Senin, April 20, 2026

Meningalnya Bapak Cappa; Banyak Doa, Banyak Pintu Maaf

Jenasah Bapak Cappa menuju tempat pemakaman umum di Kampung Tamero'do. Foto; Iqbal Lubis

Rabu 23 Januari 2026, pukul 11.32 kabar duka masuk melalui pesan Whatsapp. “Kakk, meninggal bapaknya Cappa.” 

Saya tersentak. Bulu badanku berdiri. Seketika seluruh tubuh menjadi kaku sesaat. Menarik nafas, lalu berucap ke Tika, istri saya. “Tika, Bapaknya Cappa meninggal. Baru saja,” kataku. 

“Haaaa….,” jawab Tika. 

Kami kemudian berkabar ke beberapa kawan yang mengenal Cappa. Tapi Cappa sedang berada di Bandung mengikuti kegiatan dari tempatnya bekerja. Saya tak tak menghubungi Cappa, karena sedang meraba-raba kekalutannya. Maka melalui Utty - pacar Cappa – saya menanyakan beberapa hal detail. 

Utty bilang, Cappa sudah keluar keluar dari kegiatan dan berusaha mencari tiket pesawat tercepat. 

Tapi pesawat tercepat menuju Makassar berada di pukul 17.00 melalui Jakarta. Sesaat kemudian, Utty bilang, Cappa sudah menuju terminal dan mencari bus menuju Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta. 

Beberapa jam kemudian, saya mengabari Cappa, jika kami menunggunya untuk bisa bersama ke kampung. Dia setuju. Cappa tinggal di Punaga, Desa Seppong, Kecamatan Tammero’do, Kabupaten Majene. Jarak tempuh dari Makassar sekitar 7 jam melalui akses darat. 

Sekitar pukul 21.00 pesawat Cappa mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin. Saya, Tika, dua anak saya, Iqbal, Nopri, dan Utty sudah menunggunya di Bandara. Sesaat kemudian Cappa menelpon di depan pintu utama kedatangan. Saya mengangkat tangan dan melambai agar dia bisa melihat kami. 

Dia berjalan dengan pelan dan kemudian memasang topi petnya. Jalannya pelan. Tidak ada senyum. Matanya bengkang dan sembab. Bergantian kami memeluknya dan tangisnya pecah. Lelaki dengan zodiac Scorpion itu tak bisa lagi menjaga marwah cool-nya. 

Perjalanan panjang kami mulai. Di mobil kami mengerjai Nopri – sahabat Cappa -  yang juga menjadi sahabat kami. 

Nopri dan Cappa sudah berkenalan sejak kuliah. Mereka sohib yang sama-sama soft spoken. Dalam kisah mereka berdua, beberapa kali menuju warung kopi, merokok, menghabiskan kopi, tanpa cerita, atau hanya berbalas senyum kecil. “Aneh juga pertemanan kami,” kata Nopri. 

“Tapi kami memang bicaranya dengan telepati, hahahah,” 

Nopri lelaki yang tingginya sekitar 175 cm itu, adalah pria tampan. Tapi sedang tak punya pacar. Dia jomblo yang beberapa kali ditinggalkan perempuan. Urusan percintaan dialah yang menjadi candaan kami sepanjang perjalanan. 

Cappa kadang mengeluarkan celutuknya atau tertawa pelan. Tapi Iqbal – fotografer paling borro sejagat raya, juga menjadi pelipurnya. Dia membagi cerita soal leluhurnya yang tidak memakan tahu. Atau cara memakan buah salak tanpa membuang kulit tipisnya karena itu; dia menyebutnya sebagai selaput energi. 

Sepanjang jalan kami tertawa. Sepanjang jalan kami terjaga. 

Lalu Cappa yang sedang kelelahan jiwa dan raganya, tertidur pula. Saya bisa merasakan bagaimana kehilangan orang tua. Dua tahun lalu, bapak saya meninggal karena mengidap Leukimia. 

