. Na kenalka memang.”

Selesai makan, kami tak langsung beranjak. Rido bahkan mempersilahkan saya menikmati dulu rokok. Dan bilang, “santai saja.”

Lalu lelaki paruh baya lainnya, mendekati Rido. Mereka bersalaman dan saling bertanya kabar. Dan sebuah map kertas dibuka, dan mereka berdua serius mendiskusikannya. Beberapa menit kemudian, kami pamit beranjak. “Eh, tidak byar kah,” kata saya mengingatkan Rido.

“Tidak. Tenang saja,” jawabnya.

Di mobil, kami terkekeh. “Jadi ini bukan kenalan, tapi klien?,” kata saya.

“Iya, hahahaha,”

“Klien sendiri, atau klien LBH,”

“Klien LBH.”

Dari sini lah cerita lain bermula. “Itumi kasi tobat i Rambo (staf LBH lainnya) kalau pergi begini. Jadi ada pernah, singgah di warung seperti itu. Dia ambil makanan sedikit karena takut bayar banyak. Pas pulang, dikasi tau kalau itu gratis, dan klien LBH, dia menyesal tidak makan banyak,” kata Rido.

“Kalau anak-anak LBH kemana-mana, sepertinya nda bakal kelaparanmi. Ada banyak teman di semua kampung,”

“Di LBH kan, kalau mau cari pertemanan dan berproses ini tempatnya. Kalau cari uang tentumi nda ada.” 

Cerita di LBH adalah kisah-kisah para petarung. Mereka mendatangi tempat-tempat terpencil dimana warga membutuhkan pendampingan hukum. LBH membangun komunikasi dan melakukan penguatan serta pembelajaran. Mereka berdiskusi hingga larut malam dan mencari solusi.

Pengacara publik LBH tidak menunggu di pengadilan lalu, melakukan sidang, setelah itu pulang. Di LBH klien dan kuasa hukum, tidak melakukan transaksi jasa. Mereka juga tak dibenarkan memungut bayaran pada dampingan.

Toh suatu ketika misalnya, seorang staf LBH yang mendampingi kasus buruh, mendatangi tempatnya. Sebelum ke pengadilan, si pengacara LBH tidak punya rokok. Buruh lainnya, melihat itu. Dan kemudian berinisiatif membeli rokok untuk si kuasa hukum. “Ini pak rokoknya,” kata buruh itu.

Rokok itu dikeluarkan dari saku depan baju. Tiga batang rokok. “Itulah bayarannya pengacara LBH, hahahahahha,” kata Rido.

Tak jarang, pengacara-pengacara LBH itu ketika sidang selesai, mereka diberikan imbalan Rp50 ribu atau bahkan Rp20 ribu.

Rido mengulangi cerita-cerita itu sebagai guyonan. Di halaman rumah kami yang sempit di Bantimurung, udara semakin dingin. Pukul 02.00 dinihari, akhirnya kami membubarkan diri bercerita. “Nginap lah. Besok baru ke Makassar,” kataku.

“Jangan kak, besok hari Sumpah Pemuda. Ada demo lagi, semoga nda ada lagi mahasiswa yang ditangkap,” kata Said.

Jika Anak LBH Menikah

Jika ada anak LBH yang akan menikah, sebaiknya mereka menikah diam-diam dan mengundang teman-teman dekat saja. “Kalian akan membuat banyak orang repot, kalau mengumumkan pernikahan,” kata saya, suatu kali pada Cappa.

Cappa adalah staf LBH Makassar yang belum menikah. Suatu kali saya, Melissa (staf LBH lainnya), dan Cappa, melajukan motor menuju Soppeng. Kami menuju kampung Compo Liang. Jalannya sebagian sudah di rabat beton, sebagian lainnya masih tanah merah. Jika musim hujan jalanan itu menjadi sangat licin dan susah dilalui.

Melissa yang berboncengan dengan Cappa misalnya, harus terjatuh dari motor. Dan masih tertawa lepas. Saya melihat mereka menjangkau orang-orang itu sebagai sebuah keluarga. Mereka bersenda gurau dan bahkan saling bergurau sebagai anak angkat.

“Kalau besok Cappa, atau Melissa menikah, kasi tau e. Ansar juga. Kau semua anakku mi. Jadi kami sewa mobil ke Makassar,” kata Nenek Mari.

