| Elang sedang melakukan persiapan untuk ujian pertamanya di Yamaha. |
SEBELAS tahun lalu, tepat 25 Mei 2015, itu jelang pukul 07.00 suaranya terdengar nyaring, dari celah ruangan operasi di RS Bersalin Restu, Makassar. Saya yang duduk di kursi panjang menunggu di depan ruangan bersama Mamak, saling menatap. Lalu mengucap syukur.
Mamak memberi saya selamat, lalu kami saling memeluk. Saya berdiri lalu mengintip celah pintu dan melihat perawat berjalan dari balik ruangan lain. Saya juga ke kamar perawatan dan memberikan kabar ke Mamak Mertua, jika bayinya sudah lahir. Pun kami bersama-sama melafalkan kata syukur.
Ruangan operasi di RS Restu punya dua sekat. Sekat pertama sebagai ruang pemulihan dan dapat diakses oleh keluarga pasien. Sekat berikutnya adalah ruangan operasi dengan pintu yang selalu tertutup rapat, yang kadang disebut juga ruang tindakan dan hanya boleh diakses oleh para tenaga medis.
Di luar ruangan saya gelisah juga senang. Duduk lalu berdiri, berjalan, lalu mengintip celah pintu. Berkali-kali saya mengulang adegan itu. Lalu akhirnya melihat seorang perawat menggendong bayi kecil itu. Kemudian masuk kembali ke ruangan tindakan.
Lalu beberapa saat kemudian, perawat itu membuka pintu dan mempersilahkan kami masuk. Bayi kecil itu sudah dibalut kain. Wajahnya merah dan bersih. Saya melihatnya dengan penuh ketakjuban. Perawat itu meminta saya membersihkan tangan. Mamak saya juga sekalian meminta saya ber-wudhu.
Saya mengangkat bayi kecil yang belum punya nama itu, lalu sesuai tradisi Islam, memperdengarkannya azan di telinga kanan dan kamat di telinga kirinya. Tapi disela itu, saya memohonkan doa agar kelak dia menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama mahluk di alam semesta ini.
Sesaat kemudian, Tika – istri saya – akhirnya didorong keluar dari ruangan tindakan. Dia senyum dengan wajah legah dan bahagia. Saya memberinya selamat dan pelukan ucapan terimakasih karena kekuatannya. Badannya masih ditutupi selimut dan sarung, dan tangannya masih menempel selang infus.
Mamak saya mengangkat bayi itu dan meletakkannya di antara lengan kanannya. Suasana pagi yang hangat dan gembira.
| Elang berpose di depan foto Masyarakat Papua yang terancam tergusur oleh proyek PSN. |
Ketika dokter bilang semua keadaan telah membaik, kami mendorong Tika dan Bayi ke ruangan perawatan. Dan perawat sebelumnya telah memberikan saya plasenta – ari-ari – bayi dalam bungkusan kain.
Di ruang perawatan, saya membersihkan ari-ari itu dengan pelan. Dua perempuan tua, mamak saya dan mamak mertua, bergantian membimbing cara membersihkannya. Ketika saya memegangnya, itu serupa daging empuk. Ketika air keran mengucur dan membasuh plasenta itu sisa darahnya mengalir di lantai kamar mandi.
Pelan-pelan seperti membilas, pelasenta itu menampakkan bentuk. Saya kemudian mengagumi selaput tipis dimana di salah satu bagiannya sudah robek. Selaput itu serupa palstik penutup makanan, yang ketika air masuk menggelembung seperti balon.
Saya mengangkatnya dan selaput tipis itu tidak robek. Mamak saya bilang, itu selaput yang membungkus bayi dalam kandungan. Benarkah demikian? Dan akhirnya saya benar-benar lupa menanyakan kembali ke perawat fungsi selaput itu.
Saya cukup lama mengagumi selaput itu. Mengisi air, mengangkatnya, mengosongkannya kembali. “Jangan mi main-main, bersihkan mi cepat e,” kata Mamak saya.
Setelah bersih, saya kembali membungkusnya dengan kain putih yang sudah dipersiapkan. Mengikatnya dengan kuat dan memasukkannya ke dalam guci tanah lalu menutupnya. Dari RS Restu, saya mengendarai motor membawanya ke Panaikang, rumah nenek Tika. Lalu menguburnya di depan rumah dekat pohon jambu.
