Senin, Mei 02, 2022

Mudik, Idul Firti pada 2 Mei 2022

Makan Kapurung bersama keluarga di halaman rumah. Foto: Asti

Kenapa mudik menjadi sesuatu yang mengagumkan. Selalu seumur hidup, akan selalu dilakukan oleh  jutaan orang. Bukan soal harga tiket bus, pesawat, dan kapal laut yang naik. Tak peduli pula bahan bakar kendaraan yang ikut mahal. Ini soal berkumpul dan bersama dengan keluarga. 
 
Kampung begitu selalu dianggap sebagai tujuan mudik. Iya adalah kehangatan yang menyenangkan. Ada keluarga, tetangga, dan sepupu. Kampung adalah masa kecil yang terus tersimpan rapi dalam ingatan. Pada tanah, udara, kerikil, sungai, dan kisah-kisah yang akan terus bertahan, seperti hidup.
 
Pada 2 Mei 2022, di kampung saya Kombong, Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu, sejak pukul 06.00 ratusan warga telah berjalan dengan pakaian salat dua rakaat untuk idul fitri. Mereka melewati rumah-rumah, dan saling berteriak untuk membuat penghuni lainnya, bersigap. Warga berjalan dengan penuh semangat. Manggandeng anak dan mengenalkannya pada semua keluarga.
 
Ber-idul fitri, adalah bersama. Di kampung saya, salat dilakukan di lapangan kecamatan. Orang-orang datang menggelar tikar, terpal plastik, hingga koran bekas, sebagai alas sajadah. Diantara setiap baris, sendal terususun berjejer pula.
 
Ketika salat dimulai, kami menghadap alas kaki orang di depan. Bersujud hampir menyentuh sendal. Biasanya salat akan dimulai pada pukul.07.30. Dua rakaat itu akan kelar sekitar 10 menit.
 
Namun persiapannya panjang. Sebelum salat, para perwakilan masjid dari setiap lingkungan kampung akan berdiri di mimbar dan mengumandangkan takbir. Jemaah akan mengikutinya. Setelah itu, baru kemudian mednengarkan kata sambutan Bupati Luwu, yang dibacakan kepala kecamatan.
 
Kali ini, di tengah matahari yang semakin tinggi, dan membuat punggung serasa terpanggang, saya berpikir mengenai sambutan itu. Sambutan yang entah siapa yang menuliskannya. Terasa sangat kering. Isi sambutan yang terulang setiap tahun, siapa pun bupatinya. Apakah pentingya sambutan itu?
 
Saya menimbang-nimbang dan berusaha mengikutinya dengan baik. Mencari pengetahuan baru di dalamnya, kepalanya saya bekerja keras. Sambutan itu, bilang kalau ini adalah hari kemenangan, hari dimana semua umat muslim bersuka ria, karena telah melalui puasa. Lalu diakhir sambutan, kepala kecamatan, kemudian membaca permintaan maaf pada semua masyarakat atas nama bupati, Basmin Mattayang dan keluarga.
 
Benarkah warga penting mendengar sambutan bupati dalam rangka idul fitri itu? Beberapa orang malah mengeluh. Mereka bilang, tidak tahu apa yang dibicarakan dalam kata sambutan itu.
 
Saya jadi berpikir, mungkin akan lebih menarik, setiap tahun sambutan bupati pada setiap perayaan idul fitri menjadi laporan pertanggung jawabannya. Berapa anggaran, dan apa saja yang telah dilakukannya dalam menjalankan pemerintahan di wilayahnya.
 
Tapi, apapun itu, saya kemudian menduga jika sambutan itu seperti halnya khutbah jumat, yang membaca buku lama. Dimana beragam perkembangan isu tidak menjadi landasan khutbah.
 
Pernah kalian berpikir, jika khutbah jumat dan sambutan bupati saat idul fitri itu sama saja dengan kalian mendengarnya puluhan tahun lalu sampai sekarang.
 
Jadi selepas salat idul fitri, di kampung kami juga mendegar ceramah dari orang yang ditunjuk pemerintah setempat sebagai ulama. Kali ini, ceramahnya sangat mengesankan kelirunya. Dia melontarkan kalimat seksis. Dia masih bilang jika perempuan yang akan mencium bau surga adalah mereka yang melayani suaminya dengan baik, untuk dapur, rumah, hingga kasur.
 
Anak saya berusia jelang tujuh tahun, melihat saya dengan baik. Dia hendak bertanya, tapi kusanggah dengan cepat. Bahwa yang dibicarakannya keliru. Semua orang punya cara beribadah sendiri, punya cara mensyukuri kenikmatannya sendiri sebagai manusia. Bukan soal layan melayani.
 
Jelang pukul 08.30, prosesi salat idul fitri selesai. Ratusan warga meninggalkan lapangan. Mereka berdiri, dan saling mengulurkan tangan saling bermaafan. Mereka saling memeluk dan saling mengenalkan diri pada orang yang lebih tua.
 
Berjalan keluar lapangan pun, dengan pelan. Sebab semua saling mengenal. Warga yang dilalui rumahnya akan meminta setiap orang untuk singgah dan mencoba makanan lebaran. Ada kue kering, ada kari ayam, ada sirup dingin, ada kopi, ada kisah.
 
Setelah itu, berbondong-bondong warga menuju kuburan umum. Di sana, orang-orang berziarah dan memberikan doa pada mendiang keluarga yang meninggal. Anak saya, yang ikut dengan antusias membaca semua nama di nisan.
 
Dia ingin mengenal siapa nenek moyangnya. Saya memperlihatkannya nama Nenek dan kakek. Lalu memperlihatkannya kuburan orang tua nenek saya, lalu saudaranya, dan keluarga lainnya.
 
