Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Minggu, Mei 24, 2026

Elang Mau Jadi Gitaris


Elang sedang melakukan persiapan untuk ujian pertamanya. 

SEBELAS tahun lalu, tepat 25 Mei 2015, itu jelang pukul 07.00 suaranya terdengar nyaring, dari celah ruangan operasi di RS Bersalin Restu, Makassar. Saya yang duduk di kursi panjang menunggu di depan ruangan bersama Mamak, saling menatap. Lalu mengucap syukur. 

Mamak memberi saya selamat, lalu kami saling memeluk. Saya berdiri lalu mengintip celah pintu dan melihat perawat berjalan dari balik ruangan lain. Saya juga ke kamar perawatan dan memberikan kabar ke Mamak Mertua, jika bayinya sudah lahir. Pun kami bersama-sama melafalkan kata syukur.

Ruangan operasi di RS Restu punya dua sekat. Sekat pertama sebagai ruang pemulihan dan dapat diakses oleh keluarga pasien. Sekat berikutnya adalah ruangan operasi dengan pintu yang selalu tertutup rapat, yang kadang disebut juga ruang tindakan dan hanya boleh diakses oleh para tenaga medis. 

Di luar ruangan saya gelisah juga senang. Duduk lalu berdiri, berjalan, lalu mengintip celah pintu. Berkali-kali saya mengulang adegan itu. Lalu akhirnya melihat seorang perawat menggendong bayi kecil itu. Kemudian masuk kembali ke ruangan tindakan. 

Lalu beberapa saat kemudian, perawat itu membuka pintu dan mempersilahkan kami masuk. Bayi kecil itu sudah dibalut kain. Wajahnya merah dan bersih. Saya melihatnya dengan penuh ketakjuban. Perawat itu meminta saya membersihkan tangan. Mamak saya juga sekalian meminta saya ber-wudhu. 

Saya mengangkat bayi kecil yang belum punya nama itu, lalu sesuai tradisi Islam, memperdengarkannya azan di telinga kanan dan kamat di telinga kirinya. Tapi disela itu, saya memohonkan doa agar kelak dia menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama mahluk di alam semesta ini. 

Sesaat kemudian, Tika – istri saya – akhirnya didorong keluar dari ruangan tindakan. Dia senyum dengan wajah legah dan bahagia. Saya memberinya selamat dan pelukan ucapan terimakasih karena kekuatannya. Badannya masih ditutupi selimut dan sarung, dan tangannya masih menempel selang infus. 

Mamak saya mengangkat bayi itu dan meletakkannya di antara lengan kanannya. Suasana pagi yang hangat dan gembira. 

Elang berpose di depan foto Masyarakat Papua yang terancam tergusur oleh proyek PSN.

KELAK
anak bayi itu kami beri nama La Wèllang Rawallangi. Laki-laki yang tegak memberi sinar hangat di bawah langit. 

Ketika dokter bilang semua keadaan telah membaik, kami mendorong Tika dan Bayi ke ruangan perawatan. Dan perawat sebelumnya telah memberikan saya plasenta – ari-ari – bayi dalam bungkusan kain. 

Di ruang perawatan, saya membersihkan ari-ari itu dengan pelan. Dua perempuan tua, mamak saya dan mamak mertua, bergantian membimbing cara membersihkannya. Ketika saya memegangnya, itu serupa daging empuk. Ketika air keran mengucur dan membasuh plasenta itu sisa darahnya mengalir di lantai kamar mandi. 

Pelan-pelan seperti membilas, pelasenta itu menampakkan bentuk. Saya kemudian mengagumi selaput tipis dimana di salah satu bagiannya sudah robek. Selaput itu serupa palstik penutup makanan, yang ketika air masuk menggelembung seperti balon. 

Saya mengangkatnya dan selaput tipis itu tidak robek. Mamak saya bilang, itu selaput yang membungkus bayi dalam kandungan. Benarkah demikian? Dan akhirnya saya benar-benar lupa menanyakan kembali ke perawat fungsi selaput itu. 

Saya cukup lama mengagumi selaput itu. Mengisi air, mengangkatnya, mengosongkannya kembali. “Jangan mi main-main, bersihkan mi cepat e,” kata Mamak saya.   

Setelah bersih, saya kembali membungkusnya dengan kain putih yang sudah dipersiapkan. Mengikatnya dengan kuat dan memasukkannya ke dalam guci tanah lalu menutupnya. Dari RS Restu, saya mengendarai motor membawanya ke Panaikang, rumah nenek Tika. Lalu menguburnya di depan rumah dekat pohon jambu. 

Tika, Werena, dan Elang bermain kereta di sebuah kawasan wisata di Malino.

Saya tak mengubur ari-ari itu di rumah kami di Batua Raya, karena itu adalah rumah kontakan yang bukan milik kami. Di Panaikang ketika mengubur ari-ari, saya menghadap kiblat dan menggunakan sarung. Lalu setelah itu masuk ke rumah tanpa bersuara dan berpura-pura tidur. 

Saya tak boleh bangun, sebelum seseorang membangunkan. Tante Anni – saudari mamak mertua saya – yang tinggal di rumah itu kemudian membangunkan. Lalu kemudian, kembali ke rumah sakit. 

Dalam perjalanan, saya merangkum segala kejadian dan proses kelahiran bayi kami itu. lalu tersenyum sendiri dan merasa bangga. Saya berhenti di jalan Pelita Raya dan membakar rokok, menghisapnya beberapa kali lalu melanjutkan perjalanan. 

Belakangan, kebiasaan atau tradisi ini saya maknai sebagai proses berterimakasih pada semua keadaan, pada semua hal yang membantu. Dan sungguh-sungguh menikmatinya. Dan Elang – panggilan anak kami ini – tentu saja perlu mengetahuinya. 

SEBELAS tahun lalu itu, seperti saja baru kemarin terjadi. Semua masih terekam dengan jelas di ingatan. Dan sebelas tahun lalu hari ini, tepat pada Senin 25 Mei 2026, seperti hari kelahirannya, Elang bangun lalu mandi. 

Dia telah menggunakan seragam Sekolah Dasar. Dia sudah kelas 4. Dan dia juga telah memiliki adik perempuan bernama Werena Rawallangi berusia tiga tahun. Werena dalam bahasa kami di Luwu berarti berkah tuhan dibawah langit. 

Elang bersama Werena melihat ikan di kolam.



Setiap pagi, saya dan Tika selalu sibuk. Sebelum Elang bangun, kami sudah di dapur memasakkannya sarapan dan membuat bekal. Dia tak mau makan MBG. Alasannya jelas, nasi yang dibagikan dalam program pemerintah itu terlalu banyak. Sayurnya juga dipotong tak karuan dan itu menghilangkan selera makannya. Lauknya pun tak menggugah selera. 

Atau mungkin, dia selalu mendengar orang tua berdiskusi soal MBG itu. Entah lah. Tapi kami juga tak ingin mengambil resiko, jika Elang tak mau makan MBG, itu pilihannya. Dan tentu saja kami mengetahui persis kebersihan makanan yang kami siapkan untuknya setiap pagi. 

Pada Sabtu, 23 Mei 2025, saat mengantarnya ke sekolah dia tiba-tiba berucap. “Kalau MBG itu, kira-kira bersih ji semua makanannya kah. Atau bagaimana?,” katanya. 

“Elang coba saja kalau mau,” 

“Tidak mau. Kalau saya sakit perut atau rasanya tidak enak, pasti kecewa,” 

Saya diam. Memastikan makanan itu sehat dan bersih bagaimana? Selama ini, akses untuk melihat dapur itu agak sulit dijangkau masyarakat umum, atau orang tua siswa. Di Sulsel, ada puluhan dapur MBG yang ditutup karena tidak sesuai standar kelayakan kebersihan. 

Tapi tentu saja saya tak pernah percaya sepenuhnya mengenai evaluasi itu. Pengalaman saya sebagai wartawan telah melihat banyak hal yang mengecewakan. Dari mulai kesehatan warga di sekitaran pabrik nikel Bantaeng sungguh mencengangkan, padahal dokumen AMDAL mensyaratkan semua terjalin dengan baik dan sehat. Penggusuran lahan di banyak tempat. Aturan sempadan sungai yang dilanggar. Aturan membangun rumah di perkotaan mengenai fasilitas sosial juga diabaikan. Kecelakaan kerja di Morowali yang standarnya mengenai K3 juga jelas, tetap tak dipedulikan. 