“Pokoknya, kami usahakan datang. Jangan sampai nda bilang-bilang itu.”

Melihat LBH bekerja, ibarat melihat kereta api berjalan bergandengan. Mereka bergerak bersama hingga sampai tujuan. Tak ada yang saling meninggalkan. Melaju lah terus teman-teman LBH. Bergerak lah bersama.

Selamat ulang tahun YLBHI yang ke 50 tahun (28 Oktober 1970). Selamat ulang tahun LBH Makassar yang ke 38 tahun (28 Oktober 1983).

 

Rabu, Oktober 07, 2020

Kita adalah jembatan pengetahuan masa depan


Kamu tidak perlu merasa was-was. Tapi kamu perlu mempertanyakan siapa dirimu dan untuk siapa kamu hidup. Pertama, jika ada keluarga dan tetanggamu yang sedang hamil, kunjungilah. Kamu bisa melihat perut sang ibu dan kemudian mengusapnya.

Bentuk perut itu buncit, dan membulat besar. Kulit perut tertarik mengencang. Pada keadaan tertentu bayi dalam perut apalagi jika usia kandungannya sudah mencapai sembilan bulan, akan terus bergerak. Kadang-kadang sang ibu akan tersentak jika si bayi dalam perut itu menendang, dan menyikut. Bayi dalam perut itu juga bahkan bisa bersin, kenyang, dan mengantuk. Seperti anak kecil yang sudah lahir. Ya, tepat seperti kamu dan saya.

Jika bayinya ada dalam perut, apakah bercampur dengan makanan si ibu? Itu pertanyaan yang bagus. Tapi jawaban untuk hal itu, adalah tidak. Bayi itu tempatnya di rahim. Makanan dari si ibu tempatnya di lambung. Dalam perut ada banyak tempat yang menawan. Jika melihatnya secara anatomi, maka itu tempat membingungkan juga. Ada usus yang menjadi jalur makanan masuk ke lambung. Setelah makanan itu dicerna, atau dihancurkan dengan cairan lambung di dalamnnya, protein, vitamin, serta zat lain yang dibutuhkan oleh tubuh akan diserap. Dialirkan melalui darah ke jantung. Sementara ampas makanan, akan terbuang melalui dubur. Ini lah yang kemudian menjadi kotoran, ketika kamu berak.

Sementara rahim itu menyerupai kantong plastik tipis, tapi sangat kokoh. Susah robek meski si bayi banyak bergerak. Rahim ini, saat sudah diisi oleh bayi akan ikut mengembang. Dan bisa saja saling bersisihan dengan lambung. Tapi kamu harus ingat, proses terbentuknya bayi dalam rahim, pelan-pelan akan membentuk struktur tulang, kulit, hingga mirip manusia. Di rahim, akan terbentuk jatung, kepala, otak, lambung, dubur, kelamin, tangan, kaki, mata, telinga, ini tempat semua bermula. Titik awal kamu dan saya.

Rahim itu, bentuknya lucu. Kalau pernah melihat gambarnya, itu seperti bulatan lonjong. Tempatnya di bagian dalam pangkal vagina. Jadi hanya perempuan yang punya rahim, laki-laki tidak memilikinya. Dalam rahim, ada plasenta. Ini lah yang yang membungkus bayi, dipenuhi air. Jadi si bayi, dalam rahim seperti berenang yang membuatnya begitu dinamis. Jika ibunya, tidur miring, maka bayi akan mencari sendiri posisi nyamannnya. Begitu pula bahkan ketika si ibu berdiri.

Ketika bayi itu dilahirkan, apakah melalui persalinan normal, dan caesar (melalui operasi), bayi itu begitu licin. Jika persalinanya normal, kepala bayi inilah yang pertama keluar melalui mulut rahim dan ditarik bidan atau pula dukun beranak melalui vagina si ibu.

Bayi-bayi ini, akan keluar dengan tali pusar yang menghubungkannya dengan plasenta. Tali plasenta itulah yang dalam rahim selama sembilan bulan menjadi jembatan saluran makanan atau asupan gizi yang didapatkannya melalui sang ibu.

Jadi selama masa kehamilan, sang ibu harus mengkonsumsi makanan sehat, selain untuk kesehatan dirinya, juga untuk memberi nutrisi pada sang calon bayi. Sebentar, apakah kamu berpikir seperti benalu? Tanaman yang menggantung pada tanaman lain, lalu menguras nutrisi sang inang? Tentu saja tidak.