Dia tak puas, dia ingin tahu siapa nama nenek-nya nenek moyangnya. Dan bagaimana kuburnya. Keluarga lain yang mendengar ikut tertawa dan menjawabnya jika itu susah. Sebab tradisi kami menguburkan jenasah dengan nama, hanya ada beberapa puluh tahun belakangan. Sebelumnya, orang tua kami hanya menandainya dengan nisan batu dan menurunkan kisah, jika itu adalah keluarganya.
 
Generasi selanjutnya kemudian banyak lupa. Ini tentu saja berbeda, dengan tradisi masyarakat Toraja, dimana jenasah dan kerangka leluhurnya terjaga dengan baik. Pun dilakukan ritual ma’nene – ritual membuka liang kuburan untuk mengenang kembali leluhur.
 
Ini lah mudik bagi saya. Dia membawa saya kembali terhubung dengan kampung dan leluhur. Dia menjelaskan mengapa kami para anak keturunan berada dalam dunia ini. Kami hidup dengan menekuni ilmu pengetahuan dan terus menjaga keterhubungan itu.
 
Saya pun masih mencintai kisah mistis di kampung. Jalanan yang punya hantu, agar pelan-pelan saat melajukan kendaraan. Atau pohon yang punya penjaga mahluk halus, agar benar-benar menghargai setiap yang hidup.
 
Kampung juga memberi saya pengetahuan akan perubahaan bentang alam. Sungai yang dikeruk menjadi lebih buruk. Pangan yang terus menerus dipenuhi pestisida. Hingga bagaimana anak muda semakin jauh dari pekerjaan dengan tanah.
 
Saya sendiri adalah generasi yang tak mampu mengolah tanah. Tangan saya tak piawai mengayunkan parang untuk menebas rumput. Punggung saya tak kuat membawa beban. Atau kulit saya menjadi begitu rapuh ketika digigit nyamuk dan daun yang punya efek gatal.
 
Padahal saat saya kecil, saya merasa daun dan rumput yang gatal untuk saat ini bukanlah sebuah masalah. Saya bisa berlari tanpa menggunakan sandal, kini tak kuat lagi. Ini lah yang menjadikan mudik menjadi begitu mengesankan. Memberi pengetahun yang jauh lebih dalam, mengenai kekurangan-kekurangan saya.

Senin, Februari 21, 2022

Elang, Sudah Tidur Sendiri

La Wellang Rawallangi, nama anak lelaki kami. Sapaannya Elang. Dia akan berusia genap tujuh tahun pada Mei mendatang.
 
Hampir tiga tahun ini, dia tumbuh di tempat yang sungguh indah. Berlari dan bermain dengan teman-temannya, dimana dia menghirup udara dari tebing karst. Dia juga sudah mengalami bagaimana seluruh badannya menjadi bentol, ketika musim ulat bulu. Kakinya yang penuhi bekas garukan karena gatal, dari rumput yang ditempatinya berlari atau tiduran bersama teman-temannya.
 
Dia anak yang energik. Pertanyaannya pun sudah semakin detil dan membuat saya harus belajar ulang. Dia bertanya tentang pohon yang bisa tumbuh dibatu karst. Bertanya mengenai aliran sungai, kenapa keluar dari batuan. Memperhatikan ular air yang memangsa kodok.
 
Dia tumbuh dengan sehat. Itu yang kami perhatikan. Saya dan Tika sebagai orang tua, berusaha menemaninya bermain. Saya sesekali membacakannya buku sebelum tidur. Tapi Mamaknya yang paling rajin. Kini dia, menggandrungi serial Avatar Ang. Kadang-kadang jika ingin minum gelas airnya diletakkan di meja, dan mempraktikkan gerakan Katara – si pengendali air – untuk meminta air itu melayang dan masuk ke mulutnya tanpa harus memegang gelas.
 
“Dimana saya harus belajar ilmu pengendali air bapak,” katanya.
 
Pertanyaan seperti itu selalu membuat saya gelagapan. Dan dia mengerti saya tak mampu menjawabnya. Lalu dia sendiri mengabaikannya, dan kadang dengan cetus bilang. “Bapak waktu kecil nda pernah mau belajar kendalikan air kah.”
 
Sepuluh hari ini, dia benar-benar dapat dengan tenang menikmati film itu. Tokoh favoritnya adalah Avatar Roku, sebab dia menjadi penyelamat Ang jika sedang membutuhkan bantuan. Roku juga tinggal di dunia arwah. Dialog favoritnya, ketika Roku mendatangi Ang; kami tidak perlu bersidih, karena ini adalah salah saya, yang seharusnya bisa mencegah perang ini terjadi pada masa lalu.
 
Dia sudah punya kamar sendiri, yang ditatanya dengan kemauan sendiri. Dia memilih sendiri letak kasur hingga bagaimana menyusun bantal.
 
Ya, Elang sudah tidur sendiri. Dimulai pada Kamis malam, 10 Februari 2022, ketika dua hari sebelumnya saya mengecet kamarnya dengan warna biru tua dan biru muda. Dia juga lah yang memilih warna itu. Kami mengajaknya ke toko bangunan dan memintanya menentukan pilihan.
 
Awalnya dia ingin warna merah dan hitam. Tapi kami memberinya pertimbangan, jika warna itu sangat gelap dan bisa mengundang banyak nyamuk. Lalu pencahayaan kamar pun harus bagus, sementara rumah kami, hanya menggunakan satu bola lampu standar setiap kamar.
 
Katalog warna di toko bangunan dia perhatikan dengan baik. Dan pilhannya jatuh pada warna kamar temboknya saat ini.
 
