Rabu, Februari 16, 2022

Mengenal Gua Sebagai Pintu Air di Kawasan Karst


Irwandi Maulana, adalah anggota Komunitas Pencinta Alam (Kompala) Unversitas Fajar Makassar. Dia mahasiswa jurusan Hubungan Internasional dan memiliki minat pada aktivitas penelusuran gua. Pada Senin, 16 Agustus 2021, saat tim mereka menelusuri kampung Lembang Tallasa, Kecamatan Samanggi, Kabupaten Maros, dia menjadi orang pertama menuruni sebuah gua vertikal.

Mulut gua, tak begitu lebar. Melihatnya dari permukaan, dasar gua seperti lubang hitam yang tidak menampakkan dasar. Di sekitaran mulutnya, beberapa pohon telah tumbang, dengan tanah yang cekung sebagai jalur air. Hawanya begitu sejuk. Batang-batang pohon yang berdiri di dekatnya terasa dingin saat disentuh.

Jika hujan deras, air dari permukaan akan meluncur deras memasuki lubang gua itu. Air itu akan jatuh dengan kedalaman 46 meter. Dasar guanya, dipenuhi tanah yang gembur dan kemungkinan suatu waktu akan kembali runtuh. Ini seperti pintu air menuju perut karst.

Puluhan tahun lalu, sejak anggota Asosiasi Speleologi Pyrénéene (APS),Prancis tahun 1985, menelusuri gua-gua dalam bentang alam kawasan karst maros Pangkep ini. Mereka menulis laporan lapangan dan menyatakan sebagai sebuah bentang alam yang unik dan khas dengan tower karst, koridor karst yang panjang, serta gua-gua dengan ukuran besar dan terpanjang di Asia tenggara.

Sementara itu, laporan akhir tahun 2016 Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung mencatat tidak kurang 257 gua sudah ditemukan di kawasan karst yang ada di TN Bantimurung Bulusaraung yang terdiri dari 216 gua alam dan 41 gua prasejarah. Catatan lain menyebutkan dalam luasan 50 km2 terdapat 14 gua yang memiliki kedalaman lebih dari 100 meter. Salah satunya adalah Leang Pute sebagai gua terdalam di Indonesia untuk pitch tunggal (single pitch) yang mencapai 263 meter di bawah permukaan tanah.

Dan gua terpanjang di Indonesia juga berada di kawasan ini, yakni sistem gua Salukang Kallang yang panjangnya mencapai 12.263 meter. Gua ini juga dinyatakan sebagai gua dengan tingkat keragaman hayati terbanyak di kawasan tropis dunia.

Tahun 2017 ini, Taman Nasional kembali menambahkan data gua sebanyak 193 gua gua horizontal sebanyak 160 gua dan 17 gua vertikal, serta terdapat potensi gua horizontal yang juga memiliki gua vertikal dalam satu sistem sebanyak 15 gua.

Ratusan gua ini, menjadi sangat penting sebagai bagian dari sistem penyimpanan dan penyaluran aliran air. Di bawah perut kawasan karst ini terdapat sungai bawah tanah yang, dan di tebing-tebingnya muncu beberapa mata air yang dapat digunakan sebagai sumber air penduduk sekitar serta fauna lainnya.

Kawasan karst ini mencapai 46.200 ha. Dimana 22.800 ha merupakan kawasanTaman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung. “Tidak bisa selesai. Ini gudang pengetahuan dan petualangan apalagi mengenai gua di Indonesia,” kata Irwandi Maulana.

Ekspedisi menembus kedalaman 1000 meter

Nelfan adalah Ketua Kompala Universitas Fajar. Dia juga menjad ketua tim dalam memastikan semua anggota ekspedisi menelusur dengan aman. Sebelum para penjelajah menuruni perut bumi, dia memasang tali dengan ikatan yang kuat. Memeriksa simpul dan memastikan caribiner terpasang dengan tepat.

“Ini hari ketiga dalam ekspedisi susur gua khusus vertikal. Kami sudah mendapat 141 meter di bawah permukaan tanah. Targetnya adalah 1000 meter,” katanya. 

Untuk apa tim ini melakukan itu? “Untuk mengenalkan gua. Termasuk mengenal ekosistem gua. Selama ini, secara akses, gua horisontal lah yang mudah dijangkau. Nantinya, teman-teman atau para penelusur, akan lebih mudah memilih gua, karena kami sudah petakan,” kata Nelfan.

Peneliti Gua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr. Cahyo Rahmadi, penulusuran gua vertikal menjadi sangat penting untuk lebih mengenal keragaman hayati. “Selama ini, kita tak bisa membandingkan bagaimana biota atau keragaman hayati, antara gua horisontal dan gua vertikal. Karena penelitian untuk gua vertikal masih sangat sedikit,” katanya.

Secara khusus, gua memiliki ekosistem mikro sendiri yang sangat berguna bagi ilmu pengetahuan. Sementara dalam skala luas, gua ibarat sebagai penghubung sistem jaringan air dalam kawasan karst. “Jadi jika gua rusak, atau tertutup, maka itu akan berpengaruh pada sistem hidrologi yang menyambungkannya. Atau jika gua itu menjadi tempat kelelawar, maka secara ekologi akan sangat berdampak pada wilayah sekitar,” lanjut Cahyo.

Di kawasan wisata Rammang-rammang, desa Salenreng, Maros, terdapat gua yang dihuni kelelawar. Kotorannya (feses) yang mengendap di lantai gua menjadi sumber pupuk alami yang sangat penting bari para petani di sekitaran gua.

Di sekitaran kawasan karst Maros Pangkep, gua tidak hanya menjadi pelindung bagi beberapa spesies endemik, namun sangat erat dengan jejak kebudayaan. Gua-gua di sepanjang kawasan ini merupakan situs purbakala yang dindingnya terdapat lukisan tertua dunia pada 45.500 tahun lalu.

“Tak banyak yang menyenangi gua sebagai tempat belajar. Padahal nenek moyang kita dulu adalah penjelajah gua juga. Bukan hanya soal penjelajah laut,” kata Fardi, anggota eskspedisi lainnya. 





 

0 comments:

Posting Komentar