Bayi dalam kandungan, tidak menghisap nutrisi si ibu, melainkan berbagi bersama. Jika sang ibu, tidak mengkonsumsi makanan sehat, maka bayi dalam kandungan akan bertumbuh kurang maksimal. Bahkan ada banyak kejadian, bayi dalam kandungan bisa mati, tak sempat dilahirkan.

Semu orang bermula dari gumpalan darah, lalu membesar membentuk bagian per bagian, kemudian lahir dengan sempurna. Pada tahap ini, apakah kamu dan aku sepakat, bahwa kita benar-benar dalam satu proses yang sama?

Coba kau ingat, dan tanyakan pada orang tuamu, bagaimana kamu dulu dilahirkan. Lalu tanyakan pada orang tuamu, bagaimana dia dilahirkan dulu, lalu jika nenek dan kakekmu masih hidup tanyakan juga pada mereka. Dan semakin kau mencari ke bagian awal pohon keluargamu, maka kau tidak akan menemukan sedikit pun perbedaan.

Apakah kamu masih ingat mengenai leluhur kita yang hidup dalam gua? Orang tua mereka pun hamil dan melahirkan. Kemungkinan, kamu dan saya, memiliki bagian DNA dari mereka. Kita adalah bagian dari manusia yang lebih awal hidup dalam gua.

Yeahhh, kita adalah manusia gua. Kau bisa bersorak mengenai itu.

Menjadi bagian manusia masa lalu, adalah hal yang menyenangkan. Bukankah saya sudah mengajakmu berkenalan dengan teknologi mereka yang mengagumkan. Mata panah, alat batu, bentukan rumah, ceruk gua, hingga lukisan dinding yang menawan. Membuat semua itu tentu saja dibutuhkan ketekunan dan kecerdasan.

Leluhur kita bukanlah bangsa primitif yang selama ini orang menyamakannya sebagai terbelakang. Ketinggalan zaman. Tidak menggunakan pakaian, dan tidak berbudaya. Kamu dan saya, harus membusungkan dada, kita adalah mahluk penghuni bumi yang terus menerus belajar. Terus menerus mencari hal baru.

Tapi, kelak jika kamu mulai mengenal semua itu, maka semua harus dilakukan dengan bijaksana. Sama seperti itu para leluhur kita, mengajarkan nenek dan kakek kita, mengkonsumsi makanan yang sehat untuk menumbuhkan generasinya.

Kamu dan saya, akan terus belajar melihat dunia. Kemudian, kelak akan mati, lalu digantikan generasi baru. Kamu dan saya akan meninggalkan jejak kebudayaan, yang akan dipelajari manusia selanjutnya. Inilah, kenapa kita tak pernah memikirkan hari ini, melainkan bekerja untuk keadaan yang lebih baik. Akhirnya, kamu dan saya dilahirkan untuk menjadi jembatan pengetahuan manusia selanjutnya. 
x

Minggu, April 05, 2020

Adonan Genetik dalam Ungkapan Pribumi-mu

Ekskavasi di Mallawa, oleh Tim Balai Arkeologi Makassar

Siapa leluhur masyarakat Sulawesi. Jika kau bertanya seperti itu, maka beberapa orang akan menepuk dada sambil mengatakan sebagai seorang berdarah murni lokal. Orang Gowa. Orang Bugis. Orang Luwu. Atau orang Toraja. Intinya mereka pemilik darah murni Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini. Benarkah demikian?

Mari membacanya dengan hati-hati. Dengan kepala yang dingin. Ada kalimat tentang kearifan lokal dan masyarakat adat, serta tradisi dan adat istiadat. Jadi saya ingin mengenalkanmu seperti ini, jika kakek dan nenekmu lahir, lalu besar dan tua, kemudian meninggal di satu tempat, dan dahulu kala telah menempati lahan dan mengolahnya dengan sistem bergotong royong (komunal) maka disebutlah mereka penduduk asli. Sesederhana itu.

Tapi itu penjelasan yang rumit. Meski kemudian hari, kalimat ini menjadi sangat penting dalam gerakan perlawanan untuk mendapatkan keadilan sosial di negara NKRI. Tapi saya tak ingin mengenalkanmu kisah masa sekarang. Sebab saya tetap berpegang teguh bahwa bumi, tanah dan sumber daya yang tergantung di dalamnya adalah milik bersama. Milik segala umat manusia. Yang catatan pentingnya,  adalah dikelola dengan sebaik-baiknya.