Rumah kami adalah perumahaan subsidi, yang hanya punya dua kamar. Rumah ini kami tata dengan kepala ideal kami. Dimana satu kamar kami anggap sebagai kamar utama. Tempat kami tidur bersama. Satu kamar lainnya, diperuntukkan untuk keluarga, tamu, dan teman-teman yang kebetulan bermalam di rumah.
 
Tapi kini, “kamar tamu” sudah menjadi milik Elang. Jadi bisa saja tamu yang akan menginap akan tidur di ruang utama rumah, di atas karpet, bersisihan dengan rak buku dan mesin jahit Tika. Tapi jika Elang mengizinkan masuk ke kamar, boleh lah tidur di kamarnya.
 
Kejadian, kemarin 19 Februari, adik perempuan saya yang kuliah di Makassar, datang ke rumah. Karena dia datang malam, dan Elang sudah tidur, mood-nya kurang bagus. Dia menolak tantenya menemaninya tidur. Dan akhirnya, harus rela tidur di karpet.
 
Keesokannya, dia membujuk Elang, menemaninya main dan akhirnya dengan ikhlas memberikannya ruang di kasur kamarnya tidur Bersama. 
 
Tapi, sebelum kamar itu menjadi milik Elang, kami punya rak buku di dalamnya. Dan juga boks yang berisi buku – karena kami masih kekurangan rak buku. Tapi ketika Elang resmi memiliki kamar itu, dia meminta mengeluarkan buku bacaan kami berdua. Dia ingin, rak buku itu diganti dengan semua koleksi bukunya.
 
Akhirnya tak ada pilihan lain, saya terpaksa harus memilah buku yang tak begitu saya gunakan untuk kemudian disumbangkan, begitu pula Tika. Rak buku itu punya enam kotak. Dua kotak dideret buku bacaannya. Dua kotak lainnya, kami minta untuk menempatkan beberapa buku yang kami anggap penting untuk tidak dipajang dirak ruang utama.
 
Dua rak lainnya, tempatnya menyusun tiga buah tabung celengan. Serta beberapa Pernik mainannya. Di bagian atas rak, ditempatkannya buku-buku besar, dan action figure berdiri rapi. Dari mulai Batman sampai Thanos. Boks mainan lainnya berada di sisi kasur dekat kepalanya.  
 
Malam pertama yang memukau
Ketika Elang sudah yakin akan tidur sendiri, kami cukup gembira. Saya dan Tika, akhirnya mengalami proses ini. Ketika dia sudah tidur di kamarnya, kami mematikan lampu kamar dan membiarkan pintu sedikit terbuka agar cahaya dari lampu dapur bisa menerobos masuk kamar.
 
Sementara saya dan Tika tidur dengan perasaan berbeda. Biasanya ada Elang ditengah kami, dan sebelum tidur selalu saling menjahili. Kini di kasur ukuran tiga ini, kami hanya berdua. Pintu kamar kami lebar, untuk memastikan jika Elang bangun tengah malam dan memilih masuk kamar.
 
Beberapa kali saya terbangun dan mengintip Elang di kamarnya. Dia nyenyak sekali tidur, sambil memeluk boneka Doraemon yang dijadikannya guling. Boneka itu adalah hadiah ulang tahunnya usia 2 tahun dari Mamak Cung – kolega kami di Makassar.
 
Elang tidur dengan nyenyak dan kami bangun pagi bersama, dan melihatnya dengan bangga. Lalu membantunya merapikan kasur. Setelah itu mandi, sarapan dan dia berangkat sekolah.
 
Dan di pintu kamarnya tertulis dengan tinta pensil: Orang endak boleh masuk hanya Elang.

Sabtu, Februari 19, 2022

Bagaimana selayaknya memperkarakan hasil penelitian. Perlukah mempidanakannya?

 

Malam pertengahan Februari 2022, pesan masuk dari seorang kawan, disertai dengan link berita. Komunitas masyarakat Rongkong melaporkan, Iriani, seorang peneliti dari Balai Nilai dan Pelestarian Budaya (BNPB) Sulawesi Selatan, karena dianggap menghina.  

Saya terhenyak. Sungguh benar-benar kaget. Lalu menghubungi beberapa kawan yang kemungkinan kenal dengan Iriani. Benar saja, saya mendapatkan akses jurnalnya secara utuh. Dan sebenarnya dapat diunduh. Saya membacanya dengan pelan dan hati-hati. Lalu menemukan paragraf yang menjadi pangkal masalah.
 
Saya kutipkan dengan utuh: “Secara tradisional orang Rongkong masuk dalam strata kaunang dan maradeka. Sehingga orang Rongkong tidak dapat menjadi datu atau raja, namun hanya sebagai prajurit perang Kedatuan Luwu pada masa lampau.”
 
Kalimat ini kemungkinan besar memang dapat melukai hati masyarakat Rongkong. Namun, apakah cukup dengan satu paragraf itu membuat Iriani harus dilaporkan ke polisi? Mari melihatnya;  penelitian itu diterbitkan, jurnal WALASUJI yang juga dikelolah oleh BNPB, pada Volume 7, No.1, Juni 2016. Judulnya, Mangaru Sebagai Senin Tradisi di Luwu.
 
Pada abstraknya, penelitian itu bertujuan untuk menjelaskan makna tari tradisi Mangaru di Luwu. Iriani menggunakan metode kualitatif, dengan wawancara, observasi, studi dokumentasi, dan studi kepustakaan.
 
