Sabtu, Maret 14, 2020

Batu Tikumba-kumba



*Bermula, dari nenek, cerita ini dikisahkannya sebelum kami tidur. Entah berapa kali, tapi tetap saja saya suka mendengarnya. Hingga pada 2012, saya menulisnya untuk keperluan publikasi di Luwu Timur. Bagi saya kisah ini sungguh menawan. Menceritakan kesalahan orang tua pada anaknya. Bukan tentang anak yang selalu durhaka pada orang tua. Selamat membaca. 

ALKISAH, di Negeri Luwu tinggallah seorang ibu dengan anak perempuannya. Mereka hidup dalam kemiskinan. Rumah mereka hanya sebuah gubuk kecil beratapkan rumbia dengan satu kamar tidur.

Namun orang-orang sekampung selalu menjadikan mereka sebagai teladan kerukunan hubungan ibu dan anak. Setiap pagi buta sang ibu berangkat ke kebun peninggalan suaminya yang sudah meninggal. Sang anak menyiapkan makanan. Kadang mereka hanya makan nasi dengan rebusan daun singkong yang digarami.

Meski demikian keduanya tetap tabah menghadapi hidup dan tidak pernah mengeluh. Ketika sang anak tumbuh menjadi seorang gadis cantik, tabiat sang ibu tiba-tiba berubah. Dia menjadi suka marah-marah. Sang anak tak tahu apa penyebabnya. Padahal dia juga mulai membantu sang ibu di kebun.

Pada suatu pagi yang cerah, dalam perjalanan ke kebun menyusul ibu nya, sang anak bertemu seorang bapak tua. Orang tua itu mengata kan bahwa gadis itu bukanlah anak kandung sang ibu. Dia hanya anak pungut yang ditemukan di hutan di belakang rumah. Mendengar penu turan itu, pecahlah tangis sang anak.

Sambil menangis tersedu-sedu sang anak berlari menuju kebun di mana sang ibu sedang bekerja. Namun sampai di sana air matanya sudah kering. “Kenapa kau terlambat. Dasar anak pemalas, sekarang ambil cangkul dan mulailah mengolah tanah. Jangan berhenti hingga siang nanti,” hardik ibunya.

Belum cukup, sang ibu tiba-tiba melemparkan seonggok tanah ke punggung si anak. “Jangan loyo. Mencangkul itu harus kuat,” perintah sang ibu. Tengah hari, karena merasa sudah capek, sang ibu hendak pulang.

Usai  meneguk air dari botol bambu yang ujungnya disumbat daun pisang, dia berkata kepada sang anak, “Jangan berhenti sebelum pekerjaan itu selesai. Besok aku mau menanam sayur. Paham?!” ”Iya, Bu,” jawab sang anak yang sudah letih. Menjelang sore hari, sang anak kembali ke rumah.

Namun ketika dia hendak makan, ternyata hanya ada rebusan daun singkong. Tak ada lagi nasi tersisa untuknya. Meski demikian sang anak diam saja.  Selesai makan, sang anak menceritakan pertemuannya dengan si bapak tua. Sontak, ibunya langsung marah.

“Kalau memang itu benar kenapa? Aku yang membesarkanmu sampai sekarang. Aku juga tidak tahu di mana orangtuamu. Jadi kau harus bersyukur masih kuberi tempat tinggal,” kata ibunya.

“Ibu, kalaupun saya bukan anakmu, saya sudah menganggapmu sebagai ibu kandung. Aku hanya menceritakan apa yang kualami,” kata anak perempuan itu memelas. Sambil menunduk ia meneteskan air mata.

Setelah hari itu, kehidupan mereka tak lagi rukun. Tiap kali sang anak telat menanak nasi, sang ibu langsung  memukulnya. Pernah kepala sang anak sampai mengeluarkan darah. Puncaknya, suatu hari sang ibu mengusir sang anak.

”Ibu, kasihanilah saya. Saya tidak tahu harus pergi ke mana. Ibulah satu-satunya keluarga saya,” kata anaknya. “Engkau memang anak durhaka, tak tahu diuntung. Terkutuklah engkau. Saya bukan ibumu,” jawab ibunya.

Kini sang anak tidak lagi tidur di kamar, melainkan di teras rumah. Tanpa bantal tanpa selimut. Maka setiap malam anak itu kedinginan dan kemudian jatuh sakit. Namun sang ibu tetap saja menyuruh sang anak bekerja seperti biasa. Suatu sore, ketika sang anak baru saja menyalakan api di tungku untuk menanak nasi, ibunya datang dari kebun. Ibunya marah besar melihat makanan belum siap. 

Dia tidak tahu bahwa anaknya sedang sakit. Segera saja dirampasnya sendok nasi dari tangan sang anak dan dipukulkannya ke kepala sang anak. Darah mengucur. Karena tak tahan, sang anak berlari ke luar rumah.

Sang anak berlari dan terus berlari hingga sampai di tepian sungai yang penuh batu-batu besar. Dia menangis terisak-isak. Tiba-tiba sebuah batu besar di hadapannya terbuka lebar. Batu itu berbicara dan meminta sang anak untuk masuk ke dalamnya.

”Masuklah ke dalam perutku agar penderitaanmu berakhir, Nak” kata si batu. Di rumah, entah teringat  apa, sang ibu menyesali seluruh perbuatannya selama ini. Maka dia pun segera berlari menyusul sang anak.

“Anakku, anakku. Maafkan ibu,” katanya. Melihat ibunya datang, sang anak malah semakin ketakutan.

“Segeralah masuklah ke dalam perutku wahai anakku,” kata batu itu lagi.

Akhirnya sang anak melompat ke dalam batu. Sang ibu pun berteriak, ”Jangan anakku, jangan. Maafkan ibu,” teriaknya.

Sang ibu kemudian berusaha melompat ke arah batu itu menyusul sang anak. Tapi sayang, batu itu sudah menutup dirinya. Di permukaan batu hanya terlihat rambut sang anak yang panjang dan hitam. Sang ibu berusaha keras menarik-narik rambut itu namun gagal. Dia tendang-tendang batu tersebut, namun tetap saja si batu tak mau membuka.

Akhirnya sang ibu hanya bisa menangis meraung-raung. Berhari-hari hari dia tidak makan dan tidak minum. Sepanjang hari dia hanya memeluk batu itu dan menciumi rambut anaknya. Sambil meratap sang ibu bernyanyi: “Ohhh, batu, batu tikumba-kumba mako mae—ohh, batu, batu terbukalah.”

Demikianlah, akhirnya sang ibu meninggal akibat duka dan penyesalan yang mendalam.