Lalu, siapa orang Indonesia itu. Apakah kamu meyakini dirimu berdarah murni Indonesia? Coba buatlah garis silsilahmu, tuliskan di kertas,  nama bapak dan mamakmu, kakek dan nenekmu, hingga buyutmu. Masih ingat? Lalu tulis lagi siapa bapak dan mamak buyutmu, lalu kakek dan nenek buyutmu, lalu buyutnya buyutmu. Mulai ribet bukan.

Oke, itu sebabnya dari sini cerita bermula. Beruntung, leluhur kita pernah membuat benda dan lukisan kebudayaan. Iya tertanam di bawah tanah dan di dinding-dinding gua. Hingga ribuan tahun, pengetahuan itu berdiam diri, lalu beberapa orang menemukannya.

Ada sampah dapur dari sisa kerang laut yang mengendap di dinding gua. Ada tanah bekas pembakaran. Ada tulang hewan yang telah dibakar. Ada alat tulang. Ada batu kecil yang dijadikan pisau dan penyerut. Ada gambar cap tangan di dinding dan langit-langit gua. Mereka menggambar hewan. Mereka juga menggambar sosok manusia. Jika kau melihatnya itu seperti hal yang tak masuk akal. Tapi itulah petunjuknya.

Ya, mereka yang dalam buku pelajaran sekolahmu dinamakan manusia purba. Manusia yang kadang-kadang dikenalkan sebagai seorang yang tak beradab. Manusia yang tingginya mencapai 2 meter lebih. Mereka seperti raksasa. Mereka juga memakan daging hewan mentah. Tidak pake baju dan sangat primitif. Tidak berbudaya. Tampangnya seperti monyet.

Kamu pasti percaya itu. Tenang, kamu tidak sendirian. Dulu saya juga percaya itu, waktu masih di sekolah. Tapi sekarang tidak lagi. Sebab, rupanya itu sesuatu yang tidak berdasar. Di Maros Sulawesi Selatan, kamu sebaiknya datang berkunjung di Taman Purbakala Leang-leang. Ajaklah gurumu dan mintalah petugas taman itu menjelaskannya.

Cap tangan itu, seukuran tangan kita sekarang. Para arkeolog memperkirakan tingginya hanya sekitar 165 sentimeter. Orang-orang ini tinggal dalam gua yang dipilih dengan pertimbangan yang matang. Keadaan cahaya, sirkulasi udara, hingga perlindungan dari hujan atau juga dari binatang buas. Gua itu adalah rumah mereka.

Dan untuk membuatnya sederhana, maka penamaan orang-orang yang tinggal di gua disebut sebagai Toala. Ciri khas kebudayaan mereka adalah mata panah yang disebut sebagai Maros Point. Ini mata panah yang indah, dengan gerigi di setiap sisinya. Runcing dan sangat menawan. Saya berkali-kali memegangnya dan tak henti mengagumi.

Mata panah batu ini, dibuat dengan menggunakan batu juga. Ujungnya sangat runcing. Mata panah ini digunakan untuk berburu hewan, seperti babi dan anoa.  Selain itu, ciri lainnya masyarakat Toala adalah alat batu yang belum halus.

Mata panah tertua yang ditemukan dan telah dilakukan penanggalan usianya mencapai 7000 tahun yang lalu. Artinya ada sekitar 4000 tahun sebelum Masehi. Kamu tahu kan tahun satu masehi itu dimulai dengan kelahiran Jesus.   

Lalu apakah Toala ini adalah masyarakat lokal Sulawesi? Jangan terburu-buru, orang-orang ini juga masih diperkirakan sebagai pendatang. Penelitian arkeologi di Maros dan Pangkep, belum pernah menemukan kerangka utuh manusianya. Belum ada penelitian DNA.

Jadi mereka punah? Oh itu pertanyaan yang mencengangkan. Tapi mari melihat gelombang migrasi manusia lainnya. Belakangan pada sekitar 4000 tahun lalu, ada bangsa penutur Austronesia dari ras Mongolid yang mendatangi Sulawesi.