Hasilnya, bahwa Mangaru, yang ditarikan oleh masyarakat Rongkong menggambarkan keperkasaan pasukan prajurit kerajaan masa lalu. Tarian ini juga menggambarkan bagaimana hubungan antara kerajaan dan masyarakat Rongkong. Dan tarian itu mengandung makna dan nilai-nilai dari masyarakat Rongkong. Selebihnya, penelitian itu mengulas bagaimana tata cara tari itu digelar. Apa saja perlengkapannya, kostum, musik, hingga cara melaksanakannya.  
 
Lalu paragraf yang dilaporkan ke polisi itu, berada dalam subjudul Stratifikasi Sosial, halaman 113. Pada laman ini, ada tujuh paragraf, yang menjelaskan soal stratifikasi kelas di Luwu. Dimana lapisan atas bergelar Opu. Lapisan menengah yakni Daeng. Dan lapisan bawah adalah To Maradeka dan Kaunang.  
 
Iriani dalam sub penjelasan itu mengutip satu narasumber, yakni Andi Sanad Kaddi Raja, pada 22 Februari 2011. Dan kemudian mengutip Chabot (1984:196) tentang pembagian kelas sosial. Belakangan Kaddi Raja membantah telah mengeluarkan pernyataan itu.
 
Jika Iriani memiliki rekaman wawancara, maka itu bisa membuatnya selamat. Namun, jika tidak, ini akan membuatnya menjadi semakin rumit. Tapi apakah dia memiliki catatan saat wawancara dengan Kaddi Raja, itu juga bisa membantunya.
 
Terlepas dari keliru, ataupun lemahnya penelitian itu – jika memang demikian – seharusnya tidak disikapi lewat ranah pidana. Dan membawanya ke polisi bagi saya adalah prseden buruk dalam dunia literasi Indonesia. 
 
Surat pada 25 November 2021, BNP membuat surat perihal Permohonan Maaf atas Publikasi Walasuji, dan menyatakan empat poin:
 
1. Menarik seluruh publikasi jurnal Walasuji volume 7 No.1, Juni 2016 khususnya artikel berjudul "Mangaru Sebagai Seni Tradisional di Luwu" dan mengajukan permohonan maaf secara terbuka. 
2. Melakukan revisi artikel "Mangaru Sebagai Seni Tradisional di Luwu" sesuai dengan kaidah ilmiah dan melalui pemeriksaan pakar budaya dan sejarah masyarakat Rongkong.
3. Membuka ruang diskusi secara terbuka yang bertujuan meluruskan informasi tentang adat Rongkong dan disiarkan di seluruh kanal media sosial BNPB Sulawesi Selatan. 
4. Mendorong program-program pengkajian lebih lanjut terutama terkait nilai-nilai budaya masyarakat Rongkong. 
 
Dan apakah BNPB telah melaksanakan isi surat itu? Tak jelas, tapi artikel itu sampai sekarang masih bisa ditemukan di kanal lembaga, tanpa perbaikan
    
Namun perihal stratifikasi sosial masa lalu, Leonard Andaya, The Herritage of Arung Palakka yang kemudian diterbitkan Inninawa menjadi Warisan Arung Palakka, pada Bab IV mengenai Perjanjian, juga menggambarkan bagaimana sistem sosial dalam masyarakat. “Kadang-kadang pakaian yang pantas bagi keturunan terhormat (todeceng) diberikan sebagai tanda kesukaan,” tulisnya.
 
Pada kalimat selanjutnya, Andaya mengutip Noorduyn (1955:238), jika Gilireng yang sekarang masuk dalam kabupaten Wajo, pada masa lalu statusnya bagi Kerajaan adalah budak (ata). Tapi, “ketika penguasa Gilireng mengorbankan hidup untuk atasannya, penguasa Wajo, dia mengangkat Gilireng dari status budak menjadi anak bagi Wajo.”
 
Bagaimana penjelasan kelas sosial ini, Andaya, melanjutkan, jika di dasar pada hirarki hubungan antar negara adalah hubungan antara tuan (puang) dan budak (ata’). Kerajaan bawahan yang berperang melawan kerajaan atasannya dan berhasil dikalahkan akan kehilangan status terdahulunya dan terperosok ke posisi budak.
 
Saya kira, hasil-hasil penelitian sejarah semacam itu akan menjadi sangat penting dalam memahami kerangka sosial politik di setiap wilayah pada masa lalu. Bahwa, para budak dapat saja menjadi tuan.
 
Namun Iriani, dalam penelitian ini tak menjelaskan, bagaimana tari Mangaru dan apakah memiliki hubungan dengan penjelasan mengenai strata sosial. Apakah tarian ini bagian dari strategi memasuki istana? Atau tari ini telah ada jauh sebelum kebesaran kerajaan Luwu?
 
Tapi apapun itu, melaporkan penelitian ke polisi bagi saya adalah sikap tergesa-gesa? Bukan tidak mungkin mendatangi kantor tempat Iriani bekerja dan meminta penjelasan. Tapi, Dan jika Iriani dinyatakan bersalah kemudian ditahan apakah itu akan mengubah keadaan? Saya kira, dalam rilis komunitas masyarakat Rongkong, selain akan melakukan aksi demonstrasi. Mereka akan membantah “bias” itu.
 
“Melakukan penelitian untuk membantah karya ilmiah yang ditulis oleh Iriani khususnya kalimat yang menyebut “secara tradisional orang Rongkong masuk dalam strata kaunang dan maradeka.”
 
Dan jika masyarakat Rongkong, melakukan penelitian tandingan itu, kelak saya dengan sabar akan menanti. Bukan kah, itu adalah sebuah langkah yang paling elegan dalam dunia literasi. Dan kita akan disuguhkan debat terbuka, yang memiliki masing-masing sumber, serta metodelogi.
 