Jadi betapa rumit percaya kebaikan versi negara ini!

Cerita soal MBG telah berlalu dan kami telah melewati setengah perjalanan menuju sekolah Elang. Dia kembali ke bahasan lain. “Bapak sepertinya bakat saya menjadi pelukis tidak terlalu baik,” katanya. 

“Kenapa? Lukisan Elang teman-teman Bapak banyak yang suka dan katanya, lukisannya sudah punya karakter,” kata saya. 

“Tapi saya merasa kurang,” lanjutnya. 

“Jadi,” 

“Kayaknya, kalau pikir-pikir, cita-cita ku sekarang adalah ingin menjadi gitaris. Saya lebih suka itu,”

“Oke. Itu juga keren,” 

“Iya, karena saya selalu senang kalau main gitar,” 

“Apapun Elang mau. Yang penting dua profesi itu tak boleh jadi cita-cita kan,” 

“Oh iya, saya tahu. Dan siapa juga mau jadi …..”

Sudah setahun ini, Elang mengambil les gitar klasik. Kami mengantarnya dan dia penuh semangat menjalani. Dia pun rajin menjelajahi internet untuk melihat aksi para gitaris dunia. Di kepalanya menjadi seperti Paul Gilbert gitaris Mr.Big adalah targetnya. 

Minggu 24 Mei 2026, di teras rumah saya membuka Youtube untuk mengenalkannya The Beatles. Saya memutarkan video Paul Mc. Cartney sedang memainkan solo gitar. Elang melihatnya dengan semangat. Meski dia tak begitu senang lagu The Beatles. 

“Nah ini oke sih. Ini gitarisnya pasti lebih terkenal dari The Beatles.” 

Saya tertawa.

MENJELANG SORE sebelas tahun lalu itu, Serang Dakko mengunjungi kami di RS Restu. Kami saling memeluk dan bilang kalau cucunya sudah lahir, seorang anak laki-laki. Dia tertawa. “Apa kubilang, kau yang bikin, tapi saya yang tahu kalau anaknya anakku itu laki-laki,” katanya. 

Serang Dakko, selalu menyebut nama Tika kepada saya dengan Anakku. Saya ingat benar, ketika usia kandungan Tika menjelang masuk 3 bulan. Di kediamannya di area Benteng Somba Opu, Serang Dakko memegang perut Tika. Lalu bilang ke saya, jika anak kami kelak laki-laki. 

Saya bercanda, kalau saya yang tahu. “Kau datang gere leherku kalau anakmu bukan laki-laki,” lanjutnya. 

Akhirnya Serang Dakko menyapa Anaknya. Lalu kemudian dia beralih ke bayi Elang dan mengangkatnya dengan hati-hati. Selanjutnya, kami terperangah, kaena dengan suara keras dia bernyanyi royong dengan bahasa Makassar. 

Syahdu sekali. Mamak saya dan Mamak mertua melihat menoleh ke saya. Tapi saya tersenyum. Keluarga saya dan Tika adalah generasi dari Luwu, Jawa, dan Enrekang. Kami tak punya silsilah dari Makassar dan tak mengerti bahasa Makassar. 

Tapi Serang Dakko telah memulainya dan nyanyian pertama Elang dari bahasa Makassar, dari suaranya. 

Royong adalah tradisi lisan orang Makassar. Liriknya bisa berupa puisi dan doa-doa sakral yang dilantunkan orang tua. “Saya royongkan anakmu itu doa-doa yang baik. Biar berani dan kuat,” kata Serang Dakko. 

Sebelum dia berpamitan pulang, Serang Dakko lalu kembali berucap. Jika dia sudah menyiapkan kayu bulat dibuat gendang untuk bayi Elang. Nanti kalau dia sudah bisa, katanya, kau bawa ke rumah dan ambil gendannya. 

Kami selanjutnya saling berpelukan sebelum dia pamit. “Kau jaga baik-baik anakmu Nak e,” katanya. 

Hadiah lukisan untuk Elang dari Zaenal Beta. 
 
Pada sore beberapa jam berikutnya, kini giliran Zaenal Beta mengunjungi kami. Kak Enal, begitu saya dan Tika menyapanya dengan mengayuh sepeda dari Benteng Rotterdam ke RS Restu. Jaraknya tak begitu jauh dan memang bisa menjadi rute pulangnya ke rumah. 

Kak Enal membawa sebuah bingkisan dengan bingkai dengan bungkus kertas. Sebuah lukisan dari tanah liat yang menawan. Menampilkan rumah panggung, dan seseorang di depan rumah di dekat depan sumur. Di sisi rumah itu ada beberapa pohon, lukisan itu menggambarkan suasana hijau. 

“Saya gambar tadi pagi, waktu kau kabari anakmu lahir,” kata Enal.

“Wah terimakasih kak,” kata saya. 

“Ini tanah dari Luwu dan ada tanah dari Makassar. Saya campur.”

Saya diam melihat hadiah lukisan itu. Dan sekarang kami memajangnya di rumah dengan penuh kebanggaan. 

Senin, April 20, 2026

Bapaknya Cappa Meninggal; Banyak Doa, Banyak Pintu Maaf

Jenasah Bapak Cappa menuju tempat pemakaman umum di Kampung Tamero'do. Foto; Iqbal Lubis

Rabu 23 Januari 2026, pukul 11.32 kabar duka masuk melalui pesan Whatsapp. “Kakk, meninggal bapaknya Cappa.” 

Saya tersentak. Bulu badanku berdiri. Seketika seluruh tubuh menjadi kaku sesaat. Menarik nafas, lalu berucap ke Tika, istri saya. “Tika, Bapaknya Cappa meninggal. Baru saja,” kataku. 

“Haaaa….,” jawab Tika. 

Kami kemudian berkabar ke beberapa kawan yang mengenal Cappa. Tapi Cappa sedang berada di Bandung mengikuti kegiatan dari tempatnya bekerja. Saya tak tak menghubungi Cappa, karena sedang meraba-raba kekalutannya. Maka melalui Utty - pacar Cappa – saya menanyakan beberapa hal detail. 

Utty bilang, Cappa sudah keluar keluar dari kegiatan dan berusaha mencari tiket pesawat tercepat. 

Tapi pesawat tercepat menuju Makassar berada di pukul 17.00 melalui Jakarta. Sesaat kemudian, Utty bilang, Cappa sudah menuju terminal dan mencari bus menuju Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta. 

Beberapa jam kemudian, saya mengabari Cappa, jika kami menunggunya untuk bisa bersama ke kampung. Dia setuju. Cappa tinggal di Punaga, Desa Seppong, Kecamatan Tammero’do, Kabupaten Majene. Jarak tempuh dari Makassar sekitar 7 jam melalui akses darat. 

Sekitar pukul 21.00 pesawat Cappa mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin. Saya, Tika, dua anak saya, Iqbal, Nopri, dan Utty sudah menunggunya di Bandara. Sesaat kemudian Cappa menelpon di depan pintu utama kedatangan. Saya mengangkat tangan dan melambai agar dia bisa melihat kami. 

Dia berjalan dengan pelan dan kemudian memasang topi petnya. Jalannya pelan. Tidak ada senyum. Matanya bengkang dan sembab. Bergantian kami memeluknya dan tangisnya pecah. Lelaki dengan zodiac Scorpion itu tak bisa lagi menjaga marwah cool-nya. 

Perjalanan panjang kami mulai. Di mobil kami mengerjai Nopri – sahabat Cappa -  yang juga menjadi sahabat kami. 

Nopri dan Cappa sudah berkenalan sejak kuliah. Mereka sohib yang sama-sama soft spoken. Dalam kisah mereka berdua, beberapa kali menuju warung kopi, merokok, menghabiskan kopi, tanpa cerita, atau hanya berbalas senyum kecil. “Aneh juga pertemanan kami,” kata Nopri. 

“Tapi kami memang bicaranya dengan telepati, hahahah,” 

Nopri lelaki yang tingginya sekitar 175 cm itu, adalah pria tampan. Tapi sedang tak punya pacar. Dia jomblo yang beberapa kali ditinggalkan perempuan. Urusan percintaan dialah yang menjadi candaan kami sepanjang perjalanan. 