Orang-orang ini, datang mengarungi lautan. Menggunakan perahu bercadik sederhana. Mereka inilah gelombang manusia dari dataran Cina. Austronesia dikenal juga sebagai pembawa zaman neolitik – zaman batu baru. Masyarakat ini sudah tidak hidup berpindah. Mereka sudah menetap dan membangun rumah pondok sederhana.

Para penutur Austronesia ini, juga mulai menanam umbi-umbian. Mulai mendomestikasi binatang – seperti memelihara babi dan ayam. Ini lah zaman yang dikenal sebagai surplus pangan. Orang-orang ini sudah tidak begitu massif berburu.  

Pada Juli 2019, ketika saya bersama tim peneliti dari Balai Arkeologi (Balar) Makassar mengunjungi Mallawa di Maros, melihat mereka bekerja menggali dua kotak penelitian di lantai Gua Sibokereng. Tim itu, melihat setiap temuan dengan saksama dan penuh ketelitian.

Di Mallawa ada 10 situs yang menjadi titik penelitian sepanjang 2015 hingga sekarang. Asosiasi temuan Toala dan Austronesia acapkali dijumpai. Jadi mungkin mereka pernah hidup bersama. Atau pula mereka saling mengadaptasi tekonologi.

Bangsa Austronesia adalah pendatang baru yang membawa teknologi seperti gerabah slip merah. Gerabah yang berwarna agak kemerahan yang sangat kuat. Gerabah itu atau dikenal pula sebagai tempayan, juga digunakan untuk menjadi bekal kubur. Ciri lain, masyarakat ini menguburkan jenasah dengan menekuk lutut.

Lalu apakah orang Toala dan Austronesia pernah hidup berdampingan? Hasanuddin, arkeolog dari Balar Makassar bilang, kalau itu belum ada bukti. Tapi bahwa ada persentuhan kebudayaan antara orang Toala dan Autronesia pernah terjadi, itu jelas. “Kita menemukan di beberapa situs yang memberikan asosiasi pertemuan itu,” katanya.

Maka bisa saja terjadi, ketika Orang Austronesia datang dengan membawa teknologi baru, maka orang Toala tersingkir karena kalah dalam bersaing. Tapi kemungkinan lainnya adalah mereka membangun hubungan dan bermukim bersama.

Jadi kita keturunan orang Toala atau Austronesia? Benar sekali ini pertanyaan pentingnya. Beberapa penelitian menggambarkan secara genetik saya dan kamu adalah keturunan orang Austronesia dari Ras Mongoloid. Gelombang pendatang dari dataran Cina. Tapi tidak menutup kemungkinan genetika kita juga masih menyimpan garis Toala.

Arkeolog cum Antropolog, Iwan Sumantri bilang, jika tidak ada satu orang pun di negara yang berhak mendapuk dirinya sebagai seorang yang berdarah murni Indonesia. Sulawesi atau Indonesia secara umum seperti adonan kue. Diramu dengan beragam bahan genetika dan beberapa ras manusia. “Itu saya kira adalah analoginya. Ada orang-orang yang datang migrasi. Ada yang bertahan, dan ada yang pergi. Mereka inilah yang kemudian membentuk masyarakat awal,” katanya.

Jadi apakah kamu mulai memahaminya. Saya kira catatan ini, untuk mengingatkanmu agar berlaku adil dalam melihat ragam umat manusia. Ragam pembentuk dirimu sendiri. sebab saya dan kamu tidak lahir dari proses penciptaan spiritual yang langsung dari tangan tuhan. Tapi darah kita adalah adonan yang kemudian kita sebut Indonesia.

Kamu tak perlu interupsi begitu keras, jika mitologi kita di Sulawesi Selatan mengenai To Manurung, orang pertama yang hadir dari langit itu adalah darah murni. Maka kemungkinan mereka adalah orang-orang Austronesia. Meski kemudian, “darah” silsilah itu acap kali di reproduksi untuk mengakses politik dan ekonomi dalam masyarakat. Kamu harus hati-hati bahwa sebenarnya itu tentang relasi kuasa dan penguasaan properti. Kamu coba lihatlah istana-istana kerajaan di Sulawesi Selatan.

Maka hari ini saya ingin mengucapkan selamat merayakan ke-Indonesiaan kita ini sebagai catatan adminstrasi negara dalam usia 74 tahun. Siapa pun, yang menjadi penduduk tanah ini, mereka adalah orang Indonesia. Berhenti lah mengumbar rasisme sebab itu akan membuatmu melihat hidup hidup dengan keras. Kamu Austronesia,  atau kamu Toala, atau kamu keturunan Sawrigading dari kerajaan tua Luwu di Sulawesi Selatan, susunan genetika kita tetap sama. Adonan yang bhinneka.    