Sebab, kita berharap kepolisian tidak melanjutkan laporan itu. Sebab membincangkannya pada ranah pidana untuk sebuah hasil penelitian dalam publikasi ilmiah tidak lah etis. Sebab bila, kepolisian menggunakan Undang Undang ITE. Sebab hal itu akan membuat banyak orang berdiri bersama Iriani.

Rabu, Februari 16, 2022

Mengenal Gua Sebagai Pintu Air di Kawasan Karst


Irwandi Maulana, adalah anggota Komunitas Pencinta Alam (Kompala) Unversitas Fajar Makassar. Dia mahasiswa jurusan Hubungan Internasional dan memiliki minat pada aktivitas penelusuran gua. Pada Senin, 16 Agustus 2021, saat tim mereka menelusuri kampung Lembang Tallasa, Kecamatan Samanggi, Kabupaten Maros, dia menjadi orang pertama menuruni sebuah gua vertikal.

Mulut gua, tak begitu lebar. Melihatnya dari permukaan, dasar gua seperti lubang hitam yang tidak menampakkan dasar. Di sekitaran mulutnya, beberapa pohon telah tumbang, dengan tanah yang cekung sebagai jalur air. Hawanya begitu sejuk. Batang-batang pohon yang berdiri di dekatnya terasa dingin saat disentuh.

Jika hujan deras, air dari permukaan akan meluncur deras memasuki lubang gua itu. Air itu akan jatuh dengan kedalaman 46 meter. Dasar guanya, dipenuhi tanah yang gembur dan kemungkinan suatu waktu akan kembali runtuh. Ini seperti pintu air menuju perut karst.

Puluhan tahun lalu, sejak anggota Asosiasi Speleologi Pyrénéene (APS),Prancis tahun 1985, menelusuri gua-gua dalam bentang alam kawasan karst maros Pangkep ini. Mereka menulis laporan lapangan dan menyatakan sebagai sebuah bentang alam yang unik dan khas dengan tower karst, koridor karst yang panjang, serta gua-gua dengan ukuran besar dan terpanjang di Asia tenggara.

Sementara itu, laporan akhir tahun 2016 Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung mencatat tidak kurang 257 gua sudah ditemukan di kawasan karst yang ada di TN Bantimurung Bulusaraung yang terdiri dari 216 gua alam dan 41 gua prasejarah. Catatan lain menyebutkan dalam luasan 50 km2 terdapat 14 gua yang memiliki kedalaman lebih dari 100 meter. Salah satunya adalah Leang Pute sebagai gua terdalam di Indonesia untuk pitch tunggal (single pitch) yang mencapai 263 meter di bawah permukaan tanah.

Dan gua terpanjang di Indonesia juga berada di kawasan ini, yakni sistem gua Salukang Kallang yang panjangnya mencapai 12.263 meter. Gua ini juga dinyatakan sebagai gua dengan tingkat keragaman hayati terbanyak di kawasan tropis dunia.

Tahun 2017 ini, Taman Nasional kembali menambahkan data gua sebanyak 193 gua gua horizontal sebanyak 160 gua dan 17 gua vertikal, serta terdapat potensi gua horizontal yang juga memiliki gua vertikal dalam satu sistem sebanyak 15 gua.

Ratusan gua ini, menjadi sangat penting sebagai bagian dari sistem penyimpanan dan penyaluran aliran air. Di bawah perut kawasan karst ini terdapat sungai bawah tanah yang, dan di tebing-tebingnya muncu beberapa mata air yang dapat digunakan sebagai sumber air penduduk sekitar serta fauna lainnya.

Kawasan karst ini mencapai 46.200 ha. Dimana 22.800 ha merupakan kawasanTaman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung. “Tidak bisa selesai. Ini gudang pengetahuan dan petualangan apalagi mengenai gua di Indonesia,” kata Irwandi Maulana.

Ekspedisi menembus kedalaman 1000 meter

Nelfan adalah Ketua Kompala Universitas Fajar. Dia juga menjad ketua tim dalam memastikan semua anggota ekspedisi menelusur dengan aman. Sebelum para penjelajah menuruni perut bumi, dia memasang tali dengan ikatan yang kuat. Memeriksa simpul dan memastikan caribiner terpasang dengan tepat.

“Ini hari ketiga dalam ekspedisi susur gua khusus vertikal. Kami sudah mendapat 141 meter di bawah permukaan tanah. Targetnya adalah 1000 meter,” katanya. 

Untuk apa tim ini melakukan itu? “Untuk mengenalkan gua. Termasuk mengenal ekosistem gua. Selama ini, secara akses, gua horisontal lah yang mudah dijangkau. Nantinya, teman-teman atau para penelusur, akan lebih mudah memilih gua, karena kami sudah petakan,” kata Nelfan.

Peneliti Gua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr. Cahyo Rahmadi, penulusuran gua vertikal menjadi sangat penting untuk lebih mengenal keragaman hayati. “Selama ini, kita tak bisa membandingkan bagaimana biota atau keragaman hayati, antara gua horisontal dan gua vertikal. Karena penelitian untuk gua vertikal masih sangat sedikit,” katanya.

Secara khusus, gua memiliki ekosistem mikro sendiri yang sangat berguna bagi ilmu pengetahuan. Sementara dalam skala luas, gua ibarat sebagai penghubung sistem jaringan air dalam kawasan karst. “Jadi jika gua rusak, atau tertutup, maka itu akan berpengaruh pada sistem hidrologi yang menyambungkannya. Atau jika gua itu menjadi tempat kelelawar, maka secara ekologi akan sangat berdampak pada wilayah sekitar,” lanjut Cahyo.