Saya tak mengubur ari-ari itu di rumah kami di Batua Raya, karena itu adalah rumah kontakan yang bukan milik kami. Di Panaikang ketika mengubur ari-ari, saya menghadap kiblat dan menggunakan sarung. Lalu setelah itu masuk ke rumah tanpa bersuara dan berpura-pura tidur.
Saya tak boleh bangun, sebelum seseorang membangunkan. Tante Anni – saudari mamak mertua saya – yang tinggal di rumah itu kemudian membangunkan. Lalu kemudian, kembali ke rumah sakit.
Dalam perjalanan, saya merangkum segala kejadian dan proses kelahiran bayi kami itu. lalu tersenyum sendiri dan merasa bangga. Saya berhenti di jalan Pelita Raya dan membakar rokok, menghisapnya beberapa kali lalu melanjutkan perjalanan.
Belakangan, kebiasaan atau tradisi ini saya maknai sebagai proses berterimakasih pada semua keadaan, pada semua hal yang membantu. Dan sungguh-sungguh menikmatinya. Dan Elang – panggilan anak kami ini – tentu saja perlu mengetahuinya.
SEBELAS tahun lalu itu, seperti saja baru kemarin terjadi. Semua masih terekam dengan jelas di ingatan. Dan sebelas tahun lalu hari ini, tepat pada Senin 25 Mei 2026, seperti hari kelahirannya, Elang bangun lalu mandi.
Dia telah menggunakan seragam Sekolah Dasar. Dia sudah kelas 4. Dan dia juga telah memiliki adik perempuan bernama Werena Rawallangi berusia tiga tahun. Werena dalam bahasa kami di Luwu berarti berkah tuhan dibawah langit.
Setiap pagi, saya dan Tika selalu sibuk. Sebelum Elang bangun, kami sudah di dapur memasakkannya sarapan dan membuat bekal. Dia tak mau makan MBG. Alasannya jelas, nasi yang dibagikan dalam program pemerintah itu terlalu banyak. Sayurnya juga dipotong tak karuan dan itu menghilangkan selera makannya. Lauknya pun tak menggugah selera.
Atau mungkin, dia selalu mendengar orang tua berdiskusi soal MBG itu. Entah lah. Tapi kami juga tak ingin mengambil resiko, jika Elang tak mau makan MBG, itu pilihannya. Dan tentu saja kami mengetahui persis kebersihan makanan yang kami siapkan untuknya setiap pagi.
Pada Sabtu, 23 Mei 2025, saat mengantarnya ke sekolah dia tiba-tiba berucap. “Kalau MBG itu, kira-kira bersih ji semua makanannya kah. Atau bagaimana?,” katanya.
“Elang coba saja kalau mau,”
“Tidak mau. Kalau saya sakit perut atau rasanya tidak enak, pasti kecewa,”
Saya diam. Memastikan makanan itu sehat dan bersih bagaimana? Selama ini, akses untuk melihat dapur itu agak sulit dijangkau masyarakat umum, atau orang tua siswa. Di Sulsel, ada puluhan dapur MBG yang ditutup karena tidak sesuai standar kelayakan kebersihan.
Tapi tentu saja saya tak pernah percaya sepenuhnya mengenai evaluasi itu. Pengalaman saya sebagai wartawan telah melihat banyak hal yang mengecewakan. Dari mulai kesehatan warga di sekitaran pabrik nikel Bantaeng sungguh mencengangkan, padahal dokumen AMDAL mensyaratkan semua terjalin dengan baik dan sehat. Penggusuran lahan di banyak tempat. Aturan sempadan sungai yang dilanggar. Aturan membangun rumah di perkotaan mengenai fasilitas sosial juga diabaikan. Kecelakaan kerja di Morowali yang standarnya mengenai K3 juga jelas, tetap tak dipedulikan.
Jadi betapa rumit percaya kebaikan versi negara ini!
Cerita soal MBG telah berlalu dan kami telah melewati setengah perjalanan menuju sekolah Elang. Dia kembali ke bahasan lain. “Bapak sepertinya bakat saya menjadi pelukis tidak terlalu baik,” katanya.
“Kenapa? Lukisan Elang teman-teman Bapak banyak yang suka dan katanya, lukisannya sudah punya karakter,” kata saya.
“Tapi saya merasa kurang,” lanjutnya.