Cappa kadang mengeluarkan celutuknya atau tertawa pelan. Tapi Iqbal – fotografer paling borro sejagat raya, juga menjadi pelipurnya. Dia membagi cerita soal leluhurnya yang tidak memakan tahu. Atau cara memakan buah salak tanpa membuang kulit tipisnya karena itu; dia menyebutnya sebagai selaput energi. 

Sepanjang jalan kami tertawa. Sepanjang jalan kami terjaga. 

Lalu Cappa yang sedang kelelahan jiwa dan raganya, tertidur pula. Saya bisa merasakan bagaimana kehilangan orang tua. Dua tahun lalu, bapak saya meninggal karena mengidap Leukimia. 

Ketika kami memasuki kampung Wonomulyo, saya beranggapan kalau itu adalah Polman. Iqbal bilang kalau Wonomulyo sudah lewat. Tiba-tiba di bangku depan Cappa nyeletuk, kalau ini Wonomulyo. Kampung yang begitu banyak deretan penjual warung makan sari laut. 

Kata Iqbal, saya cocok tinggal di Wonomulyo, karena nama Jawa saja. Buka rumah makan dengan nama Warung Mas Eko. Ajaib sekali. Tapi itu juga tak keliru, mamak saya memang orang Nganjuk, Jawa Timur. Bapak saya orang Luwu. Saat ini mamak saya juga di kampung menjual gado-gado, yang nama warungnya, Gado-gado Mamak Eko. Laris. Karena gado-gado terbaik memang lahir dari tangan piwai orang-orang Jawa. Itu sama dengan Kapurung, yang lahir dari racikan tangan orang Luwu. 

Cappa yang sudah mulai terjaga kemudian menyebut nama kampung yang kami lewati. Salah satunya adalah Campalagian sebelum masuk ke pusat Kabupaten Majene. 

Ketika kami masuk gerbang Majene, lalu berhenti di depan Bank BRI, Cappa mengambil beberapa uang tunai. Di depan gerbang BRI kami menunggu dan masing-masing sebatang rokok untuk meredakan ketegangan. 

Iqbal yang beberapa hari sebelumnya sudah melakukan CT-Scan medis, mendapati dirinya dengan diagnosa stroke. Sesumbar bilang tak akan merokok lagi. Tapi dia melemah, mungkin satu batang bisa. Maka akhirnya, dia menghisap satu batang rokok bersama kami. 

CAPPA adalah anak pertama dari tujuh bersaudara. Cappa saat ini berusia 31 tahun. Adik keduanya adalah Fahmi. Kemudian Fikri. Tiga lelaki dewasa itu kelak akan menjadikan bahu mereka sekuat bapaknya. 

Sebentar lagi pukul 04.00. Dari arah Majene kami berbelok kanan menapaki jalan beton. Pelan-pelan. Semua terjaga, kecuali dua anak saya; Elang dan Werena. 

Mobil telah mendekat di depan rumah Cappa. Beberapa kerabatnya telah begadang dan menunggu kami terlihat jelas dan berdiri. Ketika mobil mulai begitu melambat, Cappa hendak membuka pintu. Saya menahannya. 

Saya memintanya untuk menahan diri. Bersama, kami memintanya menguatkan diri. Dia sudah memasang topi pet-nya kembali. Ketika mobil benar-benar berhenti, kami memintanya turun. Saya masih sempat berucap; kalau mau menangis, mengangis saja. Jangan sok kuat. 

Entah Cappa dengar atau tidak. Lalu satu persatu dari kami turun dari mobil. Saya masuk ke rumahnya. Cappa sudah memeluk Mamaknya. Adik-adiknya ada di sekitaran jenasah. 

Itu pemandangan yang memilukan. Kata-kata tak akan mampu mengangkap suasana subuh itu. 

Saya mendekat ke jenasah. Nopri, Tika, Iqbal, dan Utty, juga duduk di dekat jenasah. Dan seperti kebiasaan, saya membuka penutup wajah jenasah. Lalu melihat wajah sudah membeku pucat itu. Dingin dan kaku.

Terbayang jelas, ketika Bapak Cappa masih hidup dan beberapa kali mengunjunginya. Dia pria yang hangat dengan otot tangan kuat. Pekerja keras dan seorang petani. Bapak Cappa senang bercanda, tapi tawanya tak pernah lepas, sepanjang ingatanku. 

Menjelang pagi, orang-orang kampung sudah berkumpul. Papan penutup jenasah dibawah liang lahat dikerjakan dengan banyak tangan. Di belakang rumah, para lelaki memasak menggunakan kayu bakar. Mereka semua saling bercanda dalam bahasa setempat, lalu terbahak bersama. 

Lalu tiba lah jenasah akan dimandikan dalam prosesi islam. Liang lahat sudah beberapa jam lalu telah siap. Orang-orang di depan rumah, menunggu prosesi itu sambil melepaskan cerita dan kenangan bersama orang yang meninggal. 

Bagi saya inilah suasana yang penuh kekeluargaan. Suasana yang selalu dan setiap waktu bila menjumpainya selalu membuat saya merinding. 

Ketika jenasah sudah dibalut kain kafan, keluarga terdekat mendekatinya dengan penuh kekuatan dan ketabahan, lalu bersama jenasah itu diangkat ke keranda. Pelepasan jenasah dimulai dan kemudian keranda di gotong ke masjid terdekat untuk kemudian di salat kan lalu diantarkan ke pemakaman. 

Saya selalu ikut mengangkat keranda, jika tak bisa mengangkat tubuh jenasah. Bagi saya ini adalah ritual yang selalu mengingatkan, jika kehidupan dan kekeluargaan adalah jalan terbaik dalam menjalani hidup di muka bumi ini. 

Tempat pemakaman di kampung Cappa, berada di sebuah punggungan kecil. Dan untuk menjangkaunya harus melewati sungai. Liang lahat Bapak Cappa, ditempatkan dipinggiran punggungan menghadap langsung ke sungai dan kampung. 
Ketika keranda sudah diturunkan. Jenasah kemudian diangkat ke liang. Jenasah yang dibalut kain kafan itu, perlahan diturunkan, dimana tiga orang berdiri dibawah liang lahat menjangkaunya dengan tangan. 

Suara-suara keluar dengan begitu taktis; pelan-pelan. Buka ikatan kainnya. Miringkan jenasah menghadap tanah. 

Orang-orang yang mengantar jenasah yang berada di sekitaran liang, mecoba menunduk untuk melihatnya. Lalu semua berakhir. Liang lahat itu kemudian ditutup kembali dengan tanah. Maka; benarlah, semua kembali ke tanah pada akhirnya. 

Tapi, sehari sebelumnya pemakaman, hujan mengguyur Tammero’do. Tanah di pemakaman basah dan lengket. Ketika proses penguburan saya membantu beberapa orang mengangkat papan atau patok yang digunakan untuk menahan sisa tanah galian. 

Nopri, yang terus berada di dekat liang lahat mencoba membantu. Ketika orang-orang mulai kelelahan mencangkul dan mengangkat tanah timbunan ke liang lahat dengan sekop, dia berinisiatif untuk mengganti. 

Tentu saja, Nopri sepertinya tak punya banyak pengalaman membantu prosesi pemakaman dengan tanah penguburan seperti itu. Nopri adalah orang Toraja, yang kebanyakan pemakaman dilakukan di dalam patane atau goa dan dimasukkan dalam peti. Nopri adalah orang Kristen. 

Saya tersenyum melihat Nopri memegang sekop atau menggantinya dengan cangkul. Dan benar saja, beberapa kali dia melakukannya, badannya menjadi loyo dan gemetar. “Penghilatanku jadi hitam. Makanya saya duduk,” katanya. 

“Jadi saya pikir, ai, pingsan ma ini. Lama sekali ka itu perbaiki perasaanku,” lanjutnya. 

Tapi setelah penguburan usai, prosesi terakhir adalah berdoa bersama yang dipimpin seorang pemuka agama untuk keselamatan Bapak Cappa. Setelah itu perlahan orang-orang meninggalkan pemakaman. 

Tapi doa-doa sendiri dari masing-masing orang akan dilakukan. Nopri terlihat khusuk juga menunduk. Apakah dia berdoa atau merenung. Iqbal bilang; Kau baca doa apa tadi Nopri, baca apa? 

