Rabu, April 28, 2021

Bom Makassar

Pastor Wilhelmus Tulak memimpin misa Minggu Palma pukul 06.00 pada minggu, 28 Maret 2021. Dia selesai menjelang pukul 08.00 dan dilanjutkan dengan misa kedua, untuk jemaah lain yang dipimpin uskup lain. “Tapi saya harus mendampingi. Jadi selesai jelang pukul 11.00,” katanya.

Ketika jemaah berangsur mulai meninggalkan ruangan, Pastor Tulak pun melangkahkan kakinya menuju rumah, tepat disamping bangunan gereja utama. Di kamarnya, di lantai satu dia membuka jubah ibadah dan hendak sedikit bersantai. Tapi, tiba-tiba sebuah ledakan menggema keras. Dia kemudian menoleh ke jendela dan melihat pecahan kaca berjatuhan dari hotel Singgasana.

Pastor Tulak bergumam. Dia mengira telah terjadi sesuatu di hotel itu, karena beberapa tahun tidak difungsikan. Tapi teriakan muncul dari depan rumah. Menggunakan celana pendek dia berlari menuruni tangga dan keluar rumah.

Dentuman itu adalah bom yang meledak tepat di depan pagar gereja yang dipimpinnya. Dia terhenyak tapi berusaha menenangkan jemaah gereja. Asap mengepul dan beberapa potongan tubuh terlihat menggeletak.

Seorang tenaga pengamanan gereja (Satpam) mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya. Telinganya bedengung. “Dia bukan satpam utama di gereja kami. Tapi dia selalu membantu jika ada perayaan dan ibadah besar. Dari bapaknya, dia sudah menjadi tenaga pengamanan hingga turun ke dia,” kata Pastor Tulak.

Bom itu meledak di pintu gerbang bagian selatan. Pintu utara yang menjadi gerbang utama memang sangat jarang terbuka, kecuali untuk beberapa tamu. Gereja Katedral memiliki empat pintu. Saat ini tiga pintu masih difungsikan; satu pintu dibagian utara yang lebih kecil, biasa digunakan untuk jemaah yang langsung masuk menggunakan mobil, karena tersambung dengan halaman rumah tetangga yang masih jemaah.

Pintu selatan tempat bom meledak itu, adalah pintu kecil untuk jemaah pada umumnya. Bagaimana peristiwa pemboman itu bermula? Pastor Tulak yang berbicara dengan Casmos (Satpam gereja) mengatakan, jika sejak awal dua orang yang berboncengan dengan menggunakan motor metic plat DD 5984 MD telah berada di depan gereja beberapa saat.

Pengendara itu memarkir motornya di bagian utara gereja, berhadapan dengan gerbang utama. Casmos merasa pengendara itu mulai mencurigakan dan mengawasinya dari balik pagar. Ketika pengendara itu menghampiri gerbang selatan, Casmos menghampiri dan memintanya untuk tidak masuk ke dalam halaman gereja.

Tapi siyalnya, pengendara itu meledak. Kepolisian menilai, dua orang pengendara yang berboncengan itu adalah pelaku bom bunuh diri yang berafiliasi dengan kelompok teror Jemaah Ansharut Daulah (JAD).

Di tempat terpisah, sekitar 100 meter dari lokasi ledakan, Yosia (29 tahun) yang bekerja di Cafe Pelangi sedang makan siang. Beberapa suapan telah masuk ke tenggorokannya, dan mendengar dentuman keras. “Pang pang, itu dua kali ledakan. Kaget sekali, pantat saya terangkat dari kursi,” katanya.

Yosia (29 tahun)

Yosi begitu sapaan akrabnya, langsung berlari keluar ruangan. Dia berlari menuju tempat ledakan, kepulan asap sudah membumbung, dan bau menyengat. “Mungkin bau dari asap bom itu, kayak asam. Tapi di sana itu amis juga, mungkin karena ada darah orang,” katanya.

Yosi, bergidik melihat dampak ledakan itu. Potongan tubuh manusia dilihatnya dengan jelas. Ada potongan kaki. Dia juga melihat paha dan beberapa daging yang seperti tercabik. Di trotoar, empat orang sedang berdarah. Satu perempuan paruh baya, duduk dengan meluruskan kakinya dengan luka di bagian kening. Tiga lainnya masih berdiri.

Dia berlari membopong perempuan itu, beberapa orang meneriakinya untuk menjauh, khawatir masih ada bom susulan.  Tapi Yosi tak peduli, saat perempuan itu diraihnya, seorang pengendara motor melintas, lalu menahan untuk mengantar ke rumah sakit. “Pengendara itu tidak mau. Saya marah sekali. Jadi ibu itu saya papah sampai depan minimarket dan meminta tolong ke orang untuk mengantarnya ke rumah sakit,” lanjutnya.