“Jadi,”
“Kayaknya, kalau pikir-pikir, cita-cita ku sekarang adalah ingin menjadi gitaris. Saya lebih suka itu,”
“Oke. Itu juga keren,”
“Iya, karena saya selalu senang kalau main gitar,”
“Apapun Elang mau. Yang penting dua profesi itu tak boleh jadi cita-cita kan,”
“Oh iya, saya tahu. Dan siapa juga mau jadi …..”
Sudah setahun ini, Elang mengambil les gitar klasik di Yamaha. Setiap Selasa, kami mengantarnya dan dia penuh semangat menjalani. Beberapa kali dia menjelajahi internet untuk melihat aksi para gitaris dunia. Di kepalanya menjadi seperti Paul Gilbert gitaris Mr.Big adalah targetnya.
Minggu 24 Mei 2026, di teras rumah saya membuka Youtube untuk mengenalkannya The Beatles. Saya memutarkan video Paul Mc. Cartney sedang memainkan solo gitar. Elang melihatnya dengan semangat. Meski dia tak begitu senang lagu The Beatles.
“Nah ini oke sih. Ini gitarisnya pasti lebih terkenal dari The Beatles.”
Saya tertawa.
MENJELANG SORE sebelas tahun lalu itu, Serang Dakko mengunjungi kami di RS Restu. Kami saling memeluk dan bilang kalau cucunya sudah lahir, seorang anak laki-laki. Dia tertawa. “Apa kubilang, kau yang bikin, tapi saya yang tahu kalau anaknya anakku itu laki-laki,” katanya.
Serang Dakko, selalu menyebut nama Tika kepada saya dengan Anakku. Saya ingat benar, ketika usia kandungan Tika menjelang masuk 3 bulan. Di kediamannya di area Benteng Somba Opu, Serang Dakko memegang perut Tika. Lalu bilang ke saya, jika anak kami kelak laki-laki.
Saya bercanda, kalau saya yang tahu. “Kau datang gere leherku kalau anakmu bukan laki-laki,” lanjutnya.
Akhirnya Serang Dakko menyapa Anaknya. Lalu kemudian dia beralih ke bayi Elang dan mengangkatnya dengan hati-hati. Selanjutnya, kami terperangah, kaena dengan suara keras dia bernyanyi royong dengan bahasa Makassar.
Syahdu sekali. Mamak saya dan Mamak mertua melihat menoleh ke saya. Tapi saya tersenyum. Keluarga saya dan Tika adalah generasi dari Luwu, Jawa, dan Enrekang. Kami tak punya silsilah dari Makassar dan tak mengerti bahasa Makassar.
Tapi Serang Dakko telah memulainya dan nyanyian pertama Elang dari bahasa Makassar, dari suaranya.
Royong adalah tradisi lisan orang Makassar. Liriknya bisa berupa puisi dan doa-doa sakral yang dilantunkan orang tua. “Saya royongkan anakmu itu doa-doa yang baik. Biar berani dan kuat,” kata Serang Dakko.
Sebelum dia berpamitan pulang, Serang Dakko lalu kembali berucap. Jika dia sudah menyiapkan kayu bulat dibuat gendang untuk bayi Elang. Nanti kalau dia sudah bisa, katanya, kau bawa ke rumah dan ambil gendannya.
Kami selanjutnya saling berpelukan sebelum dia pamit. “Kau jaga baik-baik anakmu Nak e,” katanya.
Pada sore beberapa jam berikutnya, kini giliran Zaenal Beta mengunjungi kami. Kak Enal, begitu saya dan Tika menyapanya dengan mengayuh sepeda dari Benteng Rotterdam ke RS Restu. Jaraknya tak begitu jauh dan memang bisa menjadi rute pulangnya ke rumah.
Kak Enal membawa sebuah bingkisan dengan bingkai dengan bungkus kertas. Sebuah lukisan dari tanah liat yang menawan. Menampilkan rumah panggung, dan seseorang di depan rumah di dekat depan sumur. Di sisi rumah itu ada beberapa pohon, lukisan itu menggambarkan suasana hijau.
“Saya gambar tadi pagi, waktu kau kabari anakmu lahir,” kata Enal.
“Wah terimakasih kak,” kata saya.
“Ini tanah dari Luwu dan ada tanah dari Makassar. Saya campur.”
Saya diam melihat hadiah lukisan itu. Dan sekarang kami memajangnya di rumah dengan penuh kebanggaan.
0 comments:
Posting Komentar