Rabu, April 01, 2020

Berlari dan Berburu


Alat batu dari Matano. Foto oleh: Nono BALAR Makassar.
Apakah kamu pernah mengendarai kendaraan lalu mogok. Aki-nya soak dan mungkin businya tak berfungsi. Sementara kejadian itu terjadi pada siang yang terik. Kamu akan ngedumel. Benar kan.

Tapi coba merasakan hal lain. Jalan lah ke Maros, tepatnya di kawasan yang dipenuhi gunung karst. Dan cobalah berjalan tanpa menggunakan alas kaki. Kalau kamu belum tahu, dimana itu ambillah gawaimu dan cari di sekitar tempatmu tinggal. Kini kamu harus menuju ke sana. Benar sekali, batu itu seperti ujung pisau, runcing dan tajam. Sepatu yang kuat bahkan bisa terkoyak.

Karst Maros dan Pangkep ini, luasnya sudah kujelaskan pada bab awal, seluas 44.000 ha itu adalah halaman leluhur kita. Halaman nenek moyang kita. Ya, ya, nenek moyang itu bukan berarti adalah mereka yang sudah tua. Tapi manusia yang hidup berbeda masa dengan manusia sekarang. Mereka juga hidup berkelompok, punya orang tua, remaja, dan anak-anak.

Anak-anak nenek moyang kita itu, sama dengan kamu yang membutuhkan halaman. Ingin berlari dan bermain. Lalu memanjat, dan juga berenang. Membayangkan, masa itu, tentu saja perbandingannya bukan dengan masa sekarang. Waktu itu, tak ada listrik apalagi jaringan seluler. Mereka tak punya handphone untuk bermain game. Mereka kemungkinan, bermain lemparan batu di sungai, atau berlari di hamparan rumput dan juga menjejak tebing karst.

Kakinya, sudah terbiasa, telapak kakinya mungkin sudah kebal. Tapi mereka sama dengan kamu. Bisa saja diwaktu senggang, mereka bermain di sela tebing, duduk-duduk bersantai, dan meneguk air dari sungai. Mereka juga kemungkinan menggunakan tebing, gua, dan pohon untuk bermain petakumpet. Menarik ya.

Tapi, keuntungan lain dari tebing dan ceruk, mereka bisa bersembunyi lalu menunggu hewan buruan dan memanahnya. Atau melemparnya. Pada masa itu, mereka belum memiliki kuda, seperti dalam film berburu. Mereka mengandalkan kekuatan dan strategi. Di banyak gua ketika para arkeolog menggali tanahnya, ditemukan ada banyak tulang hewan. Ada tikus, kuskus, monyet, babi rusa, bahkan tulang burung. Dan baru-baru ini juga ditemukan gigi hiu.

Sisa tulang itu adalah sisa makanan mereka yang terpendam dalam tanah. Jadi, sumber daging mereka masa itu cukup melimpah. Coba bayangkan, mereka membuat api lalu memanggangnya di depan mulut gua, sembari melihat bintang dan cerahnya langit. Mereka makan bersama, setelah itu mereka beristirahat.

Masa itu memang belum ada listrik. Cahaya api dan bulan lah yang menjadi temaramnya. Mata mereka terbiasa dengan malam, itu melatih mereka untuk tetap waspada. Jika kamu bertanya bagaimana mereka melakukannya, dan apakah orang bisa tanpa senter malam hari? Maka jawabannya tentu saja bisa.

Saat ini, penglihatan kamu mulai tidak terbiasa, dan terlatih, karena bergantung pada fasilitas dan kemudahaan. Jadi ketika listrik padam sesaat saja, kamu mulai tidak bisa berjalan. Akan menabrak kursi, atau bisa saja menabrak tembok rumah. Ihh, ngeri sekali.

Oh ya, hampir lupa, tadi saya sudah mengajakmu ke kawasan karst bukan. Mari kembali ke tempat itu. Coba kamu perhatikan, ini adalah Leang Pettae. Mulut guanya ada ribuan rumah kerang yang sudah menempel, karena membatu bersama larutan karst lainnya. Gua ini adalah tempat hunian nenek moyang kita.