“Pasti bertabrakan doa ini,” kata Iqbal. 

Nopri tertawa. Kami yang mendengarkan ikut nimbrung; “Jadi nanti kalau malaikat sudah datang ke Bapaknya Cappa, dia akan membagikan ucapan do aitu. Nah tiba-tiba ada satu doa kritsten yang masuk. Pasti kaget malaikat,” 

“Tapi banyak doa, banyak pintu. Dan itu menandakan almarhum orang yang baik.” 
Pada kalimat terakhir itu, di depan rumah menjelang sore, semua orang tersenyum. Dan sepertinya kami telah sepakat. 

Rabu, Oktober 23, 2024

Kakek, Sedang Apa Di Atas Sana?

Kamis, 17 Oktober 2024. Beberapa jam setelah pemakaman Bapak. Mamak berbaring di kasur kamar. Dia telentang dan pandangannya kosong. Saya mencoba menggoda dan menghiburnya. “Kulalai dikka, reso-reso na bapakmu bawa na jumai,” katanya. (Saya ingat perjuangan Bapakmu membawa saya ke sini).

Saya terdiam. Kalimat itu menghantam kepalaku. 

Awal tahun 1980 Bapak bertemu dengan Mamak di Surabaya. Kala itu, Bapak bekerja sebagai kru kapal di sebuah kapal Pelayaran Nasional. Mamak masih SMP waktu itu, Bapak berusia 20 tahun. Mereka kemudian saling mencintai. 

Tahun 1982, mereka berdua menikah di Surabaya. Nenek saya di kampung, marah-marah dan tak setuju. Bapak kemudian membawa Mamak ke Makassar. Dia tinggal di sebuah kosan bersama Nenek Ibu kami (sepupu dari nenek di kampung), di kawasan Ratulangi. Hingga jelang dua tahun. 

Tahun 1984, Mamak kemudian hamil. Keluarga lainnya, mengabarkan kondisi itu ke Nenek di kampung. Beberapa bulan kemudian, Mamak pulang ke kampung, membawa saya dalam rahimnya. 

September 1984, saya lahir. Keluarga suka cita dan bahagia. Diberilah saya nama, Eko Rusdianto. Saya menjadi cucu pertama. Maka semua sapaan berubah, menjadi Mamaknya Eko, Bapaknya Eko, Neneknya Eko.  

Entah tahun berapa, Bapak kemudian tidak menjadi kru kapal Pelni, tapi berpindah ke kapal kargo yang rutenya ke luar negeri. Setiap kali dia pulang, dia membawa cerita yang beragam. Dari mulai salju, hingga lautan yang mengamuk. 

Saya juga ingat, saat kelas tiga sekolah dasar, Mamak mengajak kami ke Surabaya, ke kampungnya. Waktu anaknya masih tiga orang. Saya, Iwan dan Tina. Tapi rupanya, skenario jalan-jalan itu adalah untuk berpindah. Keluarga Mamak di Surabaya mengajak saya melihat sekolah. 

Ada rencana, orang tua saya berpindah pendudukan. Tapi dua pekan di Surabaya, menjadi buyar. Iwan, saban hari selalu sakit dan selalu teriak mencari Nenek. Akhirnya, kami pun pulang kembali ke kampung. 

Saya ingat betul kami sampai rumah di kampung, pada dinihari. Nenek membuka pintu dan begitu ceria menyambut kami. Inilah setapak tangga, keluarga kami melangkah. 

Setelah Tina, seorang lagi lahir. Namanya Eva. Dia perempuan yang menggemaskan waktu kecil. Rumah panggung Nenek di kampung semakin ramai. Kami berbagi kasur saat tidur. 

Tapi sebagai cucu pertama, saya punya banyak akses kemudahaan. Jika Mamak, harus bersempit-sempit dengan Iwan, Tina dan Eva, saya dengan leluasa bisa memeluk guling sendiri bersama Nenek di ranjang dapur yang hangat. 

Hingga kemudian, rumah panggung itu menjadi rapuh. Bapak yang bekerja di kapal, mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dan dikelola Mamak dengan cerdas. Mulanya, dapur rumah panggung itu dibongkar, lalu dibangunlah rumah beton. 

Pondasi untuk badan rumah yang utuh didirikan di bawah rumah panggung dan disela tiangnya. Beberapa tahun, bangunan rumah beton itu bertahan, dengan satu kamar, dan dapur. Di rumah yang sempit itu, keluarga kami dengan bahagia menjalankan kehidupan. Ada Nenek, Mamak, Saya, Iwan, Tina, Eva dan kemudian lahir lah lagi seorang anak perempuan namanya Medi. 

Ketika Bapak pulang berlayar, maka rumah menjadi lebih sesak. Tapi entah kenapa, rumah itu terasa legah saja jika kuingat. Kemudian uang keluarga kami berkumpul. Maka badan rumah dibangun pelan-pelan. 

Ketika bangunan itu berdiri, rumah beton itu terasa begitu besar. Maka jadilah kami punya empat kamar di rumah. 

Kamar orang tua berpindah ke badan rumah. Kamar di dapur itu, menjadi tempat Nenek. Ketika SMA, saya menempati kamar paling depan. Tahun 2002, saya melanjutkan pedidikan di perguruan tinggi di Makassar. Lalu saya sakit perut dan harus dirawat di RS Wahidin Sudirohusodo selama satu minggu. Nenek dan Mamak bergantian merawat. Tapi Nenek tak pernah meninggalkan saya di rumah sakit. 

Saya ingat betul, dia menemani saya masuk kamar mandi. Menyiram pantat, ketika saya hendak cebok jika sudah berak. Beberapa tahun selanjutnya, Nenek terserang stroke. Dia lumpuh dan harus berbaring di kasur kamar dapur itu. 

Keluarga kami merawatnya dengan bahagia. Hingga kemudian, Nenek kami tak lagi mampu membawa penyakitnya dan meninggal dunia. Tapi sehari sebelum meninggal, keluarga menelfon saya yang lagi di Makassar, kuliah. 

Mamak bilang, saya harus pulang. Karena sepertinya, Nenek yang sedang dalam masa kritis dan menuju sakratul maut, menunggu saya. Akhirnya, saya memacu kendaraan roda dua saya ke kampung. 

Saya tiba di kampung, pada sebuah sore. Banyak orang sudah berkumpul di rumah kami. Keluarga sudah sesak. Beberapa orang bergantian melantunkan ayat al-quran di dekat Nenek. Saya masuk ke rumah dan setengah berteriak. “Nenek, saya sudah ada,” kataku. 

Saya masuk ke kamar, dan memegang tangan lalu menciumnya. Nenek membuka mata dan tersenyum. Semua orang yang menyaksikannya juga tersenyum bahagia, sebab sudah tiga hari Nenek tak pernah membuka matanya. 

Jelang pukul 20.00 saya, melihat keadaan Nenek semakin menurun. Kakinya sudah begitu dingin. Pahanya juga dingin. Bagian vaginanya juga sudah dingin. Tersisa yang hangat pada bagian atas dada, dekat dengan pangkal leher. 

Saya menghela nafas. Saya bisikkan kemudian di telinganya kalimat sayahadat. Lalu meminta maaf untuk semua kesalahan yang pernah kuperbuat. Lalu pelan-pelan, saya ucapkan: jika Nenek sudah ingin meninggal, saya memohon untuk tidak melihatnya. 

Berjalan keluar kamar, dan meminta sepupu saya bergantian menjaganya. Alasan saya, hendak merokok. Di depan rumah, saya membakar rokok. Hanya beberapa kali hisapan, suara tangis pecah dalam rumah. Nenek saya meninggal dunia. Saya mafhum dan masuk melihatnya kembali. 

Keesokannya, prosesi pemakaman dilakukan. Setelah jenasah dimandikan. Dikafani. Lalu diangkat ke keranda. Dan jenasah diangkat meninggalkan halaman rumah. Saya merasa guncangan besar terjadi di dada saya. Kaki seperti tak punya tulang dan kepala tak bisa berpikir. Saya menangis tapi tak mengeluarkan suara. Sakit sekali. 

Ini lah kali pertama saya merasakan sakit yang begitu dahsyat. 