Pada saat yang sama sekitar 300 meter dari pusat ledakan, pukul 09.20 Armin Hari (42 tahun) telah usai menjalani Swab Test Anti Gen di klinik Kimia Farma jalan Hasanuddin, untuk keperluan penerbangan pukul 16.00 menuju Jakarta.

Petugas medis menyatakan, hasil swab itu akan diketahui sekitar 2 jam selanjutnya. Armin lalu memutuskan kembali ke penginapan. Di tempat parkiran, dia membakar rokok dan berbincang dengan petugas parkir kendaraan, lalu memesan ojek online. Saat sedang bercerita, tiba-tiba suara dentuman terdengar. Petugas parkir itu mengira hanya ledakan dari trafo listrik.

Pukul 09.22, ojek online sudah datang. Dia meninggalkan klinik kesehatan. Di perjalanan orang-orang mulai terlihat panik dan berucap bom. Dia meminta pengendara ojek itu, berbelok dan melihat kerumunan. Di dekat lokasi kejadian, Armin melihat rontokan gigi dan beberapa organ dalam tubuh yang terburai. “Saya kira itu hati atau paru-paru. Tapi seperti itu,” katanya.

Di tempat itu, di lokasi kejadian itu lah dia melihat Yosi bersama pegawai minimarket berusaha menolong seorang perempuan paruh baya. “Belum ada polisi yang datang. Masyarakat di sekitar lah yang saling bantu,” katanya.

Malam setelah peristiwa ledakan bom yang menewaskan dua orang – terduga pelaku – Kepala Kepolisian Indonesia (Kapolri) Listyo Sigit Prabowo menggelar pernyataan secara terbuka. “Kami juga sudah mendapatkan laporan, terkait identitas pelaku. Kita sudah mendapatkan dengan inisial L. Yang bersangkutan merupakan kelompok beberapa waktu lalu telah kita amankan. Kelompok ini, bergabung, atau terkait dengan kelompok yang pernah melaksanakan kegiatan operasi di Jolo, Filipina tahun 2018,” katanya.

Pada Januari 2021, kepolisian telah menangkap 20 orang terduga pelaku teror dari jaringan JAD di Perumahaan Villa Mutiara Biru Makassar. Dua orang ditembak mati dan lainnya digelandang ke Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia. Pihak kepolisian juga mengindentifikasi jika JAD Makassar, berperan untuk melakukan pengiriman dana ke Filipina yang menjadi simpatisan ISSIS.

“Mereka – pelaku bom Katedral Makassar -  bagian dari itu. Dan inisial serta data-datanya, sudah kita cocokan dan memang sesuai,” kata Listyo Sigit Prabowo.

Sejarah Katedral

Gereja Katedral untuk Katolik di Sulawesi Selatan dibangun tahun 1537. Ketika dua orang putra bangsawan dari kerajaan Goa memeluk ajaran Katolik. Dua orang itu kemudian diberi nama Antonio dan Muguel.

Sebelumnya tahun 1525 tiga orang misionaris dari Portugis yakni Pastor Antonio do Reis, Cosmas De Annunciacio, dan Bernardinode Marvao berkunjung ke Makassar. Hingga tahun 1548 baru kemudian seorang pastor menetap sementara yakni Vicentc Vegas.

Gereja Katolik Katedral atau gereja Kudus Yesus didirikan sekitar Tahun 1898, sebagai gelombang  ke dua kehadiran Katolik di Makassar. Awalnya gereja ini bernama Roomsch Katholiekc Kcrk. Gereja ini merupakan gereja tertua di Sulawesi Selatan, yang menjadi milik Keuskupan Agung Makassar.

Gereja ini dibangun oleh arsitek utama dari perwira zeni bernama Swartbol dengan gaya arsitektur gaya gothik. Dan pengerjaannya dilakukan oleh pemborong Cina bernama Thio A Tek. Pada tahap awal pembangunan bangunan ini memiliki 20 menara kecil dari besi sebagai assesoris dipinggir atap gereja. Kemudian pada tahun 1923 seorang dermawan bernama Mr. Scharpff menyumbangkaan tiga buah lonceng dan dipasang dimenara besi di bagian selatan gereja.

Sore hari pada pada Oktober 1943 ketika Makassar di bom dari udara oleh pasukan Jepang, salah satu bomnya jatuh menimpa bagian belakang wisma frater.





* Versi liputan ini dapat pula di baca di Aljazeera: 



0 comments:

Posting Komentar