Ketika kami memasuki kampung Wonomulyo, saya beranggapan kalau itu adalah Polman. Iqbal bilang kalau Wonomulyo sudah lewat. Tiba-tiba di bangku depan Cappa nyeletuk, kalau ini Wonomulyo. Kampung yang begitu banyak deretan penjual warung makan sari laut. 

Kata Iqbal, saya cocok tinggal di Wonomulyo, karena nama Jawa saja. Buka rumah makan dengan nama Warung Mas Eko. Ajaib sekali. Tapi itu juga tak keliru, mamak saya memang orang Nganjuk, Jawa Timur. Bapak saya orang Luwu. Saat ini mamak saya juga di kampung menjual gado-gado, yang nama warungnya, Gado-gado Mamak Eko. Laris. Karena gado-gado terbaik memang lahir dari tangan piwai orang-orang Jawa. Itu sama dengan Kapurung, yang lahir dari racikan tangan orang Luwu. 

Cappa yang sudah mulai terjaga kemudian menyebut nama kampung yang kami lewati. Salah satunya adalah Campalagian sebelum masuk ke pusat Kabupaten Majene. 

Ketika kami masuk gerbang Majene, lalu berhenti di depan Bank BRI, Cappa mengambil beberapa uang tunai. Di depan gerbang BRI kami menunggu dan masing-masing sebatang rokok untuk meredakan ketegangan. 

Iqbal yang beberapa hari sebelumnya sudah melakukan CT-Scan medis, mendapati dirinya dengan diagnosa stroke. Sesumbar bilang tak akan merokok lagi. Tapi dia melemah, mungkin satu batang bisa. Maka akhirnya, dia menghisap satu batang rokok bersama kami. 

CAPPA adalah anak pertama dari tujuh bersaudara. Cappa saat ini berusia 31 tahun. Adik keduanya adalah Fahmi. Kemudian Fikri. Tiga lelaki dewasa itu kelak akan menjadikan bahu mereka sekuat bapaknya. 

Sebentar lagi pukul 04.00. Dari arah Majene kami berbelok kanan menapaki jalan beton. Pelan-pelan. Semua terjaga, kecuali dua anak saya; Elang dan Werena. 

Mobil telah mendekat di depan rumah Cappa. Beberapa kerabatnya telah begadang dan menunggu kami terlihat jelas dan berdiri. Ketika mobil mulai begitu melambat, Cappa hendak membuka pintu. Saya menahannya. 

Saya memintanya untuk menahan diri. Bersama, kami memintanya menguatkan diri. Dia sudah memasang topi pet-nya kembali. Ketika mobil benar-benar berhenti, kami memintanya turun. Saya masih sempat berucap; kalau mau menangis, mengangis saja. Jangan sok kuat. 

Entah Cappa dengar atau tidak. Lalu satu persatu dari kami turun dari mobil. Saya masuk ke rumahnya. Cappa sudah memeluk Mamaknya. Adik-adiknya ada di sekitaran jenasah. 

Itu pemandangan yang memilukan. Kata-kata tak akan mampu mengangkap suasana subuh itu. 

Saya mendekat ke jenasah. Nopri, Tika, Iqbal, dan Utty, juga duduk di dekat jenasah. Dan seperti kebiasaan, saya membuka penutup wajah jenasah. Lalu melihat wajah sudah membeku pucat itu. Dingin dan kaku.

Terbayang jelas, ketika Bapak Cappa masih hidup dan beberapa kali mengunjunginya. Dia pria yang hangat dengan otot tangan kuat. Pekerja keras dan seorang petani. Bapak Cappa senang bercanda, tapi tawanya tak pernah lepas, sepanjang ingatanku. 

Menjelang pagi, orang-orang kampung sudah berkumpul. Papan penutup jenasah dibawah liang lahat dikerjakan dengan banyak tangan. Di belakang rumah, para lelaki memasak menggunakan kayu bakar. Mereka semua saling bercanda dalam bahasa setempat, lalu terbahak bersama. 

Lalu tiba lah jenasah akan dimandikan dalam prosesi islam. Liang lahat sudah beberapa jam lalu telah siap. Orang-orang di depan rumah, menunggu prosesi itu sambil melepaskan cerita dan kenangan bersama orang yang meninggal. 