Di kawasan wisata Rammang-rammang, desa Salenreng, Maros, terdapat gua yang dihuni kelelawar. Kotorannya (feses) yang mengendap di lantai gua menjadi sumber pupuk alami yang sangat penting bari para petani di sekitaran gua.

Di sekitaran kawasan karst Maros Pangkep, gua tidak hanya menjadi pelindung bagi beberapa spesies endemik, namun sangat erat dengan jejak kebudayaan. Gua-gua di sepanjang kawasan ini merupakan situs purbakala yang dindingnya terdapat lukisan tertua dunia pada 45.500 tahun lalu.

“Tak banyak yang menyenangi gua sebagai tempat belajar. Padahal nenek moyang kita dulu adalah penjelajah gua juga. Bukan hanya soal penjelajah laut,” kata Fardi, anggota eskspedisi lainnya. 





 

Selasa, Juni 08, 2021

Perihal Kematian yang Memukau

Penguburan tebing di wilayah Lemo, Toraja. 

Pada usiaku yang ke tiga puluh tujuh tahun, saya mengingat Jufri Buape yang beberapa tahun lalu meninggal dunia. Ketika saya jumpa dengannya, di ruangan depan rumahnya yang sederhana di wilayah Takalar. Usianya sudah renta, sebagian tubuh yang mati karena serangan stroke.

Kepalanya sudah botak di bagian depan, hingga jidatnya terlihat lebar. Dia menggunakan kemeja, dengan dua kancing bagian atasnya tak terpasang. Jufri Buape adalah sekretaris Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) organisasi sayap Partai Komunis Indonesia (PKI). Partai yang sangat sangat sangat terlarang di Indonesia. Partai yang kemudian membuat anggotanya atau simpatisannya, atau bahkan orang yang dituduh pernah berhubungan dengannnya, meregang nyawa, mati di antara rerumputan, di dalam hutan, di pinggir jalan, atau di liang-liang serampangan di hampir seluruh pelosok negeri ini.

Menggunakan satu tangannya yang bergetar hebat, Jufri berusaha membuka album fotonya. Ada beberapa foto kawannya berdiri di depan bangunan camp tahanan Moncongloe. “Dia orang baik,” katanya saat menyebut nama kawannya.

“Dia suka tertawa,”

“Kalau ini suka menulis,”

Jufri seperti mengoceh. Beberapa jam bertemu dan kemudian berbagi kabar di telefon. Dan ketika seorang kerabatnya memberi kabar, jika dia meninggal dunia. Meninggalkan harapannya, untuk melihat semua keadilan berjalan. “Entah kapan semua ini berakhir,” kata Jufri.

PADA USIAKU yang bilamana, mendapatkan umur panjang, tiga tahun selanjutnya saya akan berusia empat puluh tahun. Usia ketika  saya melakukan perjalanan ke Toraja, lalu bertemu seorang sahabat berusia empat puluh tiga tahun. Dia perempuan yang ramah, selalu mengajak makan, dan suka bercanda.

Namanya Manaek Bara’ Allo. Kak Mona, begitu saya menyapanya. Dia ibu dari dua anak lelaki. Menikah berbeda agama dengan suaminya, yang juga seorang Toraja. Jumpa dengan Kak Mona, kami selalu cerita tentang anak. Tentang menjadi orang tua. Lalu entah kenapa kami bicara tentang kematian.

Apakah ini sudah saatnya bicara tentang kematian dan amanah? Entahlah. Tapi perihal kematian, adalah perihal kehilangan yang dalam. Perihal separuh jiwa dan kenangan yang pelan-pelan tergerus menghilang.

Perihal-perihal kematian ini, pertama kali mendatangi tahun 2010, ketika nenek saya meninggal dunia. Saat keranda meninggalkan halaman rumah, itulah saat kehilangan besar yang mendekap. Rasanya seperti sesak.

Dan berjalan waktu, setiap memikirkan kematian, saya tak bisa tidur. Bagaimana rasanya menjadi jasad dan bagaimana meninggalkan orang-orang yang kita kasihi. Akal ku belum bisa menjangkaunya dan masih meraba-raba.

Di kedai kopi, Djoeng Coffee Roastery di Rantepao, saya dan Kak Mona saling berhadapan membagi kisah. Sebagai seorang muslim dia ingin dikuburkan dengan prosesi yang hikmat. Di masukkan dalam liang tanah dan memiliki nisan. Tapi suaminya, yang seorang penganut Kristen, kelak akan dimasukkan dalam Patane, tempat pemakaman orang Toraja. “Jadi itu bagaimana mi saya kasihan, pisahma sama dia,” kata Mona.

“Kan bisa dalam Patane, tidak di lantai. Kak Mona di kubur di bawah, suami di atas,”

“Tapi ada lagi bilang kalau kuburan orang islam, tidak boleh diatapi. Kenapa kah itu semua banyak sekali aturan,”

“Lah kuburan Sultan Hasanuddin dan kuburan orang islam di sekitar Arab juga diatap ji nah,”

“itu mi deh.”

Mona, lalu menatap saya. Matanya terlihat berair. Sepertinya ini sesuatu yang serius. Tapi Mona, adalah perempuan yang mampu mengelabui kesedihannya dengan beberapa candaan. Jika kelak, katanya, mereka meninggal dunia, dia mau misalkan kuburannya di dekat Patane suami. “Biar kalau Papa Karrang (Sapaan suaminya dari nama anak pertama), keluar Patane minum kopi, saya juga ada duduk-duduk di atas kuburanku,”

“Jadi masih bisa kami minum kopi sama-sama. Dan cerita-cerita,”

Kami terbahak bersama. Lalu menyeruput kopi.  