TAHUN-tahun berlalu. Hingga saat saya memiliki dua orang anak, hingga saya menuliskan kisah ini, pengalaman kehilangan itu tak pernah lepas. Hingga pada September 2024, Bapak saya, sakit. 

Itu terjadi, di rumah kami di kampung. Pada sore jelang magrib, badannya menggigil dan demam. Lalu jelang tengah malam, Bapak mengeluh tak bisa menahan keadaannya dan meminta Mamak membawanya ke Rumah Sakit. 

Adik saya, Baso, suami dari Eva, membawanya dengan cekatan ke RS Hikmah Belopa. Empat hari dia menjalani perawatan inap. Dan mendapatkan diagnosa Leumenia Myloid Akut (AML)  atau kanker darah. RS Hikmah mengeluarkan surat rujukan ke Makassar, dan kami memilih RS Wahidin Sudirohusodo. 

Dua saudara bapak, om Anton (Kakak Bapak) dan Om Rahim (Adik Bapak), ikut serta mengantarnya. Bapak datang di rumah sederhana saya. Kami menyambutnya dengan penuh semangat. Elang, anak saya, cucu pertamanya, menyambut juga. 

Di rumah, Bapak tinggal dua hari. Sebelum tiba akhirnya, pada Senin, 23 September 2024, kami membawanya ke RS Wahidin dan antri di poliklinik bagian Hematologi dan Onkologi. Sekitar pukul 11.00 nama Bapak mendapat giliran. 

Saya bersama Asti anak bungsunya, anak keenam dari keluarga kami, mengantarnya bertemu dokter dalam ruangan itu. Mamak saya menunggu diluar, dia tak masuk. Ada juga Elang, yang menunggu di kedai Kopi Tiam di lantai dasar, sebab anak kecil tak boleh masuk. 

Dalam ruangan itu, asisten dokter hematologi itu, memberikan kami penjelasan. Dan belum bisa memastikan semuanya sesuai diagnosa dari RS Hikmah. Mereka akan mengambil sampel darah dan membawanya ke Laboratorium dan keesokan harinya baru kemudian akan dipastikan, apakah akan menjalani perawatan inap atau tidak. 

Tapi, kata dokter perempuan itu, untuk memastikan semua, akan dilakukan pengambilan sampel tulang belakang. Dengan cara menyuntiikkan jarum ke sisi panggul, menembus tulang, tepat di tempat produksi darah dalam tubuh. 

Dua jam berikutnya, kami meninggalkan poliklinik yang disesaki ratusan pasien itu. Kami mampir di sebuah warung makan Soto Ayam Lamongan di jalan Perintis Kemerdekaan. Elang, bersisihan dengan kakeknya makan. Dan dia bilang: Kakek harus makan semangat, supaya sakitnya bisa dilawan. 

Dari tempat makan itu, kami tak pulang lagi ke rumah saya. Tapi terus ke rumah Iwan di kawasan Gowa, agar akses jarak ke RS Wahidin lebih dekat. Di sana, kami menunggu hasil analasis darahnya. Keesokannya, hasilnya tak berubah, Bapak mengidap AML. Dan Bapak harus rawat inap. Hati saya menjadi berantakan dan limbung. 

Akhirnya, surat rujukan perawatan kami bawa ke Gedung IGD, bagian Admission. Tapi kamar perawatan pagi itu masih penuh pasien. Kami menunggu. Hingga jelang pukul 17.00 kami mendapatkan kamar perawatan di Lontara 2, kamar 3. 

Ini adalah kelas perawatan dengan jaminan Kesehatan menggunakan BPJS kelas 3. Di kamar itu, ada enam pasien yang berbagi sekat. 

Kami mengantar Bapak masuk perawatan selepas magrib. Lalu beberapa menit kemudian, perawat datang dan memasang selang infus di tangan Bapak. 

Keesokannya, dokter datang dan memberikan kami informasi keadaan kesehatan Bapak. Jika darah putihnya mencapai 70.000, dimana idealnya darah putih untuk pria dewasa adalah 20.000 per milligram. 

Saya masih kelabakan memikirkannya. Lalu mencoba menelusurinya di laman internet, dan menemukan kisah sel darah putih. Perbandingan bagi Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA) sel darah putihnya sangat rendah dibawah angka standar, yakni bisa saja hanya berkisar 200. 

Mengapa penderita leukimia, mengalami hal itu? Pada prinsipnya, sel darah putih merupakan sel yang melawan jika ada luka dan virus yang masuk dalam tubuh. Meningkatnya sel darah putih secara tak wajar, kata Gabby, nona dokter terbaik kami, biasanya menunjukan adanya keganasan. 

Keganasan, kata Gabby, bisa jadi ada tumor atau kanker. Saya menghela nafas, membaca penjelasan itu. Dan memang saya siap menerima keadaan paling buruk. 

Akhirnya, saya memberitahu Bapak mengenai keadaan penyakitnya. Dia merenung cukup lama. Bapak bilang, leukimia ini penyebabnya karena apa? Saya menjelaskannya dengan seadanya, bisa jadi makanan, keturunan, dan bahkan kontaminasi bahan kimia. 

Saya bilang kemudian, selama 30 tahun lebih, Bapak bekerja sebagai tukang las di kapal. Menghirup asap las yang bercampur elektroda dan bahan aktif lainnya. Dia memandang saya menelisik kehidupannya sebelumnya. “Kalau karena asap las, itu nda bisa dipungkiri,” katanya. 

“Apalagi las dalam tabung. Itu asap las, memang bisa bikin sesak. Biar pakai masker, itu tembus,” lanjutnya. 

“Itulah. Kalau nanti adekmu menelfon, kau kasi tahu untuk hati-hati juga.” 

Bapak mulai menerima keadaan itu. Tapi dia mengkhawatirkan Iwan, anaknya yang juga mengikuti jejaknya sebagai kru kapal. Iwan juga menjadi tukang las di kapal. “Kasi tau Iwan. Kasi tahu i,” tegasnya. 

Selain Iwan, Om Rahim, juga bekerja di kapal, juga seorang tukang las. Saat saya memberitahukan kekhawatiran itu, dia mengangguk. “Yamia to. Parallu dijaga to,” katanya. (Itu penting, dan harus menjaga keselamatan).

Dua hari di ruang perawatan, dokter menyarankan Bapak untuk transfusi trombosit dan sel darah merah untuk menambah Hb. Hari itu, hasil analasis laboratorium darah Bapak menunjukkan, trombositnya hanya sekitar 7.000 dari angka normal 135.000. Sementara HB-nya hanya sekitar 6 dari angka normal 12 atau 13. 

Dalam catatan dokter, Bapak memerlukan 8 kantong trombosit dan 2 kantong sel darah merah. Saya kemudian mengunjungi Unit Transfusi Darah RS Wahidin, dan mereka hanya memiliki persediaan sel darah merah. Trombosit harus cari diluar. 

Saya menuju Unit Tranfusi Darah Makassar di depan gerbang kompleks Bumi Tamalanrea Permai, dan trombosit itu tersedia, meski harus menunggu sekitar 3 jam prosesnya. 

Di Lontara 2, selama dua pekan Bapak dirawat. Dia membutuhkan trombosit sebanyak dua kali, atau sebanyak 16 kantong dan empat kantong darah merah. 

Ketika tranfusi trombosit dan darah merah dilakukan, nampak jelas perubahan kondisi fisik Bapak yang membaik. Wajahnya menjadi cerah dan tidak pucat lagi. Kakinya juga tidak begitu pucat. 

Akhirnya, dokter meminta kami untuk keluar rumah sakit, ketika trombosit bapak sudah mencapai 10.000 dan HB nya mencapai 8. Kata dokter, Bapak boleh istirahat di rumah dulu, selama seminggu, bertemu cucu dan keluarga, serta menghirup udara segar. 

Jelang siang, infus bapak dicabut. Dia senang sekali. Menggunakan celana panjang dan kaos berkerah, dia berbaring sambil mengangkat tangannya ke kepala, menunggu resep dokter. Setelah semua beres, Bapak berjalan keluar kamar perawatan dan naik ke mobil dengan begitu sumringah. 

Dia duduk di kursi depan berdampingan dengan saya. Dia bilang, mau makan ikan bawal laut. Dia rindu sekali ingin mengecap daging itu. Tapi di Makassar, mencari ikan bawal menjadi sangat sulit. 

