Rabu, Februari 17, 2010

Daeng Mille Kumisnya Seperti Pak Raden



Ada orang kumisnya, tebal. Panjang sampai pipi. Seperti pak Raden, pokonya lebih panjang dari kumisnya bapak. Sudah tua. Namanya Daeng Mille. Dia suka main kecapi, itu'e seperti gitar tapi lebih kecil. Tapi kecapi itu tidak ada lubangnya yang bundar seperti gitar.
Saya menonton Daeng Mille malam Minggu, tanggal 13 Februari 2010 di jalan Perintis Kemerdekaan dekat kampus Unhas. Ada acara ulang tahunnya kelompok Inninawa di situ. Di sana saya ketemu Aan Mansyur. Aan itu suka bikin puisi, biasa pergi ke Jakarta atau Bali diundang. Dibayarkan uang kapal terbangnya. Jadi dia itu orang hebat, nanti kalau ke Makassar kukasi kenal.

Ada lagi namanya Anjar, laki-laki. Gondrong, seperti preman. Tapi dia jago main biola. Baik sekali kalau bicara sama dia. Anjar baru datang dari Papua mengajar main musik sama menari. Dia kasika nomor hp-nya.

Itu malam, ada juga orang bule. Kulupa namanya, tapi dari negara Austria. Hidungnya mancung, itu kulitnya putih tapi ada bintik merahnya. Pake topi, padahal malamji nda ada matahari.


Banyak orang itu malam datang di sana. Saya cerita satu-satu ya.

Mulai dari Daeg Mille. Dia itu sudah tua,tapi tidak tahu berapa umurnya sekarang, na lupaki tahun dan tanggal lahirnya. Kalau ditanya, na suruhki tebak saja. Jadi mungkin sudah 60 tahun.

Daeng Mille tinggal di Bontonompo, Kabupaten Gowa. Dia ke Makassar main kecapi naik motor sama temannya dan istrinya. Urat-urat tangannya sudah kelihatan, hitam, dan tinggi. Dia kalau bicara lucu-lucu. Waktu menyanyi seperti orang bicara, banyak penonton ketawa.

Daeng Mille main kecapi di teras rumah, tempat kelompok Inninawa. Teras itu tinggi, ditambahkan lampu besar putih. Jadi penonton duduk di depan teras rumah, pake kertas koran dan duduk di karpet. Eh, ada juga orang duduk di motor.

Hampirka lupa, kecapi itu alat musik orang-orang dulu. Sebenarnya kalau dengar orang main kecapi enak sekali. Lebih enak dengar kecapi daripada gitar. Daeng Mille main kecapi sejak masih anak-anak. Belajar dari bapaknya. Jadi puluhan tahunmi dia tahu kecapi.

Daeng Mille bilang sama saya, akan main kecapi terus sampai tua dan mati. Daeng Mille juga sudah pernah ke luar negeri karena diundang orang main kecapi. Dia dibayar. Kalau ada waktuku saya mau ke rumahnya jalan-jalan. “Iyo ke rumahmi. Bilang saja, kalau sudah di Bontonompo sama orang-orang atau bertanya di polisi, mana rumah Daeng Mille yang main kecapi. Pasti dia tahu semua orang,” kata Daeng Mille.

Daeng Mille itu orang terkenal. Tapi tidak kaya. Daeng Mille hidup seperti kita. Tapi tidak pernah mengeluh. Dia suka bermain kecapi. Kalau Asti mau main kecapi nanti kuajak jalan-jalan ke rumahnya, sama-samaki cari.

Daeng Mille juga tidak punya hp. Padahal sering sekali diundang banyak orang untuk main kecapi. Pak Gubernur Sulawesi Selatan saja, Syahrul Yasin Limpo pernah undangki.

Daeng Millehidup sederhana. Seperti ceritanya Colombus yang Asti sering baca. Colombus dan Daeng Mille sama-sama orang berani. Colombus berani naik kapal, dihantam ombak besar tapi tidak takut. Makanya dia dapat benua Amerika. Daeng Mille juga berani, nda pernah mengeluh susah. Daeng Mille suka main kecapi. Kalau menyanyi banyak ceritanya. Daeng Mille itu pahlawan musik terdisonal atau musik-musik dulu.

Jadi Colombus dan Daeng Mille sama-sama pahlawan.

Sekarang cerita tentang Anjar. Dia itu umurnya mungkin 35 tahun, gondrong. Suka merokok tapi baik. Seperti preman tapi tidak suka berkelahi. Anjar itu ketua Sanggar Paropo di Makassar.

Anjar punya banyak teman. Dia juga melatih banyak sekali anak-anak SD di dekat rumahnya untuk menari Gandrang Bulo. Itu tari Gandrang Bulo lucu sekali. Anak-anak seperti besarnya Asti, dikasi kumis dan jenggot tapi dari pulpen. Kalau menari tangannya sama kakinya goyang-goyang seperti orang mau lari.

Saya lupa waktu datang kapal pesiar yang ditumpangi Om maskur, namanya Costa Allegra di pelabuhan Makassar anak-anak kecil menjadi tari penjemput. Orang-orang bule yang turun dari kapal, suka sekali. Ada yang foto-foto ada juga yang memeluk anak-anak itu.

Asti pasti tidak tahu bagaimana itu tari anak-anak, karena di Suli sudah tidak ada tari-tarian. Kalau ada 17 Agustus saja. Tapi nda rame.

Kalau Aan Mansyur, orangnya masih muda. Dia pake kacamata. Dia itu puisinya bagus-bagus sering diterbitkan di koran, seperti Kompas dan Tempo. Bayarannya mahal. Mungkin sampai satu juta.

Kalau Aan itu temanku. Saya biasa minum kopi sama dia. Dia suka kirimkanka puisinya kalau ada yang baru. Pokoknya nanti kukasi kenal kalau ke Makassar kalau mauki nah.

Oh iya, masih ingatki Zaenal Beta? Itu orang yang pernahki ketemu di benteng Rotterdam yang ada gambarnya di rumah. Yang jenggotnya panjang sekali, dicacing-cacing. Minggu lalu saya ke rumahnya, saya lihat studio lukisnya. Banyak sekali lukisan.

Ternyata, ada anaknya laki-laki yang masih di SD sudah jago melukis. Rumahnya itu kecil dekat dengan kanal selokan besar. Tapi bersih. Ada juga fotoku sama dia. Nanti kukasi liat nah, kalau Asti ke Makassar.

Eh, Daeng Mille, Anjar, dan Zaenal Beta itu adalah seniman. Jadi kalau Asti mau jadi seniman pasti akan banyak teman.

Sekian..

Salam, Eko Rusdianto.

0 comments:

Posting Komentar