Bagi saya inilah suasana yang penuh kekeluargaan. Suasana yang selalu dan setiap waktu bila menjumpainya selalu membuat saya merinding. 

Ketika jenasah sudah dibalut kain kafan, keluarga terdekat mendekatinya dengan penuh kekuatan dan ketabahan, lalu bersama jenasah itu diangkat ke keranda. Pelepasan jenasah dimulai dan kemudian keranda di gotong ke masjid terdekat untuk kemudian di salat kan lalu diantarkan ke pemakaman. 

Saya selalu ikut mengangkat keranda, jika tak bisa mengangkat tubuh jenasah. Bagi saya ini adalah ritual yang selalu mengingatkan, jika kehidupan dan kekeluargaan adalah jalan terbaik dalam menjalani hidup di muka bumi ini. 

Tempat pemakaman di kampung Cappa, berada di sebuah punggungan kecil. Dan untuk menjangkaunya harus melewati sungai. Liang lahat Bapak Cappa, ditempatkan dipinggiran punggungan menghadap langsung ke sungai dan kampung. 
Ketika keranda sudah diturunkan. Jenasah kemudian diangkat ke liang. Jenasah yang dibalut kain kafan itu, perlahan diturunkan, dimana tiga orang berdiri dibawah liang lahat menjangkaunya dengan tangan. 

Suara-suara keluar dengan begitu taktis; pelan-pelan. Buka ikatan kainnya. Miringkan jenasah menghadap tanah. 

Orang-orang yang mengantar jenasah yang berada di sekitaran liang, mecoba menunduk untuk melihatnya. Lalu semua berakhir. Liang lahat itu kemudian ditutup kembali dengan tanah. Maka; benarlah, semua kembali ke tanah pada akhirnya. 

Tapi, sehari sebelumnya pemakaman, hujan mengguyur Tammero’do. Tanah di pemakaman basah dan lengket. Ketika proses penguburan saya membantu beberapa orang mengangkat papan atau patok yang digunakan untuk menahan sisa tanah galian. 

Nopri, yang terus berada di dekat liang lahat mencoba membantu. Ketika orang-orang mulai kelelahan mencangkul dan mengangkat tanah timbunan ke liang lahat dengan sekop, dia berinisiatif untuk mengganti. 

Tentu saja, Nopri sepertinya tak punya banyak pengalaman membantu prosesi pemakaman dengan tanah penguburan seperti itu. Nopri adalah orang Toraja, yang kebanyakan pemakaman dilakukan di dalam patane atau goa dan dimasukkan dalam peti. Nopri adalah orang Kristen. 

Saya tersenyum melihat Nopri memegang sekop atau menggantinya dengan cangkul. Dan benar saja, beberapa kali dia melakukannya, badannya menjadi loyo dan gemetar. “Penghilatanku jadi hitam. Makanya saya duduk,” katanya. 

“Jadi saya pikir, ai, pingsan ma ini. Lama sekali ka itu perbaiki perasaanku,” lanjutnya. 

Tapi setelah penguburan usai, prosesi terakhir adalah berdoa bersama yang dipimpin seorang pemuka agama untuk keselamatan Bapak Cappa. Setelah itu perlahan orang-orang meninggalkan pemakaman. 

Tapi doa-doa sendiri dari masing-masing orang akan dilakukan. Nopri terlihat khusuk juga menunduk. Apakah dia berdoa atau merenung. Iqbal bilang; Kau baca doa apa tadi Nopri, baca apa? 

“Pasti bertabrakan doa ini,” kata Iqbal. 

Nopri tertawa. Kami yang mendengarkan ikut nimbrung; “Jadi nanti kalau malaikat sudah datang ke Bapaknya Cappa, dia akan membagikan ucapan do aitu. Nah tiba-tiba ada satu doa kritsten yang masuk. Pasti kaget malaikat,” 

“Tapi banyak doa, banyak pintu. Dan itu menandakan almarhum orang yang baik.” 
Pada kalimat terakhir itu, di depan rumah menjelang sore, semua orang tersenyum. Dan sepertinya kami telah sepakat. 

0 comments:

Posting Komentar