Akhirnya di perjalanan kami pulang ke rumah, kami menemukan penjual ikan bakar di BTP, yang menjual ikan baronang dan ikan putih. Bapak bilang tidak apa-apa, yang penting ada sambalnya. 

Sesampainya di rumah, dia langsung duduk di lantai dapur dan melahap ikan itu. Bapak sungguh menikmatinya. Setelah makan, dia duduk sesaat di kursi teras dan melihat cucunya bermain. Kini Bapak punya lima orang cucu. 

Dua cucu, laki-laki dan perempuan dari anak saya bersama Tika istri saya. Satu anak laki-laki dari anak Tina bersama Amrin. Satu laki-laki dari Medi dan Ippang. Serta satu perempuan dari Eva dan Baso. 

Tapi Bapak juga sedang menunggu kelahiran cucu perempuan anak kedua Eva yang masih dalam kandungan berusia tujuh bulan. Sore itu Bapak bersendagurau dengan cucunya. Dia tersenyum dan tertawa. 

Tiga hari di rumah, Bapak mengalami demam dan pendarahaan pada gusinya. Saya khawatir dan membawanya menuju IGD RS Wahidin, jelang pukul 23.00. Tindakan itu, kami lakukan sesuai perintah dokter, bila Bapak demam atau pendarahan, harus langsung dibawa ke IGD, tidak perlu menunggu Jumat untuk jadwal kontrolnya. 

Kamis malam itu, saya bersama Asti dan Sasty anak menantunya, membawa Bapak ke IGD. Dokter dengan sigap melayani kami. Lalu kemudian, memberikannya suntikan infus dan mengalirkannya paracetamol dalam botol melalui selang infus. 

Setelah paracetamol habis, Bapak mulai tenang. Lalu petugas kesehatan lainnya, mengambil sampel darah Bapak dari lengan. Dan meminta saya membawanya ke Laboratorium darah di lantai dua Gedung IGD. Keesokan, hasilnya keluar, trombosit jatuh ke angka 5.000 dan Hb-nya masih diangka 8. 

Petugas IGD kemudian memberikan saya secarik kertas untuk melakukan transfusi trombosit, juga sebanyak delapan kantong dan sel darah merah sebanyak dua kantong. Seperti biasa, UTD RS, hanya tersedia darah merah, trombosit harus mencari diluar. 

Di UTD depan Kompleks BTP stok kosong. Saya menuju kantor PMI Sulawesi Selatan di Jalan Lanto Daeng Pasewang dan menemukan stoknya tersedia. Di PMI Sulawesi Selatan ini, trombosit diproses sekitar 1 jam. 

Setelah mendapatkan trombosit, saya membawanya ke UTD RS untuk dilaporkan. Lalu beberapa jam kemudian, Bapak mendapatkan transfusi trombosit itu. 

Dua malam kami di IGD, akhirnya kami mendapatkan kamar perawatan di lantai dua Palem, Kamar 208. Ini adalah ruang perawatan untuk kelas 1 peserta BPJS. Kamar itu hanya dihuni oleh dua orang. Bapak menjadi senang meninggalkan IGD yang riuhnya tak pernah berhenti selama 24 jam. 

Di kamar perawatan, Bapak bisa memejamkan matanya. Dia bisa beristirahat dengan tenang. Meski kamar lebih kecil dibanding ruang perawatan Lontara 2. Tapi pada hari ke lima di ruang perawatan itu, Bapak mulai mengeluh. Dia bilang, penyakitnya sangat mengganggu, karena membuatnya gelisah. Dia merasa tubuhnya tak bisa beristirahat dengan baik. 

Secara fisik, tak ada bagian tubuh yang sakit. Tapi secara mental sangat kelelahan. Di leher, kelenjarnya pun mulai membengkak. Dalam lubang hidungnya juga ada benjolan yang tumbuh. Dia mulai merasakan semakin sesak. Sementara gusinya ikut berdarah. 

Meski beberapa hari, Bapak sudah menggunakan diapers untuk kebutuhan kecingnya, dia tak ingin berak di celana itu. Jadi pada hari ke lima di sore itu, dia meminta saya menemaninya ke WC. Dia berjalan dan saya memegang infusnya. 

Saat dia berak, dan membantunya menyiram tahi, saya liat warnanya sangat hitam. Tapi Bapak tak peduli. Dia kemudian berjalan ke ranjangnya dengan pelan. Sampai di ranjang, dia menjadi sesak. Saya memintanya baring dengan pelan dan menaikkan sandaran kasur, hingga posisinya seperti orang duduk. 

Bapak merasa agak baikan. Lalu tiba-tiba petugas rawat melihat kondisi itu. Dia bilang ke saya, kalau Bapaknya mau berak dan kencing, tidak usah ke WC. Buang airnya di kasur saja. “Kasihan Bapak ini sesak. Jangan ya pak. Nanti kalau berak biar anaknya yang bersihkan. Kan tidak apa-apa,” kata petugas rawat inap itu. 

Bapak menerima masukan itu. Sementara dia semakin sesak, petugas medis itu memasangkannya selang bantu oksigen dengan tabung tinggi di dekatnya. Selang itu, maksimal akan menghantar oksigen sebesar 5 ml. 

Ketika selang oksigen itu dipasangkan dihidungnya, Bapak makin susah bernafas. Tapi perawat inap itu, menenangkannya dan memintanya bernafas dengan pelan melalui hidung. Akhirnya Bapak bisa melakukannya. 

Malam itu Bapak bisa tidur dengan nyenyak. Hanya sekali dia bangun pada dinihari, karena berak dan saya mengganti diapersnya. Lalu kembali tidur dengan baik. Sebelumnya, dokter juga meminta tranfusi trombosit sebanyak delapan kantong dan dua darah merah. Malam itu, transfusi tidak dilakukan. 

Keesokan paginya, saya dan Riri, keponakan Bapak anak dari Om Rahim yang menjaganya, akan berganti jaga. Jelang pukul 09.00 Riri, pamit ke Bapak. “Om Ummang (panggilan akrab para ponakannya, karena Namanya Rusman), pergika dulu kerja nah,” katanya. 

“Iya hati-hati. Jangan balap-balap,” kata Bapak. 

Jelang pukul 10.00, Tina dan Sasty datang. Kini giliran saya yang meninggalkan ruangan untuk mencari makan dan kopi. Saya pamit ke Bapak dan kemudian memilih mencari makan di kantin kampus Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin, yang berdampingan dengan RS Wahidin. 

Saat saya meninggalkan ruang perawatan, Bapak melakukan tranfusi trombosit dan darah merah. Tapi beberapa saat selanjutnya, selang oksigennya diganti menjadi masker yang menghantarka oksigen hingga 15 ml.

Sementara di kampus saya makan bersama Eril kawan angkatan kuliah saya di Arkeologi tahun 2002. Setelah makan kami berpindah di gazebo dan menyeruput kopi lalu berbincang banyak hal. Setelah itu, ikut pula Dekan FIB, Prof. Akin Duli dan seorang dosen lainnya. 

Membicarakan banyak. Lalu sekitar pukul 13.30, saya baru memperhatikan hape dan melihat panggilan tak terjawab Tina. Panggilan ke empatnya, saya angkat dan mendengar suara Tina menjadi lirih seperti sedang menangis. 

“Eko dimana ki. Kesini ki, na cari teruski Bapak,” katanya. 

Saya menjawabnya singkat dan langsung meninggalkan tempat diskusi. Dari parkiran saya memacu motor dan masuk ke RS Wahidin. Saya berlari ke lantai dua Palem dan masuk ke ruangan. Saya lihat kondisi Bapak sedang tak baik-baik. Di dalam kamar, Mamak sudah ada. 

Lalu kami mengganti diapers yang katanya sedang berak. Saat membersihkannya, saya lihat penis Bapak sudah mengecil dan sudah tak terlihat batang. Saya ingat, petuah-petuah orang di kampung, jika salah satu tanda, orang dalam keadaan sakratul maut adalah penisnya mengecil bagi laki-laki. 

Saya panik. Saya melihat Bapak dan mendekatkan mulutku ke telinganya, jika kami anaknya sedang berusaha menjaga dan mencari jalan pengobatan terbaik untuknya. Setelah Bapak sedikit tenang, saya berlari ke luar kamar dan menelpon Om Anton dan Om Rahim, untuk segera ke Makassar. 

“Kalau kau bilang begitu nak, kami ke Makassar sore ini,” kata Om Rahim. 

Saya kembali masuk ruangan. Saya bilang ke Bapak, kalau saya sudah mengabari saudaranya dan dia akan datang. Tina membacakan salawat, istigfar di telinga. Saya membacakan beberapa surah pendek di telinga satunya yang kutahu artinya. Tak lama kemudian, beberapa keluarga datang, dan keadaan ruangan menjadi tegang. Lantunan surah Yasin dibacakan ke Bapak. Saya tetap memeluk kepalanya dan mengusap-usap pipinya. 

Dari kapal Iwan, juga sudah melakukan panggilan video dan terus menangis. Riri juga sudah kembali lagi ke RS Wahidin. Saya ingat, malam itu, dia minta saya membawa Elang, cucu pertamanya untuk menemuinya. 

Tika dalam perjalanan dari rumah ke RS dan kemudian meminta Elang turun lebih cepat. Tika meminta izin ke perawat dan saya meminta izin ke satpam dan bakal menanggung akibatnya, sebab Bapak sedang sekarat dan dia ingin bertemu cucunya. 

Pertugas Satpam dan perawat memberikan ijin. Elang berjalan dengan cepat dan masuk ke kamar Bapak. Dia datang dan membisik ke telinga. “Kakek, saya Elang. Saya sudah datang,” katanya. 

Bapak membuka matanya dan melihat tanpa arah. Lalu sedikit tenang dan kembali tersengal dengan nafas yang berat. Elang, berdiri di dekat ranjang kakeknya dan menatapnya dengan lekat. 

Ketika nafasnya menjadi semakin lemah, saya memasukkan tangan ke selangkangan dan mendapatkan penis Bapak sudah sangat dingin. Rasanya dunia akan runtuh. Dan tiba-tiba saja, Bapak meninggal dunia. Petugas medis yang ada menyaksikan itu mencoba, menenangkan keluarga, dia memeriksa denyut nadi di dekat lehernya dan bilang masih berdetak. 

Dia meminta ijin ke saya, untuk melakukan CPR (Cardio Pulmonary Resuscitation). Saya membolehkannya. Tiga perawat perempuan bergantian memompa bagian dada Bapak. Dan kemudian, mereka menyerah dan bilang sudah meninggal. 

Medi yang juga sejak beberapa waktu lalu sudah ada di kamar, meraung. Dia memegang tangan perawat itu tak terima. Mamak menjadi begitu lemas. Asti menjadi makin histeris dan bilang kalau dia sudah tidak punya Bapak. Tina juga menangis histeris dan berkali-kali bilang; Bapak Eko, Bapak Eko…        

Saya mendekati adik-adik saya itu satu persatu dan memeluknya dengan tegas. Saya mendekati Elang, dan menciumnya. Mamak saya sudah terbenam dalam perutku. Tangannya gemetar memeluk pinggang. 

Ketika selang infus itu dilepas, hati saya menjadi begitu berat. Seorang kerabat datang mencoba menuntun. Petugas rawat membantu, mengikat tangan Bapak yang dilipat di perutnya. Mengikat kepalanya dari dagu, agar mulut tak terbuka dan mengikat kakinya. 

Setelah itu, saya membungkus jenasah Bapak dengan kain sarung yang kami bawa. Saudara saya, Iqbal Lubis, yang datang telat, memeluk saya. Dia masuk ke kamar jenasah, dan saya meminta Medi yang menjaga untuk membuka penutup wajah Bapak agar Iqbal melihatnya. 

Rasanya dunia mejadi runtuh. Sesak di dada menjadi makin pilu. Di kamar mandi/WC kamar perawatan, saya membenamkan wajah ke baskom yang penuh air dan melampiaskan tangis. Setelah itu saya melangkah keluar dan mencium kembali jenasah Bapak. 

Lalu kemudian, saya mengurus keperluan lainnya. Surat kematian. Hingga menyiapkan mobil jenasah yang akan menghantar Bapak ke Suli. Saudara saya yang lain, Yuda, juga datang telat. Dia mendapati jenasah Bapak ketika sudah berada di kamar jenasah. Yuda lah yang membantu mengangkat janasah dari ranjang ke dipan kasur milik mobil jenasah. 

Yuda menyuruh saya memegang kepala Bapak. Sementara dia, dengan enteng mengulurkan tangannya masuk ke sela pantat Bapak, dan mengangkatnya. Sekejab saya meliriknya, ini adalah bagian penting dari jenasah yang biasanya akan disentuh oleh keluarga terdekat. Dalam perjalan membawa jenasah, saya membungkus jenasah bapak dengan selimut. Mengingat Yuda memperlakukan Bapak.  

Maka; 

Rabu 16 Oktober 2024, sekitar pukul 16.30 Bapak saya meninggalkan kami. 

Rabu 16 Oktober 2024, sekitar pukul 19.30 mobil jenasah mengaumkan sirenenya membelah jalanan dengan kecepatan tinggi menuju Suli. 

Kamis 17 Oktober 2024, sekitar pukul 01.00 jenasah Bapak tiba di rumah yang dibangunnya dengan uang keringatnya sendiri. Jenasahnya diletakkan di ruang tengah, seperti posisi Nenek beberapa tahun lalu. 

Kamis, 17 Oktober 2024, sekitar pukul 12.00, jenasah Bapak diangkat masuk ke kamarnya. Di dalam ruangan itu, kami memandikannya dengan penuh hikmat. Elang, juga ikut menyaksikan Kakeknya dimandikan. Lalu dibalutkan kain kafan, disalatkan, dan kemudian dihantarkan ke pekuburan umum. 

Ketika jenasah Bapak turun ke liang lahat itu, saya menghaturkannya doa dan ucapan terimakasih yang begitu dalam telah menjadi orang tua untuk saya, untuk adik-adik saya. Dan menjadi Kakek yang baik hati. 

Saya duduk dengan posisi jongkok melongo menyaksikan jenasah itu dibaringkan di liang. Elang ada di dekat saya dan ikut menyaksikannya juga. 

Setelah liang kubur itu tertutup, kami berdoa bersama para pengantar. Lalu meninggalkan kuburan dengan perasaan campur aduk. 

Minggu pagi, 20 Oktober 2024, saya, istri dan dua anak, pamit ke Mamak dan menuju Maros untuk melanjutkan hidup. Saya tak bisa membicangkan dan menuliskan perasaan itu. Dan pada Rabu, 23 Oktober 2024, saya ke rumah Sasty untuk mengambil hape Bapak, yang sejak sakit tak pernah diaktifkan lagi. 

Ketika hape itu aktif. Saya membuka aplikasi pesan WhatsApp. Pada Minggu 20 Oktober 2024, pukul 11.26, ada pesan dari Elang, kepada Kakeknya. “Kakek apa kita bikin di sana,” tulisnya. 

Esoknya, pada Senin 21 Oktober 2024, pukul 12.41, itu tepat ketika dia sudah pulang sekolah, dia kembali mengirim pesan ke Kakeknya. “Kakek apa kita bikin di atas sana.” 

Membaca itu, hati saya remuk. Lalu pelan-pelan saya bertanya pada Elang. “Elang rindu sama Kakek?,” 

“Iya,” 

“Bagaimana Elang kenang Kakek kah?,”

“Kakek yang baik hati. Tidak pernah marah. Saya sedih,”

“Kakek pasti senang karena dia tahu, cucunya ingat dia sebagai orang baik,” 

“Iya. Tapi sayang sudah tidak bertemu lagi secara langsung. Tapi saya beruntung, saya kenal Kakek,” 

“Iya Elang, anak yang beruntung,” 

“Tapi tidak ada lagi yang selalu telfonka akhirnya.” 

Senin, Agustus 12, 2024

Tako adalah Takdir di Kombong

29 Juli 2024, lelaki yang ramah dan keras kepala itu meninggal dunia. Saya memerlukan sepekan mengenangnya dengan takzim hampir saban hari. Saya dan kampung kami itu benar-benar merasa kehilangan.

Jika menyebut satu nama di kampungku yang begitu elegan, maka saya akan menyimpan satu: Takdir. 