Nenek moyang kita mengumpul kerang itu, lalu dimakan di rumahnya. Mereka menumbuk bagian belakang kerang, lalu menghisap isinya. Ini teknik mengumpul. Tapi bagaimana dengan gambar Babirusa di dinding guanya?

Tentu saja, mereka mendapatkan itu dengan cara berburu. Atau ada kemungkinan mereka menggunakan perangkap. Jadi saya ingin sederhanakan agar kita sepakat, bahwa menjebak, memanah, mengejar, dan membuat perangkap adalah teknik berburu. Kamu sepakat kan.

Saat nenek moyang kita melakukan perburuan, mereka pasti akan berlari di antara tebing, hingga melompat. Ketika sudah menemukan Babirusa incarannya, mereka akan menombak dan memanahnya. Dan bisa juga menimpanya dengan batu besar. Saat hewan buruan tertangkap, mereka membawanya pulang ke rumah.

Di rumah, mereka akan membuat api dan mulai membakarnya. Sementara itu, kulit hewan buruan besar seperti Babirusa, akan dikelupas dengan penuh hati-hati menggunakan alat batu – dinamakannya litik. Alat batu itu, bentuknya lucu. Pipih dan sangat tajam.

Para arkeolog sudah menekuni kajian itu sejak bertahun-tahun lalu, untuk bisa membedakan bagaimana serpihan batu yang terbentuk secara alamiah dan bagaimana serpihan batu yang dibuat secara sengaja. Para arkeolog ini, melihatnya dari beragam sisi. Di peralatan itu, mereka melihat dataran pukul, hingga penajaman dengan menggunakan miskroskop.

Arkeolog-arkeolog itu melihatnya dengan hati-hati, hingga mereka bisa membedakan ada alat batu untuk memotong hingga menyerut. Ya benar, itu seperti kau melihat peralatan dapur ibumu, ada pisau untuk memotong daging, ada untuk mengupas bawang, ada untuk mengelupas daging ikan. Nenek moyang kita, tentu saja memilikinya, tapi menggunakan batu.

Lalu bagaimana pemilihan makanan nenek moyang kita itu. itu tidak lepas dari letak wilayahnya tinggalnya. Seorang arkeolog, baru-baru ini telah membuat pola sebaran fauna dalam gua hunian. Temuannya mengejutkan. Gua-gua hunian, atau rumah nenek moyang kita yang berada di wilayah Pangkep – dinamakan wilayah utara – dominasi lukisan faunanya adalah dari air (fauna aquatik). Lukisan guanya sungguh mengagumkan, ada gambar ikan paus, penyu, ubur-ubur, hingga teripang. Sementara di wilayah Maros – wilayah selatan – faunanya adalah dari daratan, seperti Babirusa dan Anoa.

Pada masa itu, itu sekitar 44.000 tahun yang lalu, nenek moyang kita di Pangkep dan Maros, punya makanan favorit sendiri-sendiri tergantung dari persediaan alam di sekitarnya. Jadi karena wilayah pangkep itu berdekatan dengan laut, maka mereka terbiasa berburu di air. Sementara di Maros, karena wilayahnya berdekatan dengan hutan, maka mereka berburu binatang mamalia. 

Itu adalah hal lumrah. Misal jika kamu berkunjung ke Toraja, kamu akan sulit menemukan variasi makanan dari ikan. Tapi mengunyah daging, seperti babi, ayam, hingga rusa, selalu ditemukan. Nah ini berbeda dengan orang Barru, yang sangat senang menyantap ikan laut.

Jadi nenek moyang kita yang tinggal di gua dan kemungkinan yang membuat lukisan itu, mereka belum memiliki peternakan. Mereka juga belum mampu mendomestikasi – atau menjinakkan – hewan, mereka hanya mengambil dari alam apa yang dibutuhkan. Maka dari itu, mereka mencarinya. Atau berburu. 

Domestikasi – atau menjinakkan itu - adalah nenek moyang kita yang datang belakangan. Mereka adalah bangsa dari penutur Austronesia. Mereka datang dan mulai bertani menetap. Ketika bangsa ini datang, maka nenek moyang kita sebelumnya, tersingkir. Tapi beberapa anggapan menyatakan, kemungkinan mereka hidup berbaur, dan kemungkinan mereka saling benci. Jadi untuk orang-orang penutur Austronesia ini, kita akan mebahasnya di bab lain ya.