Sehari sebelum bertemu Mona. Saya jumpa dengan Yusuf. Keluarga Tino Sarungallo (orang Toraja). Tino adalah seorang filmaker. Meninggal di Jakarta karena sakit. Yusuf adalah kolega yang menemaninya ketika Tino menghembuskan nafas terakhirnya.

Tino meninggal dengan prosesi muslim. Dimandikan dan dikafani. Saat pelepasan jenasah menuju mobil, di dalam rumah dilakukan pemberkatan yang dipimpin seorang pendeta. Dalam perjalanan menuju Tanah Kusir, pusara terakhirnya, jenasah itu erhenti di masjid dan dilakukan ritual salat jenasah.

“Dia hidup dengan asyik. Dan meninggalkannya pun dengan tetap asyik,” kata Yusuf.

“Terakhir, Tino meminta saya mengambil tanah kuburan yang pertama menyentuhnya untuk dibawa ke Toraja. Sebagai ungakapan syukurnya untuk leluhur Toraja,” 

Kami sepakat dengan itu. Dan saat saya mengisahkannya kembali pada Mona, dia terharu. “Doa semua orang adalah pasti baik. Apapun agamanya,” katanya. 

Tapi bagaimana rasanya meninggal dunia? Tentu saja tak ada yang memiliki pengalaman itu. Tapi yang pasti, hadiah kehidupan, adalah kematian. Dua sisi yang berjalan saling bergadengan. Hidup dan mati, seperti kekasih yang saling merindukan.

SAYA MENULIS perihal-perihal kematian ini, saat anakku berusia enam tahun. Ketika suatu malam dia bertanya, kenapa kakek-kakek dan nenek-nenek selalu meninggal sakit. Makanya dengan itu, dia menonton Avatar dan mengidolakan Avatar Roku. Pendahulu Ang, yang berada di dunia roh.

“Avatar Roku bisa bicara dengan roh,” katanya.

“Roh itu orang sudah mati kah?,”

“Saya mau seperti Avatar Roku. Dia hebat.”

 

 

Rabu, April 28, 2021

Bom Makassar

Pastor Wilhelmus Tulak memimpin misa Minggu Palma pukul 06.00 pada minggu, 28 Maret 2021. Dia selesai menjelang pukul 08.00 dan dilanjutkan dengan misa kedua, untuk jemaah lain yang dipimpin uskup lain. “Tapi saya harus mendampingi. Jadi selesai jelang pukul 11.00,” katanya.

Ketika jemaah berangsur mulai meninggalkan ruangan, Pastor Tulak pun melangkahkan kakinya menuju rumah, tepat disamping bangunan gereja utama. Di kamarnya, di lantai satu dia membuka jubah ibadah dan hendak sedikit bersantai. Tapi, tiba-tiba sebuah ledakan menggema keras. Dia kemudian menoleh ke jendela dan melihat pecahan kaca berjatuhan dari hotel Singgasana.

Pastor Tulak bergumam. Dia mengira telah terjadi sesuatu di hotel itu, karena beberapa tahun tidak difungsikan. Tapi teriakan muncul dari depan rumah. Menggunakan celana pendek dia berlari menuruni tangga dan keluar rumah.

Dentuman itu adalah bom yang meledak tepat di depan pagar gereja yang dipimpinnya. Dia terhenyak tapi berusaha menenangkan jemaah gereja. Asap mengepul dan beberapa potongan tubuh terlihat menggeletak.

Seorang tenaga pengamanan gereja (Satpam) mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya. Telinganya bedengung. “Dia bukan satpam utama di gereja kami. Tapi dia selalu membantu jika ada perayaan dan ibadah besar. Dari bapaknya, dia sudah menjadi tenaga pengamanan hingga turun ke dia,” kata Pastor Tulak.

Bom itu meledak di pintu gerbang bagian selatan. Pintu utara yang menjadi gerbang utama memang sangat jarang terbuka, kecuali untuk beberapa tamu. Gereja Katedral memiliki empat pintu. Saat ini tiga pintu masih difungsikan; satu pintu dibagian utara yang lebih kecil, biasa digunakan untuk jemaah yang langsung masuk menggunakan mobil, karena tersambung dengan halaman rumah tetangga yang masih jemaah.

Pintu selatan tempat bom meledak itu, adalah pintu kecil untuk jemaah pada umumnya. Bagaimana peristiwa pemboman itu bermula? Pastor Tulak yang berbicara dengan Casmos (Satpam gereja) mengatakan, jika sejak awal dua orang yang berboncengan dengan menggunakan motor metic plat DD 5984 MD telah berada di depan gereja beberapa saat.

Pengendara itu memarkir motornya di bagian utara gereja, berhadapan dengan gerbang utama. Casmos merasa pengendara itu mulai mencurigakan dan mengawasinya dari balik pagar. Ketika pengendara itu menghampiri gerbang selatan, Casmos menghampiri dan memintanya untuk tidak masuk ke dalam halaman gereja.

Tapi siyalnya, pengendara itu meledak. Kepolisian menilai, dua orang pengendara yang berboncengan itu adalah pelaku bom bunuh diri yang berafiliasi dengan kelompok teror Jemaah Ansharut Daulah (JAD).

Di tempat terpisah, sekitar 100 meter dari lokasi ledakan, Yosia (29 tahun) yang bekerja di Cafe Pelangi sedang makan siang. Beberapa suapan telah masuk ke tenggorokannya, dan mendengar dentuman keras. “Pang pang, itu dua kali ledakan. Kaget sekali, pantat saya terangkat dari kursi,” katanya.