Takdir adalah nama seorang lelaki. Di kampung, orang-orang menyapanya dengan sebutan Tako. Belakangan ketika dia menikah dan punya anak, dia kemudian disapa Bapaknya Bumi. Bumi, adalah nama anak pertamanya. 

Seingat saya, beberapa tahun sebelum dia menikah, di dekker, tempat kami selalu menghabiskan malam, dia mengeluhkan nama anak-anak yang lahir dengan meniru nama artis. Baginya itu ribet dan susah menyebutkannya. 

Ake deng mangka anakku, laku sanga aku litak,”katanya. 

Dan benar saja. Litak dalam bahasa Luwu, adalah tanah. Maka dinamai lah anak lelakinya menjadi Bumi. 

Tako, dalam ingatan saya sejak SMP, adalah seorang anak muda yang pandai bermain bola. Jika dia bermain, posisinya berada di gelandang serang. Dia juga kadang menjadi second striker – orang di belakang penyerang utama. 

Sebagai seorang gelandang, dia pandai sekali mengatur serangan. Jika Persatuan Sepakbola Kombong bermain, maka tak ada yang berhak mengikat ban kapten di lengannya kecuali dia. Di lapangan, Tako begitu tenang dalam memainkan bola. 

Belakangan, saya membayangkan dia seperti Zidane di Juventus dan Prancis. Serumit apapun bola di lapangan, para pemain cukup mengumpannya ke Tako, maka bola itu akan bergerak dengan begitu anggun. 

Selain kepiawaiannya bermain bola, hal utama lain yang wajib dimiliki pemain bola antar kampung adalah nyali. Tako, adalah manusia yang diberikan takdir dengan nyali diatas level wajar. 

Teman-temannya yang bermain bersama, akan merasa selalu terlindungi dengan hadirnya Tako. Suatu waktu, saya ikut menyaksikannya bermain di lapangan Desa Malela. Itu jika tak salah ingat sekitar tahun 2001. Kombong melawan Temboe. 

Ini adalah dua tim yang kuat. Punya materi pemain yang sangat baik. Pada babak pertama, tegangan antar pemain sudah mulai terlihat. Kami yang menonton tepat disisi garis lapangan, memberi semangat. 

Lalu tiba-tiba, seorang pemain Kombong dijatuhkan dan sangat keras. Pemain dalam lapangan saling dorong mendorong. Saya ingat waktu itu, Jareng, pemain Kombong langsung memukul salah seorang pemain Temboe. Keributan tak terhindarkan. 

Tako berlari ke kerumunan, berusaha melerai. Tapi tak bisa. Dan dia pun ikut berkelahi. Supporter tentu saja ikutan. Aksi saling kejar terjadi, hingga ke dalam kebun kakao.

Suatu waktu lagi, saya melihatnya menangis sesenggukan. Pertandingan itu membawa nama kecamatan Suli. Tako juga menjadi kapten tim. Pertandingan itu dilaksanakan di lapangan desa Kasiwiyang. 

Ini pertandingan yang selalu kami tunggu-tunggu. Sebab di tim lawan ada Gatot, seangkatan Tako yang sama mumpuninya dan sama besar nyalinya. Ketika pertandingan berlangsung, babak pertama begitu menyenangkan. Kasiwiyang tertinggal satu gol. Maka di babak kedua, tensi pertandingan meningkat. Saling sleding pemain dari arah belakang terjadi. 

Tako mengingatkan rekan-rekannya untuk tetap tenang. Tapi entah bagaimana dalam lapangan terjadi keributan dan Gatot mulai memukul. Perkelahian tak terhindarkan. Tako berupaya melerai, tapi dia kena pukul. 

Tak berlangsung lama, perkelahian berhenti. Tako berjalan ke pinggir lapangan dan menangis besar. Dia tak menyangka, Gatot yang dianggap karib dan saudaranya tega memukul adik-adiknya dari Suli. 

Saya menyaksikannya, Tako menangis dengan gemetar. Bagi dia, itu tak patut terjadi. Saudara itu saling menjaga. Saling membantu. “Apa sanganna,” katanya. (Kenapa dia (Gatot) bisa melakukannya) 

Kejadian itu terus membekas diingatan. Tako memberikan saya pelajaran yang jauh dari ucapan, tapi pembuktian. Ah Tako, saya mencintaimu dengan sepenuh hatiku. 

Belakangan, ketika usianya semakin tua, beberapa anak-anak di kampung, termasuk ponakannya, menjadi piawai juga bermain bola. Tako mulai tak bermain. Di kampung, dia menjadi seorang petani yang ulet. 

Dia membangun rumah dan selalu ramah ketika berjumpa. Tako, juga punya mulut yang pedis. Ungkapannya yang jujur dan selalu spontan, tanpa memandang tempat menjadikan banyak orang menjadi telinga panas. 

Pada suatu waktu, seorang anak muda, sedang gemar-gemarnya belajar agama. Pada salat jumat, dia menjadi khatib. Ceramahnya panjang, hingga jelang pukul 13.00 belum usia. Semua orang merasa gusar, tapi tak seorang pun yang mengingatkan. 

Tiba-tiba, Tako teriak. “To la masumbajang sia raka te. Atau iko bammora la disadding maccarita,” protesnya. (Apakah kita akan tetap salat. Atau biar kita dengar kau saja cerita). 

Lalu gaduh terjadi. Dan si anak muda itu menyudahi ceramahnya. 

Tako hampir tak pernah meninggalkan kampung untuk merantau. Dimasa pensiunnya sebagai pemain bola tarkam, dia sangat mudah dijumpai. Dalam perangkat kampung, dia mengabdikan dirinya untuk menjadi seorang yang selalu bisa diandalkan dalam kedukaan. 

Tako belajar bagaimana menggali kubur ke orang-orang tua kampung. Bagi kami di kampung, menggali kubur bukanlah pekerjaan yang serampangan dikerjakan setiap orang yang kuat menggunakan sekop. Tapi penuh dengan doa. 

Jika ada keluarga yang meninggal di kampung, di kuburan, biasanya dia ada duduk didekat lubang dan menjadi penentu bagaimana ukuran liang yang tepat untuk jenasah. Jika secara kebetulan saya pulang kampung dan ada keluarga yang meninggal maka saya akan melipir ke kuburan. 

Di kuburan, kami akan saling bercanda banyak hal sembari menyeruput kopi dan menyulut rokok. Ada satu bahasan yang menyenangkan waktu itu. Tentang hal-hal kecil yang dilakukan oleh anak-anak muda di kampung. Tako mengingatkan untuk memperhatikan siapa yang akan mengangkat keranda kelak. 

Dan begitu saya ditampar dengan kejadian itu. Keluarga yang mengangkat keranda adalah anak muda, atau orang tua yang tidak tamat sekolah. “Ya bassia to tau micacca, panginu, tae jamangna. Ya bassia toi reso menang manjiong. Umba mi to panghapala korang, passubbajang,” kata Tako.  

Biasanya Tako akan melempar pernyataan macam itu ke saya. “Matumbaraka Eko. Tongang raka salah raka to kupau,” lanjutnya. 

Jika sudah demikian maka kami akan tertawa bersama. 

Pada Juni 2024, terkahir kali saya bertemu Tako di kampung. Kami berjumpa di pekuburan. Salah seorang keluarga kami meninggal. Dia menggunakan celana pendek. Dia marah-marah kepada orang yang mengambil papan yang digunakan untuk menahan galian tanah timbunan liang lahat. 

“Ake mi issengi, inda alai. Panguang lalona, la kurampoi. Apa iyya sanga, na baga-baga mele,” ceracaunya. (kalau kalian tahu, siapa yang ambil. Beritahu saya, akan saya datangi. Kenapa dia menjadi orang yang sangat bodoh)

“Apa mo to, passimparang mora dipake. Deng doping, dipameloi, diuki mo milik kuburan, innang pade duka iyya,” (Sekarang lihat, yang dipake itu hanya papan sisa. Sudah ditulis papan milik kuburan, tetap hilang) 

“Masaki te mai tau,” (Ini orang-orang memang sedang sakit semua)

Ah Tako, saya akan merindukanmu. Damailah meninggalmu. Saya mengenangmu sebagai manusia yang ditakdirkan memberikan kampung kita ini kedamaian dan keberanian. Terimaksih.