Yosia (29 tahun)

Yosi begitu sapaan akrabnya, langsung berlari keluar ruangan. Dia berlari menuju tempat ledakan, kepulan asap sudah membumbung, dan bau menyengat. “Mungkin bau dari asap bom itu, kayak asam. Tapi di sana itu amis juga, mungkin karena ada darah orang,” katanya.

Yosi, bergidik melihat dampak ledakan itu. Potongan tubuh manusia dilihatnya dengan jelas. Ada potongan kaki. Dia juga melihat paha dan beberapa daging yang seperti tercabik. Di trotoar, empat orang sedang berdarah. Satu perempuan paruh baya, duduk dengan meluruskan kakinya dengan luka di bagian kening. Tiga lainnya masih berdiri.

Dia berlari membopong perempuan itu, beberapa orang meneriakinya untuk menjauh, khawatir masih ada bom susulan.  Tapi Yosi tak peduli, saat perempuan itu diraihnya, seorang pengendara motor melintas, lalu menahan untuk mengantar ke rumah sakit. “Pengendara itu tidak mau. Saya marah sekali. Jadi ibu itu saya papah sampai depan minimarket dan meminta tolong ke orang untuk mengantarnya ke rumah sakit,” lanjutnya.

Pada saat yang sama sekitar 300 meter dari pusat ledakan, pukul 09.20 Armin Hari (42 tahun) telah usai menjalani Swab Test Anti Gen di klinik Kimia Farma jalan Hasanuddin, untuk keperluan penerbangan pukul 16.00 menuju Jakarta.

Petugas medis menyatakan, hasil swab itu akan diketahui sekitar 2 jam selanjutnya. Armin lalu memutuskan kembali ke penginapan. Di tempat parkiran, dia membakar rokok dan berbincang dengan petugas parkir kendaraan, lalu memesan ojek online. Saat sedang bercerita, tiba-tiba suara dentuman terdengar. Petugas parkir itu mengira hanya ledakan dari trafo listrik.

Pukul 09.22, ojek online sudah datang. Dia meninggalkan klinik kesehatan. Di perjalanan orang-orang mulai terlihat panik dan berucap bom. Dia meminta pengendara ojek itu, berbelok dan melihat kerumunan. Di dekat lokasi kejadian, Armin melihat rontokan gigi dan beberapa organ dalam tubuh yang terburai. “Saya kira itu hati atau paru-paru. Tapi seperti itu,” katanya.

Di tempat itu, di lokasi kejadian itu lah dia melihat Yosi bersama pegawai minimarket berusaha menolong seorang perempuan paruh baya. “Belum ada polisi yang datang. Masyarakat di sekitar lah yang saling bantu,” katanya.

Malam setelah peristiwa ledakan bom yang menewaskan dua orang – terduga pelaku – Kepala Kepolisian Indonesia (Kapolri) Listyo Sigit Prabowo menggelar pernyataan secara terbuka. “Kami juga sudah mendapatkan laporan, terkait identitas pelaku. Kita sudah mendapatkan dengan inisial L. Yang bersangkutan merupakan kelompok beberapa waktu lalu telah kita amankan. Kelompok ini, bergabung, atau terkait dengan kelompok yang pernah melaksanakan kegiatan operasi di Jolo, Filipina tahun 2018,” katanya.

Pada Januari 2021, kepolisian telah menangkap 20 orang terduga pelaku teror dari jaringan JAD di Perumahaan Villa Mutiara Biru Makassar. Dua orang ditembak mati dan lainnya digelandang ke Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia. Pihak kepolisian juga mengindentifikasi jika JAD Makassar, berperan untuk melakukan pengiriman dana ke Filipina yang menjadi simpatisan ISSIS.

“Mereka – pelaku bom Katedral Makassar -  bagian dari itu. Dan inisial serta data-datanya, sudah kita cocokan dan memang sesuai,” kata Listyo Sigit Prabowo.

Sejarah Katedral

Gereja Katedral untuk Katolik di Sulawesi Selatan dibangun tahun 1537. Ketika dua orang putra bangsawan dari kerajaan Goa memeluk ajaran Katolik. Dua orang itu kemudian diberi nama Antonio dan Muguel.

Sebelumnya tahun 1525 tiga orang misionaris dari Portugis yakni Pastor Antonio do Reis, Cosmas De Annunciacio, dan Bernardinode Marvao berkunjung ke Makassar. Hingga tahun 1548 baru kemudian seorang pastor menetap sementara yakni Vicentc Vegas.

Gereja Katolik Katedral atau gereja Kudus Yesus didirikan sekitar Tahun 1898, sebagai gelombang  ke dua kehadiran Katolik di Makassar. Awalnya gereja ini bernama Roomsch Katholiekc Kcrk. Gereja ini merupakan gereja tertua di Sulawesi Selatan, yang menjadi milik Keuskupan Agung Makassar.

Gereja ini dibangun oleh arsitek utama dari perwira zeni bernama Swartbol dengan gaya arsitektur gaya gothik. Dan pengerjaannya dilakukan oleh pemborong Cina bernama Thio A Tek. Pada tahap awal pembangunan bangunan ini memiliki 20 menara kecil dari besi sebagai assesoris dipinggir atap gereja. Kemudian pada tahun 1923 seorang dermawan bernama Mr. Scharpff menyumbangkaan tiga buah lonceng dan dipasang dimenara besi di bagian selatan gereja.

Sore hari pada pada Oktober 1943 ketika Makassar di bom dari udara oleh pasukan Jepang, salah satu bomnya jatuh menimpa bagian belakang wisma frater.





* Versi liputan ini dapat pula di baca di Aljazeera: